
Resepsi telah dimulai. Hari ini pernikahan rayhan dan agatha akan berlangsung. Afrizal berhasil membujuk malik juga andryani agar menikahkan rayhan dan agatha, meskipun tanpa kehadiran byan.
"Saya terima nikahnya agatha putri afrizal dengan maskawin seperangkat alat solat dibayar tunai!!!" Dengan lantang rayhan mengucapkan kalimat sakral itu dihadapan semua orang tanpa perasaan gentar.
Hingga semua orang yang menyakaikan ijab kobul disana mengucapkan kata "SAH!!"
Agatha menitikkan air mata haru mendengar ucapan sakral rayhan dengan menjabat tangan ayahnya itu. Sesi penukaran cincin nikahpun dimulai. Rayhan meraih tangan agatha dengan memasangkan cincin bermata berlian itu dijari manisnya, kemudian bergantian agatha yang memasangkan cincin dijari manis rayhan. Tatapan mereka kini bertemu. Dengan segera agatha menyalami tangan rayhan, serta dilanjutkan rayhan yang mencium kening agatha.
Kini agatha dan rayhan telah resmi berstatus sebagai suami istri. Andryani menatap haru putranya itu ahirnya agatha sah menjadi menantu yang didambakannya selama ini.
Byan yang sempat diberi kabar pernikahan kakaknya itu, tak menampakkan batang hidungnya. Meskipun pernikahan agatha juga rayhan sempat menjadi kontroversi, para kolega bisnis malik juga afrizal banyak yang bertanya-tanya. Karena yang mereka tahu agatha bertunangan dengan byan, mengapa sekarang agatha malah menikah dengan rayhan? Semua itu tertanam dibenak orang-orang yang menghadiri undangan pernikahan mereka. Meskipun begitu, acara pernikahan rayhan dan agatha berjalan dengan lancar.
Arjuna dan arman pun diundang untuk hadir ke acara pernikahan anak dari bos besar mereka.
Melihat agatha, juna jadi merasa bersalah sungguh dunia ini begitu sempit mengapa juna sempat menyukai agatha yang kini menjadi istri rayhan.
Dari sana terlihat, agatha yang begitu anggun memakai gaun kebaya putih rancangannya sendiri. Begitupula tuxedo yang dikenakan rayhan. Mereka benar-benar bak pasangan ratu dan raja sangat serasi. Senyum ramah terpancar diwajah keduanya saat menyalami dan menyambut para tamu undangan.
"Dari tadi kamu terus memandangi ibu agatha? kamu baru tahu ya kecantikan luar biasanya?" Arman memperhatikan juna yang terus menatap ke arah agatha dipelaminan.
"Ah, ya dia bukan hanya cantik. Tapi dia begitu baik. Sungguh beruntung pak rayhan." Tegas juna.
"Sabar ya juna, mara juga tak kalah cantik dari agatha. Tapi sayang dia begitu jutek dan terlalu menutup diri!" Arman menambahkan.
__ADS_1
"Mara itu milik pak byan, janganlah pak arman mengaitkan mara denganku." Timpal juna.
"Oh ya? aku lupa! Sayang sekali pak byan tidak memilih ibu agatha. Yah.. jodoh sudah diatur oleh gusti Allah..."
"Maksud bapak?" potong juna ingin tahu.
"Tadinya pak byan yang bertunangan dengan ibu agatha. Namun aku tidak tahu persis masalahnya. Kabarnya sih pak byan ada wanita lain! Lah? apa jangan-jangan wanita itu asmara?? Mana mungkin asmara tega merusak hubungan pak byan dengan ibu agatha?" Arman berfikir keras.
Juna hanya terdiam tak menanggapi. Hari ini bisa dibilang juna sedang patah hati. Yah, rayhan begitu beruntung bisa bersanding dengan agatha disana.
***
Di dalam kamarnya, byan masih terus menyalakan televisi menyaksikan acara pernikahan kakak kandungnya dengan wanita yang begitu ia cintai. Ya sebuah stasiun televisi swasta sempat menayangkan live acara pernikahan rayhan dan agatha.
Byan menatap nanar televisi yang menampilkan agatha dengan balutan gaun kebaya putih yang begitu anggun, serta senyum dengan lesung pipi yang khas itu terus dipandanginya.
"Tha? kenapa kamu tega? kenapa kamu tidak menikah denganku dan malah memilih bang rey?" Byan bermonolog, matanya kini telah berubah menjadi merah.
"Aku yang bodoh! Aku begitu bodoh telah menyia-nyiakan kamu tha.!" byan terus menarik-narik rambutnya prustasi.
Tanpa sadar dari arah pintu kamarnya ada seseorang yang memperhatikannya.
Melihat mas byan yang terus menyalahkan dirinya sendiri, aku begitu terpukul. Sebegitu cintakah dia dengan wanita yang bernama agatha itu? Seperti apa agatha itu hingga bisa membuat mas byan menjadi terlihat prustasi?
__ADS_1
Kuberanikan diri mendekatinya, kupeluk tubuhnya yang terlihat lesu itu.
"Mara..??" Lirih byan.
"Tak perlu menyalahkan dirimu mas, tenangkan dirimu." Aku mencoba menenangkannya.
"Sejak kapan kau disini? kau bisa masuk?" Tanya byan.
"Baru saja mas.. Aku tahu kode pintu apartementmu mas.." Jelasku, padahal sudah hampir setengah jam aku berdiri dipintu kamar memperhatikannya. Namun sepertinya mas byan tak sadar akan kehadiranku.
"Emm.. Kau tak pergi ke kampus?" Tanya byan lagi, kali ini byan melepaskan pelukan mara dan beranjak dari duduknya.
"Tidak mas." Jawabku singkat.
"Kenapa?" Tanya byan lagi.
"Aku sudah selesai mas. Hanya melaporkan tugas pada dosen sebentar. Lalu aku singgah kesini. Dari tadi ponselmu tak bisa dihubungi." Timpalku kesal, bukan hanya hari ini saja ponselnya tak bisa dihubungi bahkan dari dua hari yang lalu.
"Oh.. Ponselku kehabisan daya." Byan meraih ponselnya yang berada di tempat tidurnya lalu mencargernya.
"Mas sudah mandi?" tanyaku memperhatikannya.
"Belum, aku mau mandi dulu!" Byan meraih handuk lalu masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Aku hanya menunggunya disini, kuperhatikan lekat suasana kamar byan. Kamarnya begitu rapi, hangat, terlihat maskulin dengan cat abu-abu, serta aroma ruangan yang begitu wangi. Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam kamar byan. Tanpa terasa akupun mengantuk dan tertidur di kasur empuk milik byan.