Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Malioboro


__ADS_3

"Mas? Hari ini bisa temani aku keliling jogja?" Agatha menatap ke arah byan yang sedari tadi sibuk dengan laptop dipangkuannya.


"Tha, lain kali saja ya.. Aku masih lelah setelah kembali dari bali." Jawab byan tanpa sadar.


"Bali?? Kau pergi ke bali mas?"


"Oh.. Iya, bali. Aku pergi kesana menemui relasi bisnis baru." Jawab byan terbata. Bisa-bisanya ia keceplosan.


"Relasi bisnis? Apakah semuanya lancar mas?" Agatha tahu byan sedang berbohong namun ia tetap mencoba mempercayai suaminya itu.


"Ya, semuanya lancar. Bersiaplah, sore ini kita akan pergi keluar." Byan tiba-tiba merasa bersalah pada istrinya itu dan berubah fikiran.


"Jangan dipaksakan mas jika kau lelah.. Aku tak mau nanti kau malah sakit." Timpal agatha.


"Bersiaplah, lelahku pasti akan hilang.."


"Baiklah.. Kau juga bersiap mas. Anggap saja ini bulan madu kita yang tertunda." Agatha segera memasuki kamar untuk berganti pakaian.


Setelah selesai berganti pakaian, byan dan agatha pun pergi keluar. Byan mengajak agatha menuju jalan malioboro. Agatha terlihat sangat senang berjalan bersama byan. Hingga tak terasa langit berubah menjadi gelap.


Malam ini, jalan malioboro terlihat sangat ramai. Banyak wisatawan lokal maupun mancanegara mendatangi kawasan ini.



🍒Yuk readers... Mari merapat😉 Jangan lupa vote, like dan komentarnya yaa biar thor semangat buat up lagi.. Ayukkk... ayukk....


Sepulang dari malioboro, agatha dan byan langsung menuju apartement. Agatha terlihat bahagia, namun berbeda dengan byan. Sejak pergi tadi, byan terlihat lesu juga tidak menampakkan keceriaan sama sekali. Dan saat pulangpun byan terlihat lebih lesu, apalagi saat ini wajah byan terlihat sedang menyimpan amarah. Agatha yang tahu suaminya sedang emosi tak mau banyak bicara. Mereka berdua hanya saling diam.


Setelah sampai di apartement, byan langsung masuk ke dalam kamarnya. Sedangkan agatha, ia masuk kedalam kamar tamu yang dulu pernah ia tempati.


Agatha mengetuk kamar byan, namun tak ada jawaban dari dalam kamar. Agatha pun memberanikan diri memasuki kamar byan.


Ceklek...


Anggap aja suara pintu dibuka.


"Mas...? Mas sudah tidur?" Agatha masuk dengan langkah pelan. Namun tak ada sosok byan disana. Agatha melangkah menuju ranjang.


"Agatha..." Suara byan dari belakang.


"Mas?" Agatha membulatkan matanya, byan tiba-tiba sudah berada dibelakangnya hanya dengan balutan handuk putih.


"Ada apa??" Byan berjalan gontai dengan wajah datarnya mengarah pada agatha.


"Pakailah dulu bajumu mas.." Agatha membalikkan badannya lagi.


"Ada perlu apa? Jika tak ada yang ingin kau katakan, keluarlah!!" Byan bernada sedikit tinggi kali ini.


"Mas, aku hanya...."


"Silahkan keluar!" Byan menunjukkan jarinya kearah pintu. Berharap agar agatha mengerti maksudnya.


"Mas? Ada apa denganmu??"


"Aku bilang keluar sekarang!"


"Hmmmmm.... Baiklah, aku akan keluar sekarang!! Bukan hanya dari kamar ini! Tapi juga dari apartement ini!" Agatha menarik nafas panjang. Entah apa yang terjadi pada suaminya itu. Agathapun menjadi emosi. Agatha datang ke jogja berniat untuk memperbaiki hubungannya dengan byan yang sempat retak. Namun keadaan byan saat ini malah semakin menjadi. Bukannya bersikap lembut, byan malah terlihat semakin kasar.


Byan hanya terdiam menyaksikan agatha melangkah keluar.


FLASH BACK ON


Juna memarkir mobilnya didepan kampus asmara. Ia sengaja menunggu asmara. Ia tahu asmara kali ini sedang marah padanya, juna mencoba menelpon dan mengirim pesan tapi tak ada jawaban dari asmara.


🍒Asmara


Jam sudah menunjukkan pukul Lima sore. Ku langkahkan kaki ini menuju keluar kampus. Namun langkahku terhenti saat aku melihat juna yang sudah melambaikan tangan dengan senyum manisnya kepadaku.


"Maraa....." Juna melambai-lambaikan tangannya, memberi tanda padaku. Akupun segera menghampirinya.


"Hmm, ada apa kemari?"


"Aku ingin menjemput calon istriku.."


"Calon istri yang tak pernah dianggap?"


"Apakah kau cemburu?"


"Entahlah! Tapi hatiku mengisyaratkan jika aku tidak menyukai wanita manapun mendekatimu."


"Baiklah, kita makan ice cream.. Ayoo...."


"Kau sudah meminta izin pada ibuku?"


"Kali ini aku ingin menculikmu! Jadi tak perlu izin lagi.."


"Kau menakutkan!!"


Tak banyak yang diucapkan juna padaku, terkadang akupun heran pada juna. Saat aku memancing dengan perkataan yang menimbulkan perdebatan juna malah menjawab dengan perkataan yang lain. Apakah ini tandanya juna tak suka berdebat? Tapi aku sangat butuh penjelasan darinya. Jika terus begini, kapan aku akan mendapatkan jawaban dari sekian pertanyaan didalam hatiku?


Juna menghentikan laju kendaraannya dan memarkirkan pada tempat yang tersedia, saat ini kami tengah berada di keramaian kota jalan malioboro. Juna menuntunku pelan, tak tahu kearah mana ia akan membawaku.


"Kenapa kita kesini?" Tanyaku yang tak tahu tujuan juna.


"Makan ice cream." Juna semakin mengeratkan genggamannya pada tanganku.


"Hanya makan ice cream?"

__ADS_1


"Dengan Sedikit obrolan sepertinya tak begitu buruk."


"Hanya sedikit??"


"Kau tunggu sebentar disini, aku akan segera kembali." Juna menyuruhku duduk di bangku yang kosong. Dan juna menuju penjual ice cream yang tak begitu jauh dari posisiku saat ini.


"Mara?" Suara seseorang yang tak asing memanggilku.


"Pak byan??" Aku terkejut dengan kehadiran byan disini. Apakah dia membuntutiku?


"Kau sendiri??" Tanya byan padaku.


"Tentu tidak, mara pergi bersamaku..." Tiba-tiba juna sudah ada dibelakang byan dengan dua ice cream ditangannya.


"Juna??" Wajah byan berubah menjadi tak enak dipandang.


"Ada apa pak byan? Anda ingin bergabung dengan kami?" Juna menatap byan lekat dengan satu alis terangkat kemudian ia memberikan satu ice cream coklat kepadaku.


"Mas juna, kita pergi saja." Ajakku pada juna, aku tak ingin keributan tempo hari di bali terulang lagi disini.


"Kita lebih dulu disini mara, harusnya dia yang pergi! Bukan kita.." Juna mendudukkan bokongnya tepat disebelahku. Sementara byan masih terus berdiri dengan kedua tangan didalam saku celananya.


"Kau sangat besar kepala, jangan lupakan posisimu siapa disini! Aku adalah atasan mara, dan dia sekretarisku!" Jawab byan menatap juna tajam


"Aku adalah calon suami asmara."


"Haha, kau yakin itu?? Bahkan mara tak pernah mengakui hal itu! Kau tanyakan pada mara apakah dia benar-benar menyukaimu atau itu semua hanya pelampiasannya saja!"


Seketika raut wajah byan berubah penuh amarah, tatapannya padaku semakin menakutkan.


"Cukuppppp!! Kau semakin keterlaluan pak byan..." Akupun tersulut emosi, bisa-bisanya byan berkata seperti itu. "Ayo kita pergi dari sini..." Aku meraih tangan juna dan sedikit menariknya kami melangkah pergi dari hadapan byan.


"Urus saja istrimu!! Kasihanilah dia...." Juna sedikit berbisik saat berlalu dari hadapan byan.


Dari itulah emosi byan semakin memuncak! Bisa-bisanya mantan asistennya itu bersikap kurang ajar dan tak sopan padanya.


Awas saja kau juna! Kita lihat saja nanti,...


Byan mengepalkan jemarinya, hingga ia tersadar saat seseorang menepuk pundaknya.


"Mas byan, kau disini?" Agatha yang tadi pergi ke toilet kini sudah ada dibelakangnya.


"Kita pulang!!" Byan melangkahkan kakinya cepat.


"Mas, kenapa terburu-buru sekali? Bahkan kita belum mengambil foto berdua."


Byan tak menghiraukan perkataan agatha, ia tetap saja melangkahkan kakinya menuju dimana mobilnya terparkir.


FLASH BACK OF


🍒Asmara


"Hmmm, kau kecewa padaku?"


"Kecewa? Tidak sama sekali mara."


"Maafkan aku mas juna, kau benar aku bahkan belum bisa sepenuhnya melupakan byan.."


"Perlahan kau akan melupakan dia sepenuhnya."


"Aku tidak tahu kapan itu semua akan terjadi."


"Kau masih memiliki perasaan padanya?"


"Aku tidak tahu, yang jelas aku masih belum bisa melupakannya... Maafkan aku mas juna.."


"Hmmm, apakah karena dia suka menyentuhmu?"


"Maa..maksudmu? Menyentuh? Menyentuh apa? Aku tidak mengerti.."


Juna terdiam, tak seharusnya ia membahas hal seperti ini padaku.


"Mara, lebih baik kau berhenti bekerja saja." Tiba-tiba juna membuka suara setelah beberapa menit. Namun kata-kata juna sungguh tak masuk akal.


"Ke...kenapa?"


"Mara, berhentilah bekerja. Dan bekerjalah ke tempat lain."


"Mas, aku sedang merintis karirku. Aku juga sedang melangsungkan kuliahku yang dibiayai perusahaan. Sangat sayang bukan jika aku melewatkannya? Tak semua orang bisa menikmati kuliah gratis sepertiku masss.."


"Mara, berhentilah bekerja bersamanya. Masalah kuliah aku yang akan membiayainya."


"Mas, ada apa ini? Aku tak bisa mas. Apa nanti kata pak arman. Dia sudah membantuku banyak untuk masuk ke universitas sekarang ini"


"Kau tetap kuliah di universitas itu. Aku akan membantumu mara."


"Mas, lalu aku akan bekerja dimana?"


"Kau bisa membantu ibu di rumah makan bukan? Untuk sementara, setelah aku menemukan pekerjaan yang cocok untukmu."


"Mas, pekerjaan seperti apa lagi? Aku sudah nyaman dengan pekerjaanku yang sekarang."


"Kau nyaman dengan pekerjaanmu atau kau merasa nyaman berdekatan dengan bossmu?"


Deg!!!!


Hatiku rasanya tak karuan mendengar ucapan juna.

__ADS_1


"Mas, kau terlalu cemburu padanya."


"Mara.."


"Mas juna!"


"Mara dengarkan aku, aku tak ingin kau terus dekat dengannya. Aku tak ingin kau dalam bahaya."


"Mas, setelah kejadian kemarin aku janji akan lebih hati-hati dan tidak ceroboh lagi. Tolong percayalah padaku mas.."


"Mara, tolong jangan menolakku. Aku akan membantu membiayai kuliahmu."


"Mas, itu sangat mahal. Lebih baik uangnya digunakan untuk keperluanmu yang lain."


"Mara, jadi kau lebih memilih byan daripada aku?"


"Mas, bukan begitu maksudku..."


"Mara, selama ini tidak ada perusahaan yang membiayai kuliah karyawannya!. Uang itu adalah dana pribadi dari byan."


"Maksudmu??"


"Jika kau tetap pada pendirianmu, aku takkan memaksanya."


Sedikit perdebatan diantara aku dan juga juna. Kini mobil juna sudah berada dijalan depan rumahku.


"Kita sudah sampai, turunlah mara... Titip salam untuk ibu."


"Kau tak ingin bertemu ibu?" Aku mencari alasan agar juna bisa singgah di rumah.


"Kau perlu istirahat mara, akupun begitu. Mari kita sama-sama saling berfikir bagaimana kita kedepannya nanti."


"Kau ingin segera pulang untuk menemui wanita itu bukan?"


"Mara, dia chayra. Aku sudah menganggapnya sebagai adikku sendiri. Kami sama-sama dibesarkan di panti asuhan."


"Hmmm.. Jadi benar kau akan menemuinya? Apakah kalian tinggal satu rumah?"


"Mara, dia datang kemari untuk urusan bisnis. Dia tidak menginap."


"Kau bahkan tak pernah mengajakku ke rumahmu! Tapi kau berani mengajak wanita itu. Apakah dia wanita j****g?"


"Mara! Cukup! Kata-katamu tak pantas diucapkan! Chayra bukan wanita seperti itu."


"Tak ada hubungan adik kakak antara lelaki dan perempuan yang tak sedarah jika bukan hubungan yang lain!"


"Lalu bagaimana denganmu? Apakah hubungan kau dan byan.....sudahlah mara, kita akan saling menyakiti jika kita terus berdebat seperti ini."


"Apa mas? Kau mau bilang jika aku ini adalah j****g?"


"Mara cukup!!!!!!"


"Kau bahkan berani membentakku karena wanita itu!"


"Mara, maaf aku tak bermaksud bicara kasar.. Kau terus memancingku.."


"Pulanglah, selamat bersenang-senang dengan wanita itu!"


Setelah aku akan membuka pintu, juna malah mengunci pintunya. Juna melajukan lagi mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Mas, kau mau bawa aku kemana?"


"Aku akan membawamu ke rumahku!"


"Mas.... Aku tidak mau! Aku mau pulang!"


Juna tak menanggapi perkataanku. Juna masih fokus pada laju mobilnya yang aku rasa semakin kencang. Hingga tak terasa Kami berduapun sudah sampai di rumah juna.


Juna turun lalu berputar membuka pintu mobil untukku. Saat aku akan turun, juna langsung membopong tubuhku.


Aku terperanjat dengan aksi juna kali ini. Hingga aku memukul beberapa kali dadanya. Namun juna tak juga menurunkan tubuhku. Dia terus membawaku kedalam rumahnya.


Juna menaiki anak tangga dengan terus membopongku. Wajahnya masih terselimut emosi, tak ada respon sedikitpun dari juna.


"Mas juna.... Turunkan aku....!! Sekencang mungkin suaraku, namun juna masih terus membopongku hingga saat ini kami berada didepan sebuah pintu kamar. Juna membukanya dan membawaku kesana.


Juna menurunkanku secara perlahan ke atas ranjang.


"Mas? Kau mau apa? Kenapa kau membawaku ke rumahmu.."


"Bukankah ini maumu?" Juna mendekatkan wajahnya kearah wajahku. Aku sungguh tak bisa berkata apa-apa lagi saat ini. Yang jelas jarak kami kali ini sangat dekat.


"Mas juna!!!! Akupun berteriak dan menutup wajahku dengan kedua telapak tangan.


"Mara, maafkan aku.." Juna membuka suaranya. Kini posisi juna saat ini sudah berdiri. "Tolong jangan terus memancingku mara, aku bukan tak ingin menyentuhmu! Aku sangat-sangat ingin memilikimu mara.. Saat ini aku hanya bisa menahan diri, agar tidak menyentuhmu. Aku ingin menjagamu mara sampai akhirnya kita berada pada ikatan yang sah."


Juna melangkahkan kakinya keluar kamar.


Apa yang juna katakan kali ini? Apakah aku terus memancingnya? Apa yang harus aku lakukan?


Mengapa aku sangat bodoh sekali. Juna adalah lelaki yang baik, mengapa aku baru menyadarinya?


Ya tuhan, haruskah aku meminta maaf padanya? Aku sangat keterlaluan padanya hari ini.


Akupun keluar kamar dan menuruni anak tangga. Kulihat juna sedang duduk dengan kedua tangan menopang kepalanya. Aku menghampirinya, terlihat beberapa masakan rumahan beserta lauk-pauk diatas meja sudah tersedia.


Aku hendak mengambil air minum di lemari pendingin yang berada di dapur. Namun aku melihat ada pesan yang tertempel pada pintu lemari pendingin tersebut.

__ADS_1


^Kak juna, aku dan ibu aisyah akan pergi ke bali. Terimakasih sudah mempertemukanku padanya. Dimeja sudah ada makanan yang dimasak bu aisyah tadi. Maaf kami tak menunggumu pulang.^ Jagalah asmaramu.. By:Chay


Sontak aku terkejut membaca pesan itu. Ternyata aku telah salah paham pada chayra.


__ADS_2