Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Kecelakan byan dan agatha


__ADS_3

Agatha sejak semalaman terus mengeluh merasakan nyeri pada perutnya, hari ini byan membawanya ke rumah sakit terdekat. Dengan wajah paniknya, byan membantu agatha berjalan menuju mobil. Mungkin sudah waktunya agatha melahirkan, namun usia kandungan agatha jika dihitung masih tujuh bulan.


Agatha terus mengeluh kesakitan, yang membuat byan tak fokus menyetir mobilnya. Hingga byan hendak menabrak seseorang yang akan menyebrangi jalan.


Byan membanting setir kekiri untuk menghindari orang tersebut, namun naas mobil byan malah menghantam dengan keras pohon yang berada disisi jalan.


Setelah kecelakaan itu, byan maupun agatha sama-sama tak tahu apa yang terjadi selanjutnya.


Hingga keesokan harinya.....


"Abi, umi...." Byan membuka matanya, ia melihat sudah ada kedua orang tuanya. Byan berusaha mencoba bangun dari brankar, namun kepalanya berdenyut hebat hingga ia mengurungkan niatnya.


"Byan, jangan bergerak dulu..." Andryani berusaha menenangkan putranya.


"Umi, apa yang terjadi? A...agatha? Dimana agatha umi??" Mata Byan mencari-cari keberadaan agatha diruangan itu.


"Byan... Istirahatlah dulu.." Malik mencoba menenangkan putranya.


"Abi, umi? Dimana agatha? Anak kami, bagaimana juga dengan anak kami?" Byan menatap dalam andryani dan malik secara bergantian.


"Byan, anak kalian baik-baik saja.. Sekarang dia sudah dilahirkan dengan selamat. Dia sedang berada di ruangan bayi." Jelas andryani.


"Byan ingin melihatnya umi..." Byan meneteskan airmata haru.


Malik yang tak tega melihat keadaan byan, segera meraih kursi roda dan membawa byan untuk melihat anaknya. Dari luar ruangan yang berbatas kaca, byan menyaksikan anaknya dengan haru. Ia menatap anaknya yang berada didalam inkubator. Ya, anak byan dan agatha terlahir prematur secara operasi caesar.


"Abi, anak aku baik-baik saja kan?" Dengan deraian air mata byan terus menatap ke arah anaknya.


"Ya nak, putrimu baik-baik saja. Kita doakan agar dia selalu kuat ya nak.." Andryani menjawab dengan dada sesak melihat cucunya dalam keadaan lemah.


"Ya. Kita sama-sama berdoa byan. Kamu yang harus lebih kuat dan menyemangati anakmu." Sambung malik menguatkan.


"Lalu agatha bagaimana? Dimana istriku abi, umi?"


"Agatha sedang diruang ICU, sehabis operasi agatha perdarahan. Kita sama-berdoa juga untuk agatha nak." Malik menjawab, andryani hanya bungkam menahan tangisnya. Tak kuat melihat keadaan cucu dan menantunya. Ditambah lagi byan saat ini pasti sangat terpukul jika mengetahui istrinya sedang kritis.


"Dimana agatha abi? Aku ingin menemuinya.. Antar aku kesana."


Setibanya didalam ruang ICU, terlihat agatha terbaring lemah dengan beberapa selang yang menempel pada tubuhnya. Byan yang melihat itu pun histeris, kini ia kembali menangis dihadapan agatha.


Byan yang mengalami retak tulang pada kaki kirinya, mengakibatkan ia belum bisa sepenuhnya berjalan hingga harus dibantu oleh kursi roda.


"Tha, bangunlah... Lihatlah anak kita sudah terlahir cantik sepertimu. Kamu pun pasti ingin melihatnya bukan?" Dengan suara serak, byan mencoba berbicara pada agatha. Entah itu didengar atau tidak.


"Tha, aku yakin kamu akan sembuh.. Terimakasih sudah melahirkan putri kita dengan selamat dan baik. Sadarlah tha, putri kita sanagt membutuhkanmu.." Byan terus menciumi punggung tangan agatha. Punggung tangan yang kian basah oleh air mata.


"Ini semua salahku, aku sudah membuatmu menderita selama ini. Kandunganmu yang lemah adalah ulahku, Semua ini salahku.. Maafkan aku tha.. Maaf...."


Byan terus merutuki dirinya sendiri, namun tak ada pergerakan sedikitpun dari agatha..


***


🍒Asmara


Pagi ini randy terus menangis, merasakan giginya yang sakit dan pipinya yang terlihat membengkak. Hingga aku dan ibu memutuakan untuk pergi mengantar randy ke rumah sakit.


"Auhhh... Ibuuu... Huuaaa... Huaaa....." Tangis randy terus menangis.

__ADS_1


"Ya sebentar ya nak, kak mara cari taxi dulu.."


Ibu menggendong randy yang terus menangis. Dan aku memutuskan untuk mencari taksi online.


Tinnn!!


Suara klakson mobil di depan halaman rumah.


"Ibu, ada apa ini?" Juna turun dari mobil dengan wajah paniknya.


"Ini nak randy sakit gigi." Jawab ibu kamila.


"Mengapa disini saja, ayo bu kita periksakan ke rumah sakit." Juna membukakan pintu untuk bu kamila dan randy.


"Terimakasih nak, kamu selalu datang di waktu yang tepat."


Juna melajukan mobilnya sedikit cepat, terlihat kekhawatiran diwajahnya. Sesekali juna mencoba menghibur randy dengan leluconnya. Hingga randy pun tertawa terbahak-bahak.


Juna memang selalu begitu, entah kenapa selama aku dan ibu kesulitan juna selalu datang tepat waktu. Mungkinkah juna memang dikirimkan Tuhan untukku?


Dokter memeriksa randy, setelah selesai konsultasi dengan dokter, dokter memeberi resep obat untuk di tebus.


"Bu, mara pergi tebus obat dulu ya.. Ibu tunggu saja disini." Aku pergi untuk menebus obat ke apotek.


"Aku temani.." Juna langsung melangkah mengikutiku dari belakang.


Setelah selesai menebus obat, kami melewati lorong rumah sakit bersamaan. Tatapanku tertuju pada seseorang disana. Seseorang yang menangis menatap ke arah ruangan bayi.


Aku pun mendekat ke arah lelaki yang duduk di kursi roda itu.


"Pak byan?...." Aku terkejut melihat kondisi byan saat ini. Kepala yang di perban, kaki kirinya pun sama.


"Pak..." Mataku tertuju pada juna yang tak hentinya melihat ke arah aku dan byan. Aku pun langsung melepas pelukan byan.


"Pak byan, ada apa? Apa yang terjadi?"


"Kau lihat mara, bayi itu... Bayii ku telah lahir.." Byan menunjukkan tangannya ke arah bayi yang berada didalam inkubator.


"Selamat pak byan... Lalu, kondisi bapak mengapa begini? Apa yang terjadi?"


"Aku dan agatha mengalami kecelakaan, hingga Agatha harus melahirkan secara operasi caesar dan putriku terlahir prematur." Byan menangis tersedu. Aku sungguh terkejut mendengar penuturan byan.


"Yang sabar pak...."


"Agatha, keadaannya saat ini kritis. Aku harus bagaimana mara? Ini semua dosaku? Mengapa harus istri dan anakku yang menanggungnya!"


"Pak, ini cobaan. Bapak tak seharusnya berkata seperti itu..."


Ku arahkan pandanganku pada juna, namun juna berbalik arah meninggalkan aku dan byan sendiri.


Aku hendak menyusul juna tapi hatiku masih tak tega melihat kondisi byan saat ini.


Belum lagi anaknya yang ada didalam inkubator. Bayi itu terlihat lemah, serta beberapa selang yang menempel padanya. Bayi sekecil itu harus merasakan sakit yang luar biasa, kasihan....


"Byan! Agatha sudah siuman. Dia mencarimu...."


"Apa? Antar aku kesana bi..."

__ADS_1


Malik datang mengahampiri byan dan mendorong kursi roda ke arah ruang ICU tempat agatha di rawat.


Aku yang penasaran dengan keadaan agatha pun mengikuti byan dari belakang.


Tanganku tiba-tiba dicekal oleh seseorang yang sontak membuatku terkejut.


"Mas juna?"


"Sudah selesai? Ayo kita pulang.."


"Sebentar mas, aku ingin....."


"Haruskah kau mencampuri urusan mereka?"


"Mas juna, aku hanya ingin tahu keadaan agatha saja."


"Sejak kapan kau mempedulikannya? Ini bukan urusanmu. Ayo kita pulang..."


Juna mencekal tanganku kuat, kutatap matanya yang terlihat semakin marah. Tak pernah juna bertindak seperti ini terhadapku.


"Agatha...." Byan mengahampiri istrinya yang terbaring lemah di atas brankar rumah sakit.


"Ma....maa..s byyy..yan..." Agatha memanggil byan dengan suara yang amat lemah.


"Tha... Kamu sudah sadar sayang...."


"Mas, panggil asmara kesini..."


"Untuk apa tha...?"


"Aku ingin menyampaikan sesuatu.."


Byan yang melihat kondisi istrinya itu pun tak banyak tanya lagi. Ia langsung menuruti permintaan agatha begitu saja.


Hingga akhirnya byan mengahampiriku keluar dari ruang ICU dan memintaku masuk untuk menemui agatha.


"Mara, maaf istriku ingin bicara padamu aku mohon temuilah agatha..." Pinta byan padaku.


Aku menatap kearah juna, terlihat juna menghela nafasnya panjang.


"Juna, tolong izinkan mara menemui agatha.. Istriku sedang kritis..." Pinta byan kini pada juna.


"Maaf, bukan tak mengizinkan tapi ibu sudah menunggu kami.. Permisi..."


"Dimana hati nuranimu arjuna!! Kau sudah tak punya belas kasihan?" Byan kini tengah emosi.


"Mas juna, sebentar saja..." Pintaku pada juna.


"Mara, perasaanku tidak enak. Ayo kita pulang saja kasihan ibu..."


"Mas, agatha sedang kritis dan ia ingin menemuiku. Mungkin agatha hanya ingin meminta maaf padaku."


"Jika agatha memiliki permintaan yang lain bagaimana mara?" Juna kini memancing emosiku. Bagaimana bisa dia tak memiliki perasaan seperti ini.


"Jangan berlebihan mas..."


Aku tak menghiraukan juna. Aku mengikuti byan.

__ADS_1


Aku melepaskan pegangan tangan juna, dan ikut masuk bersama byan....


To be continue.....


__ADS_2