
Byan melangkah menuju kamarnya, sepertinya ia butuh mandi. Tubuhnya terasa lengket karena habis mengeluarkan tenaga seperti berolah raga saat menuju mini market dengan tergesa-gesa tadi.
Di lihatnya ke arah meja makan, agatha sedang duduk meneguk sebotol air mineral dingin yang diambil dari lemari es.
"Sangat haus?" Tanya byan mengagetkan agatha.
"Mas?? Em....iiyaa mas.." Agatha menggerak-gerakkan tubuhnya kaku. Ia menyadari bathrobe yang di pakainya sungguh mengganggu. Mengganggu pandangan byan pastinya!
"Apa mas mau minum juga?" Tanya agatha tanpa menatap byan.
"Tidak, aku hanya ingin memakanmu!" Byan terus memandangi agatha tanpa henti.
Mendengar perkataan byan, agatha meraih kantung belanjaan tadi yang masih berjajar di meja. Agatha meraih sebuah spatula kayu dan memegangnya dengan kuat.
"Jika mas ingin memakanku, akan ku pukul pakai ini!" Agatha beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju ke kamar tamu dengan sebuah spatula kayu yang terus di arahkan pada byan sebagai senjatanya..
"Hahahahahahahaha hahahahahahh...!!" Byan tertawa menyaksikan tingkah konyol calon istrinya itu. Byan menggeleng-gelengkan kepalanya sembari memperhatikan istrinya berjalan mundur hingga masuk ke dalam kamar tamu.
"Sangat manis, dasar agatha...." Lirih byan sembari menuju kamarnya.
Kini agatha sudah berada di dalam kamar, ia sudah merasa aman.
Jangan sampai byan mendekatinya lagi, mengingat sentuhan byan kemarin dan siang tadi sangatlah mengganggunya. Hatinya ingin menolak sentuhan itu, namun tubuhnya berkata lain! Agatha takut mereka akan khilaf jika terus bersama. Agatha memutuskan besok ia harus segera kembali ke jakarta.
***
Setelah selesai mandi, byan keluar kamar dan menuju ke dapur untuk minum. Di lihatnya masih banyak kantung belanjaan di atas meja. Byan pun segera membereskannya. Memasukkan sayur dan buah ke dalam lemari pendingin.
Serta merapihkan meja makannya tersebut. Sudah jam 08.05pm, byan baru ingat jika mereka belum makan malam.
Byan menuju ke kamar tamu untuk mengajak agatha keluar mencari makan.
Tokk... Tok....! Byan mengetuk pintu, namun tak ada respon dari agatha.
"Tha? Ayo makan, kita cari makan keluar saja..!" Masih tak ada jawaban dari agatha.
"Agatha? Aku lapar..." Rengek byan beralasan.
Byan sungguh tak sabar, secara otomatis tangannya membuka knop pintu kamar.
Ceklekkkk!!
Di lihatnya agatha sudah berbaring miring di tempat tidur, dengan setelan piyama celana pendek merah muda bermotif polkadot. Sangat menambah tampilan agatha semakin feminim. Meskipun agatha sedang tidur.
Byan menatap lekat wajah agatha yang sedikit tertutup beberapa helai rambut kecokelatannya, Byan mendekat ke arah ranjang tidur agatha. Semakin dekat, semakin terlihat paha putih mulus agatha, byan menelan salivanya lagi. Dengan cepat byan meraih selimut dan menutupi setengah tubuh agatha.
"Tha? sudah tidur?" Tanya byan lirih..
Agatha masih saja tak merespon, mungkin agatha kelelahan.
Disingkirkannya rambut agatha yang menutupi wajahnya, namun byan begitu terkejut melihat satu pemandangan lagi!
"Ya tuhan.... Agatha,..." Byan menelan salivanya lagi.
Terlihat belahan d**a agatha yang sedikit menonjol. Byan semakin mendekatkan wajahnya pada agatha hingga bibirnya menyentuh wajah agatha.
Cupp!! byan mengecup pipi halus agatha. Entah keberanian dari mana sehingga byan melakukan itu.
"Maafkan aku tha..." Byan berkata lirih, byan mengarahkan bibirnya pada hidung mungil agatha, ia mencoba mencium puncak hidung agatha, Cupppp.... Byan berhasil, terlihat agatha masih saja tidur. Terasa jantung byan semakin berdegup kencang. Byan segera mengangkat wajahnya, ia hendak bangkit dan meninggalkan ranjang tidur agatha. Namun, sepertinya hatinya masih ingin disini. Byan menginginkan agatha lagi, kini byan mendekati agatha kembali.
"Mengapa kau begitu candu bagiku agatha??" Byan mengusap pelan puncak kepala agatha, byan mendekatkan bibirnya perlahan pada bibir agatha hingga kini bibir keduanya menempel.
__ADS_1
Cupppp.... Byan mengecup bibir agatha perlahan, agatha membuka matanya merasakan hal aneh pada tubuhnya.
"Mas byan...." Dengan suara parau agatha membuka matanya lalu memejamkannya kembali.
"Tha, sudah bangun?" Jawab byan gugup, sedikit menjauhkan wajahnya beberapa senti dari agatha.
"He'um.." Agatha masih dengan mata terpejam.
"Tha, izinkan aku......" Byan langsung meraih dagu agatha dan mengecup bibirnya kembali.
Cuppppp..... Byan masih menginginkannya.
Hingga byan memberanikan diri untuk ******* pelan bibir agatha, byan ******* bibir atas agatha perlahan, tangan byan menyentuh tangan agatha, mendapat respon baik dari agatha byan melanjutkan aksinya. Kembali bibir byan ******* pelan bibir atas agatha, berganti lagi ke bibir bawahnya. Kini byan telah mencicipi rasa manis bibir agatha..
Kini Agatha membalas ciuman bibir byan, dengan cengkraman tangan keduanya yang begitu kuat, agatha ******* bibir atas byan yang juga dibalas ******* dari byan..
"Eugh...Mas..." Agatha menahan d**a byan dengan tangannya. Agatha menghentikan cumbuan byan.
Melihat reaksi agatha, byan tetap ingin melanjutkannya. Sungguh byan belum puas mencumbunya. Byan kembali menyentuh bibir agatha dengan bibirnya.
"Mas byan..." Terdengar suara agatha yang masih parau.
"Tha, izinkan aku sebentar. Hanya ini saja, aku janji..! Byan berkata lirih. Byan kembali ******* bibir agatha, secara berulang byan melakukannya hingga kali ini agatha mendorong byan dengan kuat.
"Mas, sudah..." Agatha mencoba bangun dari tidurnya.
"Tha, maafkan aku. Tapi sungguh aku menginginkannya lagi dan lagi!" byan meremas rambutnya dengan kedua tangan.
"Mas, mungkin setelah menikah mas boleh melakukannya sesuka hatimu, tapi kita belum menikah mas." Agata berdiri dari tempat tidurnya membelakangi byan.
"Baik, aku akan segera menikahimu tha.." Byan menunduk, merasa bersalah.
"Untuk apa kau menikahiku mas?"
"Hanya menginginkanku? bukan mencintaiku?"
"Tha, aku berjanji aku akan segera menikahimu. Untuk sentuhanku yang tak sopan ini aku minta maaf.."
"Hmm, tak perlu menikahiku mas sejak awal kau tahu perihal perjodohan kita, kau yang begitu menolakku, aku tak ingin kau menyesal nantinya.. Bagiku pernikahan sangat penting dan bukan main-main, aku hanya ingin satu kali seumur hidup, aku juga ingin mencintai dan dicintai dengan pasangan hidupku."
Seketika agatha meneteskan air matanya lagi. Sekarang ia tahu, byan hanya mendekatinya karena nafsu ya jelas byan hanya menginginkannya bukan mencintainya.
Agatha meraih koper dipojok ruangan kamar, ia mengambil beberapa pakaiannya yang rergantung di dalam lemari.
"Tha, kamu... Kamu mau apa?" Byan menghampiri agatha.
"Aku hanya mengemas barang-barangku." Sembari menangis pelan, agatha memasukkan pakaiannya kedalam koper.
"Tha, aku minta maaf... Aku khilaf tha. Jangan pergi!" Byan memohon dengan mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Aku hanya mempersiapkan barang-barangku mas, tenang saja aku tidak akan pergi malam ini. Tapi besok pagi!" Agata menarik nafasnya panjang.
Disekanya airmata yang terus membasahi pipinya.
"Tha? Jangan pergi dulu, bahkan kamu belum mengelilingi kota jogja? bukankah itu keinginanmu?" Byan mencoba merayu agatha.
"Lupakan itu mas. Itu hanya sebuah keinginanku, bukan prioritasku bukan juga hal yang aku cintai!" Tegas agatha. Agatha ke luar kamar meninggalkan byan sendirian.
Beberapa menit agatha tak kembali ke kamar, byan merenungi semua kata-kata agatha yang membuatnya semakin pusing.
Byan memutuskan keluar kamar dan mencari agatha, dilihatnya agatha sedang menyiapkan makanan di meja.
__ADS_1
Melihat kedatangan byan, agatha merasa canggung.
"Mas, makanlah dulu. Maaf aku hanya membuat nasi goreng sosis telur, karena hanya ini makanan yang bisa dikerjakan dengan singkat."
"Terimakasih," Byan tak banyak berbicara, ia masih bingung mengahadapi sikap agatha. Byan masih memikirkan cara yang tepat.
Byan duduk di seberang agatha, terlihat sepiring nasi goreng yang menggugah seleranya.
"Sudah lama sekali aku tak menikmati nasi goreng." Dengan cepat byan menyuap sesendok nasi ke mulutnya.
"Emm.." Agatha membalas singkat.
"Enak, kamu sangat berbakat memasak! Mengapa kamu tidak menjadi koki saja tha?" Byan menjadi sedikit cerewet.
"Aku tak suka profesi koki mas."
"Oh, tapi tha kamu sungguh pandai dalam memasak."
Agatha hanya menyunggingkan senyuman yang sedikit terpaksa.
"Tha, untuk soal tadi aku....."
"Sudahlah mas, tak perlu dibahas lagi."
"Tapi tha, ini harus di bahas.."
"Lalu??"
"Lalu... Lalu kita akan segera menikah!"
"Hmmmm.."
"Tha? Aku serius!"
"Ya aku percaya mas"
"Tapi wajahmu berbeda!"
"Lalu, wajahku harus bagaimana mas?"
"Agathaa!!! Hentikan!!!!" Byan meninggikan nada bicaranya dengan penuh emosi.
"Agatha, jangan memancing emosiku! Aku minta maaf." Byan merendahkan nada bicaranya. Dilihatnya agatha sudah menangis, beberapa kali agatha mencoba menyeka air matanya namun tetap saja air itu mengalir tak henti.
Agatha merasakan sesak di dadanya, sungguh sakit diperlqkukan begini oleh byan. Lelaki yang begitu dicintainya..
"Tha, aku tidak bermaksud menyakitimu.. Aku akan menikahimu tha?" Byan meninggalkan kursinya, ia mengarah ke kursi agatha.
"Mas kau yakin Kan menikahiku?"
"Aku sangat yakin agatha.. Kita akan segera menikah!"
"Kau menginginkanku mas?"
"Ya, aku sangat menginginkanmu agatha..." Byan mencoba meraih wajah agatha yang dibasahi airmata, namun agatha menepis tangan byan.
"Tapi kau tidak mencintaiku mas!" Sambung agatha.
Degggg!!! Perkataan agatha membuat jantung byan berhenti berdegup sedetik, dua detik, tiga detik! Ternyata jantung byan masih berdegup.
"Iya kan mas? Kamu tak mencintaiku? Kamu hanya menginginkanku mas.. Jika kamu hanya menginginkan seorang wanita, kamu bisa menemukannya di luar sana banyak wanita lain yang lebih...."
__ADS_1
Agatha menarik nafasnya panjang, byan masih terpaku diam membisu seperti batuuu KAKU tak bisa bergerak!
Agatha meraih piring dan meletakkan di wastafel, kali ini mood seorang agatha sedang buruk. Hingga ia memutuskan untuk meninggalkan byan.