Asmara Yang Terlupakan

Asmara Yang Terlupakan
Ciuman pertama


__ADS_3

UGM, itulah singkatannya. Siapa yang tak mengenal kampus ini di jogja? bahkan banyak mahasiswa dari luar kota jogja memilih untuk kuliah disini.


Meskipun aku seorang pekerja, aku sangat bangga bisa menjadi salah satu mahasiswi di kampus ini. Setelah jam mata kuliahku selesai hari ini. Kulangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan kampus. Meninggalkan para mahasiswa lainnya. Saat aku sudah sampai dihalaman depan kampus, kulihat seseorang pria telah menungguku. Dengan balutan kaos putih juga celana jeans selutut nya, dia terlihat semakin tampan. Segera kuhampiri dia disana, sebelum menjadi santapan mata mahasiswi lain yang tergiur padanya.


"Mas byan..." Sapaku menghampirinya.


"Mara.." Dengan senyum manisnya byan menyambutku. Dilingkarkan tangannya pada pinggangku. Entah sejak kapan itu dimulai, tapi ahir-ahir ini sentuhan kontak diantara kami sering terjadi.


"Sudah lama mas?" Tanyaku berbasa-basi. Padahal aku sudah tau dia menungguku selama setengah jam lebih.


"Lumayan, Ayo masuk mobil." Byan membukakan pintu untukku.


"He'umm..." Aku mengangguk pelan.


"Hari ini apakah kamu ada acara lain setelah pulang dari kampus?" Tanya byan sembari memasang sabuk pengaman.


"Tidak ada mas." Jawabku cepat.


"Kamu selalu tidak ada kegiatan setelah ngampus?" Tanya byan lagi.


"Tidak!" Memang aku tidak ada kegiatan lain. Selama kuliah, setelah selesai aku segera pulang kerumah.


"Baiklah, mulai sekarang aku yang akan memberimu kegiatan." Jawab byan dengan melajukan mobilnya perlahan.


"Mau kemana mas?" Sungguh aku ingin tahu, karena arah yang dilewati berbeda dengan jalan menuju rumahku.


"Ikut saja.. Nanti kamu akan tahu." Jawab byan.


Aku mengatur nafasku agar tetap normal. Tak ingin ada rasa curiga pada mas byan. Terserahlah dia akan membawaku kemana yang dia suka.


Selang beberapa menit mas byan menghentikan laju mobilnya di basement apartementnya.


"Ayo, sudah sampai.." Byan melepas sabuk pengamannya dan keluar membukakan pintu untukku.


Akupun keluar dan menurut saja padanya.


"Mas, kita mau ke apartement milikmu?" Tanyaku sembari berjalan dibelakangnya.


Byan berhenti, dan tiba-tiba byan merangkul pinggangku lagi. Tak ada penolakan bagiku, entah mengapa tak ada rasa canggung ataupun risih.


"Kamu tidak mau?" Tanya byan.


"Oh, bukan begitu. Aku mau mas aku hanya bertanya saja. Memangnya tidak boleh?" Jawabku dengan nada sedikit tinggi.

__ADS_1


"Hmmm... Kalau tidak mau aku akan mengantarmu pulang mara." Jawab byan.


Aku hanya diam tak menjawab apapun. Tapi langkah kaki kami tetap terus menuju apartement mas byan.


Kini kami berdua sudah berada didepan pintu apartement milik mas byan.


"Kau bisa menekan angka ini jika ingin masuk." Byan mengatakan kata sandi pintu apartementnya sembari mempraktekannya memberitahu kepadaku.


"Untuk apa mas memberitahuku?" Aku sungguh penasaran.


"Mungkin suatu saat kau butuh aku." Jawab byan sambil berlalu masuk kedalam apartementnya.


"Apa? membutuhkanmu mas? Untuk apa?" Tanyaku tak mengerti maksudnya.


"Kau akan tahu nanti.." Jawab byan sembari mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamunya.


"Hmmm... Kau sangat menyebalkan mas! Kenapa tidak memberitahuku sekarang saja?" Aku mendudukkan tubuhku disebelahnya.


"Mara,sudah kubilang kau akan tahu nanti." Jawabnya lagi yang membuatku semakin kesal.


"Mas.... Sekarang saja!" Timpalku sambil menarik-narik lengannya.


"Haha.. Nanti saja mara!" Jawab byan lagi, sembari tertawa kecil.


"Awww....Aduhhhh sakit maraaaaa!" Byan mencekal kedua tanganku dengan tangannya. Dihadapkannya wajahnya didepan wajahku.


Ada perasaan bersalah dihatiku. Wajah mas byan terlihat memerah serta ada aura kesal dimatanya. Aku menundukkan kepalaku dalam diam. Tak berani kutatap wajanya, namun wajah mas byan terasa semakin mendekat kearahku. Dapat aku rasakan hembusan nafasnya yang teratur dan hangat. Ada apa dengan jantungku?? Mengapa degupan jantungku semakin menjadi dan menjadi lagi.


"Mara?... Bolehkan aku menciummu?" Tanya mas byan dengan suara lirihnya yang sangat jelas ditelingaku.


"Mas...aku..."Aku tak bisa menjawab pertanyaannya. Aku hanya bisa mematung, seakan jantungku akan berhenti berdegup. Namun yang ada jantungku malah semakin kencang degupannya.


"Kau tak mengizinkanku melakukannya?" Tanya mas byan lagi. Membuatku semakin mematung.


"Mas...aku tak pernah melakukannya!" Jawabku sembari memejamkan mataku.


"Aku yang akan melakukannya, dan...... Yang akan mengajarimu!" Jawabnya lagi, kini nafas mas byan semakin terasa. dan dia mendaratkan ciumannya dipipiku. Ciuman pertama bagiku.


Cupppp!!!! Pipi kakanku. Aku membuka mataku yang sempat terpejam, namun kini wajahnya tepat sekali didepan mataku. Sangat dekat, mungkin hanya beberapa senti saja.


Mas byan meraih daguku, kini tatapan tajam matanya bak mata burung elang yang hendak memangsa buruannya. Benar-benar sangat tajam. Semakin didekatkannya daguku, kini mas byan meraih bibirku. Dapat aku rasakan hembusan nafas hangat dan wangi mint dari mas byan. Jantungku tak dapat diajak berkompromi. Mengapa jantungku ini terus menerus berdegup kencang? Apakah begini rasanya saat berciuman?? Akh... aku memang tak tahu segalanya yang menyangkut hal ini.


"Bibirmu sangat indah mara.." Byan mendaratkan bibirnya pada bibirku.

__ADS_1


Kini mas byan sudah berhasil meraih bibirku. Dikecupnya dengan sangat lama. Oh.. Rasanya seperti ini, sensasi yang berbeda baru kali ini aku rasakan. Tak ada penolakan sedikitpun dariku. Aku bahkan hanyut dalam belaian tangannya yang terus mengusap-usap puncak kepalaku. Dengan tangan sebelahnya yang menggenggam erat tanganku yang terasa telah mengeluarkan keringat dingin.


Kini mas byan melepaskan kecupannya. Kami berdua saling bertatapan, tak ada reaksi apapun diantara kami kecuali nafas yang memburu. Oh, haruskah aku hentikan ini? bahkan aku sangat menikamati sensasi seperti ini!


"Mas..."


"Kau mau lagi?" Mas byan memotong ucapanku. Seakan paham keinginanku yang kini ditunda.


Aku langsung membuang muka Karna wajahku kini tampak sudah memerah seperti tomat. Ku tegapkan pandanganku dan berdiri dari dudukku.


"A..aku mau minum mas!" Aku pergi kearah dapur menuju lemari pendingin. Kubuka dan kuambil sebotol air mineral dan kuteguk hingga habis.


"Akh......!!!" Ku tutup pintu lemari pendingin itu dan kubalikkan tubuhku. Namun apa yang terjadi? ternyata mas byan sudah ada tepat dibelakangku.


"Maaa...mauu apa kamu mas?" Aku bertanya gugup.


"Aku mau kamu mara.." Mas byan merapatkan tubuhnya dan mendorongku hingga tubuhku tepat menempel pada lemari pendingin.


"Mas... Apa yang kamu lakukan?" Tanyaku lirih tanpa menatapnya.


"Mara, apakah kau menyukaiku?" Tanya byan.


"Ya.. Aku menyukaimu maass!" Timpalku dengan pasti.


"Sangat??" Tanyanya lagi.


"Sangatt dan sangat menyukaimu mas!" jawabku tanpa ragu.


Tanpa basa-basi byan langsung mendaratkan bibirnya kembali pada bibirku. Kini byan melakukannya dengan berbeda. Byan telah ******* bibir atas lalu kembali ******* bibir bawah secara bergantian. Aku tak membalas ******* itu. Aku belum bisa melakukannya. Ini pertama kali bagiku, akupun bingung harus bagaimana. Aku hanya bisa diam saja menerima perlakuan mas byan terhadapku.


Tangan byan kini berada di pinggulku. Tangan yang satu lagi berada di tengkuk leherku, semakin lama semakin panas dan aku semakin menikmatinya. Hingga tak dapat ku tahan lagi..


"Eughhhh mass..." Dengan nafas memburu, aku menatap lekat byan yang telah melepaskan ******* bibirnya.


"Mara....." Nafas mas byan terdengar terengah-engah.


"Mas, apa kau menyukaiku?" Kini aku bertanya padanya. Aku sungguh ingin tahu, mengapa dia berani melakukan ini padaku.


"Jika ya mengapa? dan jika tidak harus bagaimana?" Mas byan malah balik bertanya.


"Jawab saja ya atau tidak!" Sentakku kesal.


"Heeeh, bahkan kau tidak bisa merasakannya?" Mas byan tersentum miring. Hingga kini ia meninggalkanku sendiri di dekat lemari pendingin. Entah kemana dia melangkah. Aku masih terpaku dengan apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


__ADS_2