
Satu minggu kemudian....
Akhirnya hari ini tiba, hari yang telah ditunggu-tunggu banyak orang. Hari wisuda asmara arsytanty sebagai lulusan S1 manajemen bisnis.
Kamila, randy dan juga juna datang untuk menghadiri wisuda asmara.
Sedangkan chayra, ia datang bersama bu Aisyah.
Asmara terlihat cantik dan anggun hari ini dengan balutan kebaya warna soft, sangat cocok dipadukan dengan kulitnya.
Juna membawa satu bucket bunga untuk asmara, tak lupa ia pun membawakan kalung dengan bandul berlogo A yang belum sempat diberikannya pada mara.
🍒Asmara
"Ini untukmu mara.." Juna memberikan bucket bunga cantik untukku.
"Terimakasih mas juna..." Jawabku.
"Selamat ya mara.." Chayra memberikan selamat dan memelukku.
"Terimakasih chay sudah menyempatkan datang."
"Selamat nak mara, akhirnya lulus juga.." Bu aisyah memelukku.
"Terimakasih bu.." Jawabku..
Sesi foto sudah berlalu, ucapan selamat pun tak luput untukku. Canda tawa, haru, bahagia terpancar dari wajah semua orang disini. Seketika canda tawa kami pun terhenti karena kedatangan byan bersama keluarganya.
"Nak mara, selamat ya..." Umi Andryani memeluk tubuhku.
"Selamat mara.." Begitupun dengan abi malik, ia turut mengucapkan selamat.
"Terimakasih umi, abi..." Jawabku sembari membungkukkan badan.
"Mara, selamat atas kelulusanmu dan ini untukmu..." Byan memberi ucapan selamat, lalu memberikan sebuah paper bag padaku. Akupun menerimanya.
Kehadiran keluarga byan ku sambut dengan manis, namun berbeda dengan wajah juna. Sepertinya juna tak menyukai kehadiran byan disini.
"Nak mara, bagaimana? Apakah sudah kamu fikirkan?" Andryani membuka suara.
"Maksud umi?" Aku sudah memanggilnya umi sejak kepergian agatha. Waktu itu umi andryani memintaku untuk tidak memanggilnya dengan sebutan ibu, tapi umi.
"Nak, keputusanmu yang kami tunggu. Bagaimana?" Lanjut abi malik.
"Umi, abi.. Mara sedang merayakan kelulusannya. Jangan membahas ini dulu.." Sambung byan.
"Pak malik, maaf kami akan pulang ke rumah. Permisi.." Ibu tiba-tiba mengajakku untuk pulang.
"Oh, baiklah kalau begitu. Nak mara hati-hati ya, jika kau butuh bantuan masalah pekerjaan kau bisa hubungi byan." Sahut malik.
"Mara tidak akan bekerja dimanapun, karena mara akan melanjutkan bisnis ketring kami pak." Jawaban ibu benar-benar membuatku terkejut. Ibu sangat menunjukkan betapa ia tak menyukai keluarga byan.
Malik serta andryani hanya tersenyum simpul. Tak banyak bicara.
__ADS_1
Hingga kami pun kembali ke rumah menaiki mobil juna.
Chayra dan ibu aisyah menyusul kami dengan mobil milik chayra.
Setibanya di rumah. Ibu sudah menyiapkan berbagai macam makanan. Ibu memasak berbagai lauk pauk.
Hingga kami pun menyantap makan bersama.
"Terimakasih bu kamila, masakannya enak.." Bu Aisyah memuji masakan kamila.
"Ah, terimakasih loh bu sudah memuji masakanku." Jawab kamila.
"Nanti jika kita menjadi besan, aku akan sering kesini belajar masak." Jawab bu aisyah.
"Ah, tentu saja. Pintu rumah ini selalu terbuka untuk bu Aisyah.." Ibu kamila tertawa kecil.
Nampaknya bu Aisyah dan ibuku sedang berbahagia hari ini. Tanpa melihat ketegangan antara aku dan juna. Aku hanya diam, begitupun dengan juna. Tak ada yang kami katakan saat ini. Sementara chayra, dialah yang selalu memperhatikan susasana antara aku dan juna. Chayra saat ini sepertinya tahu, jika antara aku dan juna sedang memiliki masalah.
Memang, sejak minggu lalu saat aku datang ke rumah juna dan aku melihatnya bersama chayra. Sejak saat itulah aku dan juna tak banyak bicara, tak ada komunikasi diantara kami berdua.
"Mara? apa kamu tidak memiliki hadiah yang spesial untuk juna?" Ibu semakin menambah ketegangan diantara kami.
"Haa..hadiah? Mara belum memikirkan hadiahnya bu." Jawabku tertatih. Sementara juna hanya diam masih fokus mengunyah makanannya pelan.
"Berilah calon suamimu itu hadiah terindah mara, selama ini dia sudah menunggumu dengan sabar hingga ke titik ini bukan?" Tambah ibu lagi.
"Mara akan memikirkannya bu.." Aku masih mencari alasan untuk hal ini. Aku tahu ibu sedang menyindirku.
"Jadi, apa kalian berdua sudah mempersiapkannya?" Tanya bu aisyah. Mereka semakin membuatku geram. Mengapa ibu dan bu Aisyah terus memancingku.
"Randy, kak chay tiba-tiba ingin minum es krim. Kita beli di minimarket sebrang yuuk.." Chayra beralasan untuk membawa randy keluar karena saat ini orang-orang di rumah sedang bersitegang.
"Hayuukkk.." Dengan semangat randy pun pergi bersama chayra.
Kamila mengheka nafasnya panjang....
"Mara, apakah begini caramu berbicara pada orang tua? Ini hasil dari gelar sarjanamu itu?" Ibu ternyata tak berhenti, ia masih terus memancingku.
"Ibu... Ibu tahu bukan? Saat ini mara sedang dihadapkan dengan masalah apa? Apakah ibu akan terus memaksakan kehendak ibu tanpa memikirkan perasaan mara?"
"Mara!! Ibu tak memaksakan kehendak. Bukankah sejak awal pilihanmu sudah pada juna?"
"Kenapa ibu selalu membela mas juna? Apakah dia anak kandung ibu?"
"Mara!!!" Ibu membentakku, bentakkan yang selama ini tak pernah terjadi.
"Bu kamila, sudah tenangkanlah dirimu. Tak baik memutuskan sesuatu jika sedang emosi." Bu aisyah yang belum tahu permasalahannya pun mencoba menenangkan kamila.
Aku menunggu reaksi juna, namun juna masih diam saja. Belum memberikan tanggapannya sama sekali.
"Nak mara, disini tak ada yang memaksa atau dipaksa. Kami sebagai orang tua hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak kami. Pernikahan itu bukan hanya sekedar status semata. Pernikahan itu adalah tanggung jawab untuk kita. Harus dipikirkan secara matang. Jika nak mara memang belum siap untuk menikah, nak mara boleh mempertimbangkannya." Bu Aisyah mencoba mencairkan suasana.
"Aku sudah mempertimbangkannya dan aku sudah memikirkannya bu. Sesuai dengan janjiku pada ibu, aku akan memeberikan keputusan dihari wisudaku."
__ADS_1
"Apa keputusanmu?" Sepertinya ibu tak sabar mendengarkannya.
"Aku...Aku akan menikah dengan byan! Aku akan memenuhi keinginan almarhum agatha." Terasa berat saat aku mengucapkannya. Namun aku memang harus memberitahu mereka semua.
"A..apa? Mara... Apa ibu tidak salah?.. Mara, fikirkan lagi nak..." Ibu terlihat tak terima dengan keputusanku.
"Hmm, nak juna apakah kamu sudah mendengarnya? Bagaimana nak kamu tak apa??" Bu Aisyah kini meminta tanggapan kepada juna.
Sedari tadi juna yang hanya diam tanpa bicara apapun langsung menegakkan tubuhnya. Dia menatap ke arahku..
Deg!!!!! Hatiku bergemuruh, jantungku terasa tegang. Tatapan juna, tatapan yang menunjukkan jika saat ini dia sedang merasakan sakit yang begitu dalam. Sakit yang sangat menyayat itu kini lebih parah ketimbang saat aku pergi meninggalkannya tanpa kabar.
"Juna mungkin saat ini tidak baik-baik saja bu, tapi insya Allah juna bisa lebih menguatkan hati ini. Juna menerima apapun keputusan mara. Tak apa, kita akan tetap bersilaturahmi bukan? Meskipun bu aisyah dan bu kamila tidak menjadi besan. Kita akan menjadi saudara, bukan begitu bu?" Juna menyimpulkan senyuman kecilnya, dia menatap ke arah bu aisyah kemudian berganti ke arah bu kamila. Senyuman apa itu? Senyuman palsu untuk menutupi kesedihannya? Semua orang juga tahu jika juna saat ini sedang rapuh. Namun juna tetap berusaha tegar meskipun dengan kepura-puraannya.
"Baiklah, ibu tahu kamu selalu bisa menerima hal apapun dengan bijak dan lapang dada. Kamu adalah anak ibu yang tersabar, terkuat, tapi kamu lemah dalam menutupi kebohongan." Jelas bu Aisyah.
"Bu Aisyah, ini semua diluar kendaliku. Atas nama asmara aku meminta banyak sekali maaf yang sebesar-besarnya.." Bu kamila memohon maaf untuk keputusan putrinya itu.
"Kami pun meminta maaf jika selama ini banyak sekali kekurangan yang kami miliki bu. Kita akan tetap menjadi saudara bu. Tak akan memutus silaturahmi."
"Terimakasih atas kebesaran hati bu Aisyah dan juga nak juna." Bu kamila mengusap air matanya, hanya dia yang menunjukkan tangisannya disini.
Dia dapat merasakan betapa hancurnya hati juna, namun mau bagaimana lagi. Ini sudah menjadi keputusan putrinya.
"Baik, semua sudah selesai bu. Kami mohon pamit." Bu Aisyah meminta izin.
"He'um.. Hati-hati bu Aisyah, nak juna kamu juga hati-hati dan jaga diri."
Juna hanya mengangguk perlahan, dengan masih menunjukkan senyuman yang menutupi kehancuran hatinya.
Dari bilik ruangan, ternyata byan tengah berdiri dan mendengar semua pembicaraan mereka.
Saat hendak pulang, tatapan juna dan byan pun saling bertemu. Tatapan ketegangan diantara mereka.
Sejenak juna membungkukkan tubuhnya pada byan, lalu ia pun melangkah pergi bersama bu Aisyah meninggalkan rumah.
Chayra yang berada di halaman depan, ia pun pamit pulang. Chayra berpamitan kepadaku dan meminta untuk berbicara padaku sebentar.
"Mara, aku memang sangat mencintai kak juna. Tapi aku fikir kau lebih mencintainya, apakah dugaanku ini salah?"
"Tidak chay, kau yang lebih mencintai mas juna."
"Aku tak tahu apa alasanmu melepaskannya, apakah karena aku?"
"Bukan, ini sudah pilihanku chay. Aku ingin memenuhi keinginan almarhum agatha untuk menjaga bayinya."
"Emmmm, jika begitu baiklah.. Kuharap keputusanmu ini tepat dan tidak ada penyesalan dikemudian hari. Aku permisi pamit pulang mara.."
Chayra segera mengemudikan mobilnya, ia ingin segera sampai di rumah juna.
*To be continue...
🍒Hai readers kesayangan... Terimakasih kesetiaan kalian semuanya. Seperti kesetiaan juna menunggu mara selama ini. Kasihan nggak sama nasib juna? Kira² juna nanti gimana ya??
__ADS_1
Ayoo kasih give, like, komentarnya dong... Biar othor makin semangat up lagi*...