
"Kau tak ingin tahu alasanku meninggalkanmu mas?"
Aku memberikan satu cup teh hangat pada juna. Sepagi ini juna sudah datang menemuiku. Padahal hari ini aku harus bekerja.
"Kau sudah kembali mara, aku lebih tertarik dengan alasan apa yang membuatmu ingin kembali?"
"A..aku....."
"Aku akan mendengarkanmu mara, dan menerima apapun alasanmu."
"Mas, kenapa kau selalu begini?"
"Selalu?? Apakah aku selalu begini?"
"Mas, kau terlalu baik bagiku."
"Lalu..."
"Mas juna, kau terlalu baik juga terlalu sabar. Apakah kau tak bosan selalu bersikap seperti itu?"
"Apakah aku membosankan bagimu mara?"
"Mas, bukan begitu maksudku...."
"Aku akan merubahnya jika kau tak suka."
"Jangan, jangan merubah apapun yang ada pada dirimu demi orang lain mas."
"Lalu?..."
"Mas, kau selalu saja begitu tak pernah berubah.."
"Ya, aku selalu begini dan takkan pernah berubah mara. Lalu bagaimana denganmu? Apakah perasaanmu terhadapku sudah berubah?"
Deg!.....
Dag dig dug dag dig dug dag dig dug...
Jantungku berdegup tak karuan, mengapa perkataan juna bisa mengganggu pergerakan jantungku?
"Mas, Untuk perasaanku padamu..."
"Mara, aku sudah tahu. Tak perlu dijelaskan jika itu menyulitkanmu. Saat ini yang terpenting adalah kau kembalilah dulu untuk ibu dan juga randy. Setelah itu, semua keputusanmu akan aku terima."
"Terimakasih mas.."
Juna mengangguk pelan, begitu lurusnya pemikiran juna. Sedewasa inikah seorang Arjuna wiranata? Dia tak pernah memaksakan, dia bisa menerima apapun keadaannya nanti. Dia tak pernah mengeluh atau mengulang hal yang telah terjadi. Pandangan dan pemikirannya selalu mengarah kedepan. Dia sangat baik, dan terlalu baik untukku..
"Mas, apa yang harus aku jelaskan manti pada ibu?"
"Ibu takkan meminta penjelasanmu mara.."
"Kenapa kau yakin sekali?"
"Kau mau bertaruh?"
"Baiklah, apa taruhannya mas?"
"Jika aku menang, kau harus menuruti semua keinginanku. Dan jika aku kalah, maka aku yang akan menuruti keinginanmu."
"Apakah ini menyangkut perasaan?"
"Ya terserah, menyangkut apapun itu."
"Baiklah, jika aku menang aku akan memintamu untuk meninggalkanku bagaimana?"
"Baiklah.. Itu sudah menjadi hakmu."
"Kau lurus sekali mas, seakan kau senang jika meninggalkanku."
__ADS_1
"Aku hanya tak ingin memaksa siapapun untuk tetap berada disisiku mara.."
"Jika aku terus ingin berada disisimu bagaimana?"
"Itu adalah keberuntungan untukku. Dan aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi. Akan ku nikahi kau sekarang juga."
Mendengar juna berkata seperti itu, aku hanya membisu. Tak ada kata-kata yang harus ku ungkapkan lagi padanya.
Pagi ini aku dan juna pergi mengelilingi kota. Aku sudah meminta izin cuty selama dua hari pada pak dika. Kebetulan pak dika mengizinkanku.
Cekrek!!
Juna mengarahkan kamera ponselnya.
"Kau memotretku lagi?" Tanyaku sembari meliriknya..
"Coba lihat ini, lucu sekali.." Juna menunjukkan hasil potretannya kepadaku.
"Kebiasaanmu ternyata masih sama mas.."
"Jika kebiasaanku itu menyangkut dirimu, aku takkan merubahnya mara.
"Emmm..." Aku hanya mengangguk perlahan menanggapi ucapan juna.
"Besok aku akan menemuimu lagi, sudah kau fikirkan mara?"
"Tunggu saja besok. Bukankah kau memberi waktuku selama dua hari?"
"Emm, baiklah. Jangan sampai kau salah memilih mara. Itu harapanku..."
"Tunggu saja besok mas..."
"Aku tak sabar menunggunya mara.."
***
🍒Asmara
"Sepagi ini mas?" Aku membukakan pintu untuk juna.
"Apakah harus malam?" Juna menggedikkan bahunya menatapku.
"Terserah padamu, kau yang akan menungguku bukan?"
"Emm, baiklah aku akan kembali lagi nanti malam.." Juna melangkahkan kakinya hendak keluar dari apartementku.
"Mas...." Aku menarik ujung jacket yang dikenakan juna pagi ini hingga langkahnya pun terhenti.
"Ada apa mara?"
"Masuklah..." Aku mempersilahkan juna kembali masuk.
Juna menatap kedalam ruangan apartementku dengan saksama. Matanya membulat menyaksikan ada beberapa koper sudah berjejer.
"Kopernya mau dijual?" Juna sepertinya meledekku.
"Hmmm, dibuang!" Jawabku kesal.
"Terimakasih mara, apakah ini pertanda jika kau..."
"Ya, aku akan ikut pulang bersamamu mas."
"Mara, kau serius???"
"Apakah wajahku terlihat seperti bercanda?"
"Baiklah, aku akan memesan tiket pesawat sekarang." Juna meraih ponselnya.
__ADS_1
"Tunggu mas, kau bahkan tak bertanya padaku." Aku mencoba menahan tangan juna.
"Tak ada yang harus kupertanyakan mara.." Juna menatap mataku dengan dalam.
"Aku sudah memesan tiketnya, ayo kita berangkat sekarang juga ke bandara." Aku melepaskan tanganku yang tadi sempat memegang tangan juna.
"Mara, benarkah?? Tapi barang-barangku masih tertinggal di hotel." Juna melemparkan senyum tipisnya lagi.
"Baiklah, kita ke hotel sekarang.."
"Mara?? Kau mengajakku ke hotel?"
"Aku akan membantumu membereskan barang-barangmu! Jangan berpikiran macam-macam! Ayo mas, kita tak punya banyak waktu." Aku bergegas melangkah keluar, terus berada bersama juna membuat perasaankuntak menentu.
Juna mengikuti langkahku, perasaannya sangat senang hari ini. Meskipun aku tak mengatakan akan kembali lagi padanya, setidaknya aku kembali untuk ibu dan randy.
Kami melangkah bersama, juna membawa dua koper milikku. Sementara aku hanya membawa tas selempang kecil yang melingkari tubuhku.
✈✈✈
Didalam pesawat, entah ini kebetulan atau rencana tuhan. Aku dan juna duduk bersebelahan, sedangkan agatha dan byan duduk bersebelahan pula. Kami berempat ternyata berada didalam satu pesawat yang sama.
Terlihat juna sangat santai menghadapi situasi ini, namun aku merasa tak nyaman. Aku hanya bungkam, sesekali mengarah ke jendela menatap langit-langit yang tertutup awan putih cerah.
Tak ada percakapan apapaun diantara kami. Hingga tak terasa kami telah tiba.
***
Aku bersimpuh dikaki ibu memohon maaf padanya. Ibu hanya merespon dengan tangisan. Ibu semakin terisak sehingga membuatku juga semakin merasa bersalah.
"Bu... Maafkan mara.."
Dengan wajah penyesalan, aku berlutut di kaki ibu.
"Sudahlah nak, jangan terus meminta maaf. Kamu sudah kembali, ibu sangat bersyukur..."
Ibu memegang kedua pundakku, lalu memelukku dengan erat.
Sementara randy, dia pun ikut terbawa suasana. Terlihat wajah bersihnya dialiri air mata haru. Hingga ikut memeluk aku dan ibu.
"Nak juna, terimakasih telah membawa asmara kembali.." Ibu menatap ke arah juna yang matanya juga sudah kian memerah.
Juna hanya mengangguk pelan tanpa suara.
"Kak juna naik pesawat yaa?" Randy membuka suaranya.
"Iya sayang, kakak pulang dulu yaa.." Juna meraih puncak kepala randy lalu mengacaknya pelan.
"Kakak hati-hati, terimakasih sudah jemput kak mara." Hingga randy memeluk tubuh juna.
"Beristirahatlah mara, ibu aku pamit pulang." Juna berganti mengarah menatap ibu kemudian menyalami tangannya.
Ibu berterimakasih, randy pun juga berterimakasih pada juna. Namun aku belum mengucapkan terimakasihku padanya. Ku tatap wajah juna disana yang telah memancarkan kebahagiaan.
Rasanya untuk berterimakasih pun tak cukup untuk membalas kebaikan juna padaku juga keluargaku selama ini.
Untuk saat ini, aku hanya bisa menatap punggung juna yang kini kian menghilang dari pandangan.
"Juna sudah terlihat bersemangat lagi mara, ibu mohon jangan pernah menyakiti hatinya lagi." Ucap ibu memegang punggung tanganku.
"Bu, aku menyesal..."
"Setelah kepergianmu, untuk tidur pun tak ada waktu bagi juna. Ia hanya memikirkan dan terus mencarimu.. Kau lihat bukan tubuh kekarnya yang kian mengurus? Ibu juga tahu dia hanya makan satu kali dalam sehari, itupun harus dipaksa oleh bu aisyah".
"Benarkah bu?"
"Hidupnya penuh dengan kekacauan nak, kau oasti dapat merasakan sakit yang ia alami selama kepergianmu. Maka dari itu, tuntaskan urusanmu padanya. Jangan mengecewakannya lebih dalam lagi, kasihanilah dia mara." Ibu menepuk pelan pundakku.
"Iyaa bu, mara akan melakukannya." Jawabku.
__ADS_1
"Kau masih sangat mencintainya bukan?" Mata ibu menatapku dalam.
"Sangat bu, aku sangat mencintainya. Bahkan rasa ini kian bertambah untuknya bu.." Aku berhambur kepelukan ibu. Hingga tangisan haru diantara kami pun terjadi.