Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Koma


__ADS_3

Satu minggu, byan belum juga sadar dari komanya. Kondisinya kali ini belum ada peningkatan yang signifikan. Menurut dokter, byan sangat banyak kehilangan darah, di kepalanya pun terdapat benturan keras hal itu bisa mnyebabkan lamanya kesadaran byan.


Andryani dan malik terus saja merafalkan doa untuk anaknya, tanpa henti mereka bergantian menemani dan menjaga byan.


Malik yang merasa geram karena merasa byan seperti ini akibat ulah dari steven. Ia pun mengerahkan pasukannya untuk mencari keberadaan steven. Namun, anak buah malik belum juga mengendus keberadaan steven. Sepertinya steven benar-benar sangat melindungi dirinya agar tak dapat dilacak oleh siapapun.


"Abi, apakah sudah ada kabar?" Tanya andryani kepada suaminya.


"Belum, umi yang sabar..." Jelas malik.


"Abi, apa tidak sebaiknya kita menghubungi mara?" Tanya andryani pada suaminya.


"Mara? Kenapa umi? Mara dan byan sudah bercerai..." Malik merasa ini tak ada hubungannya dengan mara.


"Abi, justru karena itu. Umi merasa bersalah pada mara. Mungkin itu juga yang dirasakan byan, dia sangat bersalah pada mara. Cobalah hubungi dia, mungkin dengan meminta maaf padanya dapat mengurangi beban byan bi.." Andryani tiba-tiba merasa memiliki salah pada asmara.


"Abi akan mengunjungi mara, umi jangan khawatir.." Ucap malik menenangkan istrinya.


"Terimakasih bi.." Ucap andryani.


"Sadarlah nak, abi janji akan menemukan bintang secepatnya untuk menemuimu.. Kau harus semangat byan, hanya kamu yang kami miliki saat ini..." Malik terus memandangi byan yang sedang terbaring lemah. Byan saat ini sedang koma di atas brankar rumah sakit. Ia merasa kasihan dengan keadaan anaknya saat ini. Hingga tak terasa air matanya pun jatuh menetes.


Malik meraih ponselnya, ia menghubungi orang kepercayaannya untuk terus melacak keberadaan steven. Sementara itu, malik melajukan mobilnya menuju kediaman asmara.


***


"Assalamualaikum....." Malik terus mengetuk pintu rumah asmara. Beberapa kali ia lakukan itu, namun hasilnya nihil. Tak ada sautan apapun dari dalam rumah.


"Permisi pak, ada apa ya?" Tanya seorang ibu-ibu berdaster yang yengah lewat kepada malik.


"Oh, maaf bu.. Saya ingin bertemu dengan bu kamila dan asmara." Jelaa malik.


"Memangnya bapak tidak tahu ya?" Tanya ibu berdaster.


"Ada apa bu? saya tidak tahu apapun.." Malik merasa tak mengetahui apapun.


"Bu kamila dan keluarga kan sudah tidak tinggal disini lagi. Mereka sudah pindah seminggu yang lalu." Jelas sang ibu berdaster pada malik.


"Pindah? Kemana ya bu?" Tanya malik penasaran.


"Kurang tahu pak, pindahnya mendadak. Tetangga tidak ada yang tahu." Ibu berdaster menjelaskan.


"Mendadak?" Malik membulatkan matanya.


"Ya pak, kalau begitu saya permisi dulu..." Ibu berdaster pun berlalu meninggalkan malik.


"Baik bu, terimakasih infonya.." Ucap malik berterimakasih.

__ADS_1


"Ya pak, sama-sama."


Asmara dan keluarganya pindah? Mendadak? Seminggu yang lalu? Ada apa ini? Apakah terjadi sesuatu pada mereka? Pindah kemana asmara? Hmm....


Banyak pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di fikiran malik. Ia merasa ada sesuatu yang terjadi pada keluarga mara. Malik memutuskan untuk mencari tahu semuanya.


***


"Bintang.... Jangan berlari seperti itu, nanti kamu akan jatuh nak..." Aku mengejar bintang yang sudah sangat lancar berjalan. Bintang berlari memutari kursi di ruang tamu.


Sementara bintang semakin dikejar, ia semakin berlari kencang.


"Bintang.... Sini sama om..." ucap steven yang baru saja tiba dari kantor. Bintang pun datang dan berhambur memeluk steven dengan tawanya yang meledak.


"Bintang..." Aku pun merasa heran dengan bintang dan steven. Mereka berdua terlihat sangat lengket tak terpisahkan.


Bahkan ketika steve ingin pergi ke kantor, bintang harus berdrama dahulu. Ia merengek bahkan terkadang menangis ingin ikut dengan steven.


Drtttt....... Drtttt... Ponsel steven bergetar, ia pun segera meraih ponselnya yang ada didalam saku celana.


"Hallo..." Steven menyapa sang penelpon yang tak lain adalah ibu saras orang kepercayaan afrizal yang ditugaskan untuk mengelola perusahaan di jogja.


[....]


"Apa?!!!!!!! Bagaimana bisa??" Steven mendadak terkejut mendengar penjelasan saras.


[....]


Aku yang melihat steven gelisah pun langsung memberanikan diri untuk menanyakan perihal yang terjadi.


"Steve? Ada apa?"


"Pabrik di jogja terbakar mara, aku harus segera kesana." Ucap steve, ia menurunkan bintang dari gendongannya.


"Apa? Bagaimana bisa?" Aku pun mendekat kearah steve.


"Aku tidak tahu, saras sedang menyelidiki ini semua. Aku akan berangkat sekarang mara! Jaga bintang baik-baik." Ucap steve dengan memegangi keningnya.


"Steve, apakah sebaiknya jika bintang ikut saja. Aku khawatir dia akan terus mencarimu.." Aku mencoba memberi saran pada steve.


"Tidak! Kalian tetap disini!" Namun steve menolak saran yang kuberikan.


"Tapi steve...."


"Sekali aku bilang tidak, maka itu tidak! Jangan pernah membantahku mara!!!" Steve dengan mata garangnya pun mulai menaikkan nada bicaranya. Ia membentakku dengan keras hingga bintang pun kaget dan menangis.


"Ba..baaik steve.." Ucapku perlahan.

__ADS_1


"Maaf mara, aku tidak bermaksud membentakmu. Aku sedang banyak fikiran, jadi mengertilah..." Steven sepertinya sangat meneyesal telah membentakku.


"Ya steve tak apa.."


Aku pun segera menggendong bintang membawanya ke kamar agar ia tidak melihat kepergian steven.


Selama ini aku tak pernah melihat amarah steven. Baru kali ini ia membentakku. Mungkin ini juga salahku, steve sedang banyak fikiran saat ini. Tak seharusnya aku memberi saran yang membuatnya semakin pusing dan membebaninya.


Selama bersamanya, aku sedikit paham akan watak dan sikap steve. Ia terkesan tegas pada anak buahnya, kadang pula ia terlihat cuek. Steven sangat susah ditebak sikapnya sering berubah-ubah.


***


"Kau tidak meninggalakn jejak sama sekali kan?" Ucap malik pada seseorang didepannya dengan memberikan segepok amplop cokelat pada orang tersebut.


"Aku bisa jamin atas nyawaku! Ini sudah ku buat sesuai kecelakaan kerja biasa. Jangan khawatir, dengan begini aku yakin steven akan segera datang ke indonesia." Jelas orang tersebut.


"Bagus.... Apakah setiap bandara sudah kau amankan?" Tanya malik.


"Aku sudah mengerahkan beberapa antek-antekku di seluruh penjuru bandara. Kita akan lihat, darimana dia datang. Serahkan saja semua padaku."


"Aku sangat mengandalkanmu! Terimakasih...."


Percakapan mereka pun selesai. Orang misterius suruhan malik itu pun pergi dengan membawa amplop cokelat berisi uang dari malik.


"Abi.. Bagaimana? Siapa orang itu?" Andryani tiba-tiba datang menghampiri suaminya didalam ruangan VVIP tempat byan dirawat.


"Oh, itu anwar orang suruhan abi untuk mencari bintang." Jelas malik.


"Umi tidak pernah melihat orang itu? Tampangnya seperti orang jahat! Tepatnya lagi mafia." Ucap andryani bergidik merinding.


"Dia seorang profesional umi. Abi yakin dia akan segera menemukan bintang."


"Lalu mara? Bagaimana? Apakah dia tidak mau datang kemari?" Tanya andryani.


"Mara dan keluarganya sudah pindah umi. Tidak ada yang tahu mereka dimana. Abi juga sedang mencari tahu, umi jangan khawatir."


"Apa? Pindah? Mengapa abi tidak tanyakan pada juna atau pun chayra?"


"Mereka juga tidak tahu umi. Sabarlah, abi sedang berusaha. Doakan saja usaha abi tidak sia-sia."



🍒 *Hai readers, minal aidzin walfaidzin ya... Mohon maaf lahir dan batin..


Maaf ya sudah membuat kalian menunggu, othor baru bisa update. Soalnya othor lagi pulang kampung.. Terimakasih buat readers yang masih terus setia bacain karya² othor.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya...

__ADS_1


Kasih vote, like, gift dan komentarnya... Biar othor makin semangat buat Up lagi.


Mampir juga di karya othor: MENJADI PENGANTIN SATU HARI. Di jamin ceritanya bakal buat readers semua candu... Ohor tunggu jejak²nya ya dears*..


__ADS_2