Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Hari pertama kerja


__ADS_3

"Bu, mara pamit dulu"


Mara menyalami ibunya, menggenakan kemeja putih dan rok blouse hitam. Diraih tas selempang kecilnya menuju keluar.


"Hati-hati nak, maafkan ibu yang membuatmu harus bekerja" Ibu mengecup pipi putrinya yang lembut itu.


"Dadah kakak, pulang bawa oleh-oleh yaa" Randy menyalami kakaknya.


Mara tersenyum melambaikan tangan pada ibu dan juga adiknya yang gemas itu.


Byan sudah menunggu didepan rumah mara.


"Nak byan, ibu titip Asmara ya..."


"Ah ibu, mara sudah besar. kak byan juga bukan tempat penitipan" Mara menatap ibunya yang memperlakukannya seperti anak kecil yang harus dijaga.


Mendengar itu, byan hanya tersenyum. Byan segera menyalami ibu mara dan mencubit pipi gembul randy.


***


Mara memperhatikan sekeliling gedung tempat ia dibawa oleh byan.


Byan terus berjalan disamping mara, Semua orang memperhatikan mara dan juga byan.


Hari ini mara benar-benar menjadi pusat perhatian orang-orang disana.


"Selamat pagi pak...!" Seorang wanita dengan name tag Bellya aghata menyapa dan sedikit menunduk menyambut kedatangan kami.


Byan hanya menganggukkan kepala dan masuk kedalam ruangan.


Ruangan yang begitu luas, rapi dan bersih.


"Silahkan tunggu dan duduk disini mara" Byan menuju sebuah meja didalam ruangan dan meraih telpon.


"Segera keruangan saya"


Tak lama, datang seorang pria dengan panampilan rapi membawa sebuah laptop ditangannya.

__ADS_1


"Pagi pak byan, apa yang anda butuhkan?" Sapa lelaki itu sesekali ia melirikku yang menunggu duduk disofa.


"Ini mara, wanita yang aku bicarakan kemarin"


Byan duduk didepanku.


"Baik pak, saya akan membawanya ke devisi saya"


"Mari mara, ikutlah denganku"


Lelaki itu menatapku dengan senyum.


"Mara, kau butuh apapun segera hubungi nomor telponku" Kata byan.


"Aku tidak memiliki nomormu?" Aku baru berfikir sejauh ini aku tak menyimpan nomor telpon byan.


Tapi, sepertinya aku harus meminta nomornya ini berkaitan dengan pekerjaan.


Aku memberikan ponselku pada byan, byan meraihnya dan mengetik nomor telponnya.


"Hubungi aku jika kau kesulitan dan jika ada yang mengganggumu" Byan melirik ke arah lelaki yang berada disampingnya dengan tatapan tak suka.


Lelaki itu membawaku kelantai dua dari gedung itu, menuju sebuah ruangan yang dipenuhi beberapa orang. Kami memasuki ruangan itu dengan sambutan orang dengan tatapan tak suka melihatku.


"Ehem, ini mara. Partner baru kita! Mara perkenalkan dirimu kepada teman kerja barumu" Lelaki itu menuju ke arah meja dibagian depan.


"Baik pak" Jawabku.


"Haii.... aku Asmara arsytanty" Aku menatap satu persatu wajah beberapa orang disana. Aku melihat ada satu wanita dan dua pria yang memperhatikanku. Satu pria lagi yang tak memperhatikanku sedang asik dengan komputer disana.


"Akhirnya, ada wanita selain Hesty disini" Ucap pria dengan kacamata bulat disana.


"Ish," Wanita itu menatapku sinis.


"Mohon bantuan dan bimbingannya, ini pengalaman pertamaku bekerja" Aku membungkukkan tubuhku.


"Juna, tolong kamu bimbing mara. Dia akan menjadi juniormu" Lelaki yang membawaku tadi mengatakan kepada lelaki yang sedang sibuk dengan komputer disana.

__ADS_1


Kulihat dia hanya mengangguk.


"Kenapa harus juna pak arman?" Seseorang berkaca mata bulat bertanya.


"Aku tidak mungkin menjadikan mara junior mu didit, kau sudah memiliki dua junior hesty dan Yongki. Begitu rakus kah kau akan junior? pak arman melempar sebuah berkas pada lelaki itu.


"Selesaikan laporanmu yang berantakan ini. Jam sembilann pak byan yang dingin Bagaikan es kutub utara itu ingin memeriksanya!!" Pak arman menampakkan wajah marah.


Aku menuju meja juna. Perlahan kutatap dia yang terlihat cuek.


Aku memberanikan diri untuk menyapanya.


"Apa yang harus aku lakukan pak juna?"


Mendengarku, juna langsung memutar kursinya menghentikan ketikan jemari pada keyboard.


Dia menatapku, matanya tajam wajahnya datar. Dia sangat berbeda dengan byan yang murah senyum.


"Duduk disitu" Juna menunjuk meja kosong disebelah mejanya.


Akupun duduk dikursi. Aku diam menunggu perintah juna selanjutnya.


"Apa kau ingin dibayar hanya dengan duduk diam?" Juna melontarkan kalimat yang tak mengenakkan hati.


"Maa..maaf pak, Apa yang harus aku lakukan?"


Aku berusaha merendahkan nada bicaraku.


"Jika kau hanya ingin duduk diam, lebih baik kau tak usah bekerja."


"Sepertinya kau adalah wanita manja yang tak tahu apa-apa!"


Deg!! hatiku terasa sakit,


"Apakah begini perlakuan seorang senior jepada junior barunya?" "jika anda tak ingin mengajari saya, maka anda tak perlu berkata seperti itu. Ucapan anda tidak mencerminkan diri anda yang terlihat rapi dan pintar!" Aku langsung menatap lekat matanya yang garang, kupalingkan tatapanku darinya. Dan aku langsung nyalakan komputer disitu.


Semua orang memperhatikanku dan juga juna, kulihat hesti tertawa kecil menutup mulutnya dengan tangan sembari melihatku. Pak arman diujung sana menatap dengan tajam kearahku. Pak didit juga yongky hanya terdiam tak menunjukkan ekspresi apapun. Mereka berdua sibuk dengan komputer juga berkas dimeja masing-masing. Sebenarnya orang-orang seperti apa mereka ini?

__ADS_1


Aku masih belum bisa menebak. Huftttt, Apakah begini rasanya bekerja dan ingin mendapatkan uang? benar-benar hari pertama yang tak ku sukai.


__ADS_2