
"Itu semua tak mudah pak...." Mataku kian memerah, ingatanku mulai kembali pada masa itu saat aku dan byan.... Semakin dilupakan, maka perasaan itu malah semakin jelas dan kenanganku bersama byan malah semakin berputar-putar diotakku.
"Mara, apakah kau akan terus begini?" Juna menatapku sekilas, dan kembali fokus menyetir mobilnya.
"Pak juna, akupun tak ingin seperti ini ta..tapi hatiku masih sama. Hatiku masih untuknya.."
"Mara, Jangan lupakan jika hatimu itu milik Sang pencipta. fikirkan saja terus dia.. Hingga semua itu akan membuatmu gila!"
"A..apa maksud bapak? gila??"
"Ya, lama kelamaan kau akan stress dan berujung gila jika terus seperti ini!"
"Pak juna, tak mungkin sampai kesitu! Itu terlalu berlebihan.."
"Kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi bukan??"
"Jangan menakut-nakuti diriku, aku bukan anak kecil pak!"
"Tak ada yang menakutimu mara. Aku hanya ingin kau segera bangkit dari keterpurukanmu ini dan ku harap kau bisa segera menghilangkan perasaan cintamu padanya."
"Itu tak mungkin mudah bagiku, aku sudah mencoba segala cara pak. Tapi...."
"Tapi itu mudah baginya untuk mempermainkanmu mara!"
"Ya, karena dia tergoda oleh wanita itu."
"Kau yakin diapun mencintaimu mara?"
"Aku sempat yakin, namun setelah kejadian itu aku tak yakin lagi pak.."
"Apakah kau ingin bantuan dariku???"
"Bantuan? Maksud bapak??"
"Katakan IYA jika kau butuh bantuan dariku mara? dan katakan TIDAK jika kau tak menginginkannya.."
Aku bingung, entah mengapa juna menawarkan bantuan. Bantuan seperti apa itu?? Aku tak mengerti! Apakah dengan bantuannya aku bisa segera menghiangkan perasaanku untuk byan? Apakah harus aku menerima bantuan yang ditawarkan juna??
"Mara, jika dirimu sendiri hingga saat ini belum bisa merubah perasaanmu. Maka kau butuh bantuan dari orang lain. Aku tak memaksamu, tapi jika kau berubah fikiran hubungi aku. Apa salahnya mencoba dahulu, banyak orang yang gagal di luaran sana karena tetap berada pada zona nyamannya, padahal menerima hal baru bisa jadi akan merubah keadaan kita! Jangan pernah takut untuk mencoba mara."
Aku terdiam mendengar kata-kata juna. Ada benarnya yang juna katakan, apa gunanya aku terus-menerus memikirkan orang yang jelas-jelas tak memikirkanku. Aku menarik nafas panjang, hingga aku mengiyakan bantuan dari juna.
"Baiklah pak, mungkin aku butuh bantuan dari orang lain. Terimakasih sudah membantuku pak."
"Jadi, kau menerima tawaranku??"
"Iya pak, tolong bantu aku.."
"Aku akan membantumu mara, sekuat tenaga.." Juna mengulas senyumannya.
__ADS_1
"Terimakasih sudah mau membantuku.."
"Belum saatnya berterimakasih mara, aku bahkan belum melakukan apapun. Kau sudah berterimakasih terus-menerus."
"Hehee.." Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak terasa gatal sembari nyengir.
"Besok apakah ada kelas mara?"
"Tidak ada pak. Ada apa?"
"Kau yakin mara??" Juna seolah tak percaya.
"Iya pak, aku libur."
"Jika kau ada waktu besok ikutlah denganku."
"Kemana pak?"
"Kau akan tahu nanti. Apakah kau ada waktu??"
"Aku akan mengabari bapak besok."
"Emm, baiklah... Segera kabari aku pagi-pagi sekali.."
"Harus pagi-pagi sekali pak??"
"Bapak memaksa??"
"Aku tak memaksamu mara, tapi mengharuskanmu!"
"Itu sama saja pak! Baiklah, nanti akan ku kabari."
"Jangan lupa mara, pagi-pagi sekali!!"
"Yaa.. Baiklah. Ternyata bapak adalah seorang pemaksa!"
Hahaha.. Kami berduapun tertawa bersama. Hingga tak terasa jika juna telah memarkirkan mobilnya di depan rumahku.
Juna membantu menurunkan barang belanjaanku, tingkah kami berdua ternyata diperhatikan oleh ibuku yang mengintai dari jendela.
"Kau tinggal dengan ibumu??" Tanya juna.
"Ibu dan adikku." Jawabku terus terang.
"Bolehkah aku menyapa mereka?"
"Ibuku sedang tidak di rumah. Mungkin sekarang sedang di rumah makan."
"Tapi aku melihat ada orang di dalam rumahmu." Jawaban juna yang membuatku terkejut.
__ADS_1
"A..apa? Ada orang?" Aku merasa heran, ibu tadi bilang padaku jika sedang berada di rumah makan. Mana mungkin ada di rumah.
Juna menenteng beberapa kantong belanjaan besar milikku. Juna mengarah ke rumah. Hingga ia mengicapkan salam.
"Asaalamualaikummm..." Juna berdiri di depan pintu.
"Waalaikumsalam..." Ternyata ibu menjawab dari dalam dan membukakan pintu rumah.
"Ibu, mara fikir ibu masih di rumah makan."
"Ibu sudah pulang, mengantar adikmu sepertinya kelelahan." Ibu menatap ke arah juna.
"Saya juna bu, saya temannya mara.." Juna menaruh kantung belanjaannya ke dalam ruang tamu.
"Iya, silahkan duduk dulu nak. Terimakasih sudah mengantar mara." Jawab ibu.
"Kami tak sengaja bertemu bu di supermarket tadi. Pak juna adalah seniorku di kantor bu.." Sontak aku menjawab, aku tak ingin ibu berfikiran yang macam-macam.
Ibu hanya tersenyum menanggapiku. "Terimakasih nak juna, pasti mara merepotkanmu ya? Mara memang seperti ini. Maklumi saja sikapnya nak."
"Iya bu, aku sudah sering memakluminya dan telah terbiasa. Ibu jangan khawatir." Juna membalas ucapan ibu dengan santai.
"Terimakasih sudah mau mengerti nak.. Tunggu ya ibu buatkan minum dulu."
"Tidak usah bu, aku langsung pamit saja. Sebelum itu aku ingin izin pada ibu. Besok pagi aku ingin mengajak mara pergi." Juna secara terang-terangan kepada ibu.
"Ibu izinkan, yang penting hati-hati. Dan pergilah ketempat yang baik. Jangan luoa waktu pulang nak juna." Ibu pun langsung menyetujui saja. Aku menggeleng-gelengkan kepala tak percaya.
"Ibu mengizinkan?? Terimakasih bu.. Aku selalu mengingat pesan ibu."
Junapun pamit untuk pulang. Entah apa yang terjadi hari ini. Ku rasa juna semakin hari semakin dekat denganku. Apakah seperti itu?? Atau aku yang semakin mendekatkan diri padanya??
Sikap ibu pula membuatku heran. Kenapa ibu bosa seramah ini pada juna. Ah, ibu memang selalu ramah dan bersikap baik tethadap orang yang dekat denganku. Tak terkecuali byan, ibupun sangat ramah padanya.
Belakangan ini ibu memang beberapa kali bertanya tentang byan, namun aku selalu bilang jika byan sedang sibuk dengan pekerjaannya di jakarta.
Tak pernah aku bercerita masalahku dan byan belakangan ini kepada ibu.
"Dia lelaki yang baik nak, jangan pernah mengecewakannya.." Ibu menepuk pundakku yang sempat melamun.
"Ibu, mara sudah bilang bukan? Dia hanyalah senior mara."
"Ibu sangat berharap jika hubungan kalian bukan hanya sekedar senior dan junior.."
"Ibu, tak baik memutuskan hal seperti itu. Mara lelah bu, mara ingin mandi."
Ibu hanya tersenyum menanggapiku. Ibu selalu saja begini. Tak mungkin jika aku dan juna bisa lebih dari itu?
Aku akan menghilangkan semua fikiran dan harapan ibu. Aku tak ingin ibu berharap pada juna seperti mengharapkan byan yang kini sudah pergi meninggalkan aku. Apalagi aku ditinggalkan karena wanita lain. Aku tak ingin itu terjadi lagi padaku.
__ADS_1