
Agatha tengah memasak mempersiapkan makan malamnya dengan suami juga ayahnya. Pernikahannya dengan rayhan telah berlangsung selama Tiga hari. Namun agatha masih meminta untuk tinggal bersama ayahnya dulu sebelum mereka siap untuk tinggal bersama di korea.
Malam ini agatha memasak ayam rica-rica extra pedas, tumis kangkung, dan tempe goreng. Masakan sederhana namun sangat disukai suami juga ayahnya.
Agatha memang terbiasa memasak sendiri. Asisten rumah tangga hanya sekedar membantu saja.
"Emmm... Masakan putri ayah semakin hari semakin nikmat." Puji afrizal sembari menikmati hidangan dimeja makan.
"Ayah benar, aku makin jatuh cinta pada istriku.." Tambah rayhan lagi.
"Terimakasih semuanya..." Agatha hanya tersenyum menanggapi pujian ayah serta suaminya itu.
"Ayah, besok aku harus ke korea." Rayhan memberitahukan keberangkatannya besok.
"Apa? besok?" Tanya afrizal terkejut.
"Iya ayah.. Ada hal penting yang mendadak. Asistenku baru menghubungi tadi." Timpal rayhan namun mata rayhan mengarah pada agatha yang duduk disebelahnya.
"Lalu agatha? Bagaimana?" Afrizal menuju menatap agatha.
"Aku mungkin hanya satu minggu saja ayah, tidak akan lama. Setelah itu aku akan kembali. Jadi agatha tak perlu ikut." Jawab rayhan dengan senyum ramahnya.
"Apakah itu urusan yang tak bisa diwakilkan mas?" Kini agatha penasaran dan bertanya pada rayhan.
"Ya, hanya sebentar sayang. Aku janji setelah itu akan segera kembali." Rayhan mengedipkan sebelah matanya pada agatha.
"Mengapa kamu tidak ikut saja tha? Sekalian kan kalian berbulan madu?" timpal afrizal.
__ADS_1
"Ayah... Pekerjaan atha disini masih sangat padat. Atha rasa berbulan madu juga tak perlu jauh-jauh, hanya menghabiskan waktu saja.." Agatha meraih gelas dan meneguk airnya.
"Tha? Tidak boleh seperti itu. Barangkali suamimu butuh Quality time bersamamu?" Tanya afrizal lagi.
"Benar begitu bukan rey?" Mata afrizal kini mengarah menuju menantunya.
"Emm... itu bisa difikirkan nanti ayah.." Rayhan hanya mengulum senyumnya.
***
Rayhan meraih koppernya, dan menyusun beberapa pakaian didalamnya. Rayhan juga mempersiapkan berkas-berkas penting yang akan dia bawa besok.
Agatha masuk kedalam kamar membawa secangkir teh hangat untuk suaminya.
"Mas, diminum dulu tehnya.." Agatha meletakkan teh pada meja.
"Sini biar aku bantu mas..." Agatha mendekati suaminya.
"Ah, sudah selesai.." Rayhan merangkul pinggul istrinya dan menuntun kembali kearah sofa didalam kamarnya.
"Mas, apa sebaiknya tidak diwakilkan saja?" Tanya agatha menatap suaminya yang kini tengah menikmati teh buatannya.
"Tidak bisa sayang, ini hanya sebentar. Aku pasti cepat kembali." Timpal rayhan.
"Maaf ya mas, aku tak bisa menemanimu disini pekerjaanku sangat menumpuk." Sembari memandangi wajah suaminya, agatha mengulum senyumnya karna melihat teh yang begitu cepat langsung habis.
"Teh buatanmu sangat nikmat.. Apa ada yang bisa aku nikmati selain teh ini?" Rayhan menatap nanar istrinya.
__ADS_1
"A...apa? Memangnya mas mau menikmati apa?" Agatha terbata menjawab pertanyaan rayhan dengan pertanyaan kembali.
"Aku bertanya, tapi dijawab dengan pertanyaan lagi?" Rayhan menarik nafas dalam.. Kini rayhan merapatkan duduknya dengan agatha. Sangat tak ada jarak lagi diantara mereka.
"Tha? Apakah aku boleh meminta hakku malam ini?" Rayhan sangat to the point kini mereka berdua telah saling berhadapan.
"Mas... a..ku..." Agatha masih terbata-bata.
"Belum siap? Lagi?" Rayhan menatap lekat agatha tanpa berkedip. Agatha sangat salah tingkah menanggapi perlakuan suaminya itu.
"Mas.. Maafkan aku. Aku belum siap!" Agatha menundukkan wajahnya tak berani menatap mata rayhan yang kian menajam.
Rayhan memiringkan sedikit sudut bibirnya. Entah itu senyum sungguhan ataupun pakasaan yang jelas itu sangat berbeda.
"Ok. Aku mengerti. Tapi bolehkah aku memelukmu tha?" Rayhan mencoba meminta izin, sebenarnya ia tak perlu izinpun bisa saja langsung memeluk istrinya itu.
Agatha hanya menganggukkan pelan kepalanya.
Namun belum sempat memeluk istrinya ponsel rayhan bergetar.
Drttt.....Drtttt.....
"Aku angkat telepon dulu yaa tha.." Rayhan mengambil ponselnya yang berada di nakas.
"Iya mas." Agatha mengangguk. Selama beberapa menit agatha memperhatikan suaminya berdiri didepannya dan mengangkat telpon. Sepertinya obrolan mereka sangat serius. Namun agatha tidak dapat mendengar dengan jelas percakapan mereka. Agatha tak dapat lagi menahan kantuknya. Kini agatha menuju ranjangnya dan tertidur.
Melihat istrinya yang tertidur, rayhan langsung keluar kamar takut pembicaraannya di telpon dapat mengganggu tidur istrinya itu.
__ADS_1