
Sembari menunggu agatha solat, di ruang tamu byan meraih ponselnya mencari kontak umi untuk menelponnya.
"Assalamualaikum umi.. Umi sudah sampai?" Tanya byan.
[Waalaikumsalam.. Sudah nak umi sudah sampai rumah alhamdulillah dengan selamat]
"Umi, byan ingin menanyakan sesuatu?"
[Apa nak, tanyakan saja? oohh ya bagaimana dengan calon menantu umi? kalian sudah jalan-jalan kan?]
"Atha baik umi, lagi solat.. Byan mau tanya mi..."
[Alhamdulillah...Ya nak, tanya apa?]
"Itu, emm itu mi.. Kira-kira mas kawin apa yang cocok untuk agatha mi?"
[Mas byan dong.. Hihiiihii...]
"Ah, umi byan serius! Byan ingin segera menikahi atha mi.."
[Apppaaaa??? kamu apa kan agatha byan? mengapa secepat ini? Ya allah byan ingat dosa nak? umi tidak menyangka kamu tidak bisa menahan diri!!!]
Umi memutuskan sambungannya sepihak, sepertinya umi salah paham. Justru byan ingin segera menikahi agatha agar terhindar dari hal yang tak di inginkan..
Mengingat kejadian hari ini, byan sungguh tak dapat menahan diri. Byan takut jika semakin lama byan sudah tak bisa lagi dikendalikan..
"Mas?" Agatha keluar kamar menghampiri byan di ruang tamu.
"Emm.. sudah siap?" Tanya byan.
"Ya mas.."
"Baiklah, ayo kita pergi..!"
Sesampainya di basement, byan menuju mobilnya. Byan membukakan pintu untuk agatha.
"Terimakasih mas," Agatha melemparkan senyuman manisnya pada byan.
Byan hanya mengangguk mengitari mobil dan duduk ke kursi kemudi.
Byan menatap sebentar agatha yang tengah melihat ke arah luar jendela. Byan membungkukkan badan kearah kiri hingga sedikit menyentuh tangan agatha, merasakan ada hal yang janggal padanya agatha terkejut.
"Pasang sabuk pengamannya.." Byan langsung meraih sabuk pengaman pada agatha.
"Maaf, atha lupa mas.." Agatha sedikit gugup.
Byan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, Tak ada obrolan sama sekali di antara byan dan agatha. selang beberapa menit mereka telah sampai di super market yang jaraknya tak begitu jauh dari apartemen byan.
***
Byan meraih trolly mengekori agatha yang sibuk memilah-milah sayur-mayur segar.
"Mas suka brokoli??" Tanya agatha sembari memegang brokoli ditangannya.
"Tidak!" Jawab byan singkat.
"Hmmmmm, kalau begitu kita beli sayuran yang lain saja.." Jawab agatha sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tidak usah, ambil itu saja.." Jawab byan lagi.
"Katanya mas byan tidak suka?" Agatha bertanya heran. Calon suaminya ini plin plan sekali fikirnya.
"Aku suka jika kamu yang memasaknya!" Byan meraih brokoli yang telah diletakkan agatha dan memasukkan ke dalam trolly belanja.
Mendengar ucapan byan, agatha tersenyum sumringah hingga pipinya terlihat kemerahan.
Selesai memilih sayur-mayur, agatha mengarah ke tempat peralatan dapur byan pun mengikuti calon istrinya itu.
Agatha meraih spatula berbahan kayu ringan, di ambilnya spatula itu dan di letakkannya ke trolly.
"Untuk apa ini? bukannya di apartement sudah banyak benda ini?" Tanya byan heran. Byan mengingat dapurnya memiliki spatula lebih dari satu buah. Lalu untuk apa lagi atha membelinya.
"Itu mass, anu... emm... umi menyuruh atha membelinya!!." Jawab atha terbata-bata agatha bejalan dengan cepat. Byan membuntutinya dengan cepat pula.
"Umi?? untuk apa?" Tanya byan lagi, kini byan dan agatha sudah berjalan beriringan.
"Ini spatula spesial untuk mas byan.." Jawab agatha sedikit lirih.
"Untukku? untuk apa tha?" Byan bertanya semakin bingung.
"Buat mukul mas kalau mas macam-macam!" Agatha berlari kecil meninggalkan byan. Sungguh agatha sangat malu hingga wajahnya tampak memerah.
Ya sebelum keberangkatannya ke supermarket, agatha sempat mendapat pesan dari umi andryani.
[Tha, kalau mas byan macam-macam pukul saja pakai spatula kayu atau sekalian saja sama teflonnya!!]
Mengingat itu, agatha tak mungkin memukul byan dengan teflon itu sangat keterlaluan. Hingga agatha memutuskan untuk membeli spatula kayu saja.. Ya cukup lumayan buat jaga-jaga fikirnya.
__ADS_1
Sibuk dengan lamunannya, hingga tak sengaja agatha menabrak seseorang.
BRUKKK!!
"Aduh...." Seorang wanita itu mengaduh dan terjatuh di lantai.
"Ya Allah mba, maaf ya aku tidak sengaja." Agatha meraih tangan wanita itu membantunya untuk berdiri.
"Hm.. ya tak apa." Jawabnya datar meninggalkan agatha.
"Mba tunggu, apakah ada yang rerluka?" Tanya agatha takut. Agatha mengekori wanita itu.
"Tidak!" Jawabnya singkat.
"Sekali lagi maafkan saya ya mba?" Agatha memelas dan terus mengikuti wanita itu yang berjalan di depannya.
"Ok." Jawabnya lagi.
"Mba, ini kartu nama saya. Jika ada yang sakit atau ada masalah karena mba jatuh tadi silahkan hubungi saya." Agatha mengeluarkan kartu nama dari tasnya dan memberikan pada wanita itu.
"Hmmmm.. Tak perlu berlebihan!" Wanita itu menarik nafas panjang, segera ia meninggalkan agatha.
Agatha sungguh tak menyangka, ada wanita cuek dan sedikit menyebalkan untuknya. Meskipun wanita itu terlihat lebih muda darinya, tapi wanita itu terlihat sangat acuh dan tak perduli pada orang lain. Agatha memang bersalah telah menabraknya tanpa sengaja, namun tak sepantasnya wanita itu bersikap acuh!
Manusia memang diciptakan berbeda-beda, namun sikap dan raut wajah seperti wanita tadi sangat menyebalkan. Semoga saja agatha tak akan pernah bertemu dengannya kembali.
"Atha...!!!" Byan memanggil agatha dari belakang.
"Mas?" Mendengar suara byan, Agatha langsung menoleh ke arah belakang.
"Hmmm... aku mencari mu? kau tak apa?" Byan meraih tangan agatha dengan wajah khawatir.
"Tak apa mas.. Maaf membuat mu mencari ku.." Agatha tersenyum kecil pada byan.
"Hmmm syukurlah.. Apa ada yang akan kau beli lagi?" Tanya byan.
"Sudah mas.. Trolly nya sudah penuh." Jawab agatha.
"Kita bisa pakai trolly satu lagi tha.."
"Jangan mas.. Itu namanya pemborosan!"
"Ini tak seberapa.. Aku bisa membelikan apapun yang kau mau tha"
"Sudah mas, lebih baik uangnya di tabung untuk tambah-tambah biaya pernikahan ki...." Agtha terkejut dengan apa yang ia katakan. Hingga agatha tak melanjutkan kata-katanya.
"Baiklah.. Uangnya akan ku tabung dan membeli mas kawin pernikahan." Sambil tersenyum kecil byan melajukan langkahnya menuju kasir.
Hari sudah menjelang hampir maghrib. Byan dan agatha tiba di apartement dengan beberapa kantong belanjaan.
Byan meletakkan kantong-kantong itu di meja makan. Di lihat nya agatha langsung pergi ke kamar tamu.
Tak lama kemudian, agatha membuka pintu kamar dan sedikit menonjolkan kepalanya keluar pintu sembari memanggil byan.
"Mas... mas byan...." Agatha melambai-lambaikan tangannya.
"Iya tha? ada apa?" Byan mencoba mendekatinya. Namun agatha melarang.
"Stop! tetap di situ..... Jangan mendekat mas!!" Agtha sedikit meninggikan nada suaranya.
"A..ada apa? apa ada yang harus ku bantu?" Byan bingung dengan sikap agatha.
"Mas.... anu..." Agatha terbata-bata, hendak mengatakan sesuatu yang membuat byan tak mengerti.
"Ada apaaa tha?" Wajah byan terlihat khawatir.
"Itu mas.. atha mau minta tolonggg!!!!" Wajah agatha memucat.
"Iiyaaa.. Minta tolong apa? katakan saja!" Byan sungguh tak sabar. Mengapa calon istrinya ini bertele-tele.
"Mass... tolong...." Agatha memasang wajah melas.
"Iyaa tha, Kenapa? Ada apa denganmu?" Byan mencoba mendekati agatha yang hanya menonjolkan kepala saja di balik pintu kamar.
"Mas.. tolong aku... Hiksss.. Hiksss" Agatha tiba-tiba menangis membuat byan semakin bingung.
"Sayang... ada apa?" Byan semakin kebingungan.. Hingga tak sadar jika ia telah memanggil agatha dengan sebutan sayang.
Agatha menutup pintu kamar dengan cepat namun tak bersuara.
Byan mendekati pintu dan mengetuknya berkali-kali..
Tokkk...Tok.....!!!!! Tokkkk tokkk!!
"Thaa.... bukaaa pintu nya.. ada apa dengan mu?? Apa ada yang salah dengan ku?" Byan terus memanggil agatha dari luar kamar.
Namun sepertinya agatha tak menghiraukan itu, hingga byan menempelkan telinganya tak terdengar suara apapun dari balik pintu kamar.
__ADS_1
"Tha?? Apa mau mu? apa yang terjadi? apa kau sakit?" Tanya byan lagi.
Lagi-lagi agatha tak merespon panggilan byan.
***
Di dalam kamar, agatha segera meraih ponsel dan menelpon umi.
[Assalamualaikum... Hallo nak? athaaa.. ada apa dengan mu? mengapa kamu menangis?] Suara umi andryani di seberang sana terdengar khawatir.
"Umi, atha tidak kenapa-napa. Atha mau minta tolong sama umi.. hiksss..hiksss"
[Ada apa nak? byan melakukan apa? biar umi dan abi menjemput mu ya sekarang?]
"Tidak usah mi.. Atha baik-baik saja..! Umi hanya perlu menelpon mas byan dan meminta tolong membelikan atha P******t! Atha bingung mi harus bagaimana? atha tak memiliki keberanian untuk minta tolong pada mas byan! Hikss...Hikss..." Atha terus terisak menangis..
[Astaghfirullah..! baiklah umi segera menelpon byan nak!] Umi andryani memutuskan sambungan telponnya.
***
DRTTTTTT..... DRTTTTTTT.....
Ponsel byan bergetar, segera ia meraih ponsel di saku jaketnya.
"Assalamualaikum umi..."
[BYAN!!!! keluar sekarang, cepat ke mini market bawah..!!!]
"Umi, ada apa tiba-tiba memerintah byan?"
[Cepat...... jangan banyak tanya!]
"Baik umi."
Byan berlari menuju lift dan menekan tombol lantai dasar, hingga kini ia berada di lantai dasar dan berlari menuju mini market.
"Hallo, ummi? byan sudah di mini market bawah. Tak ada umi disini?" Tanya byan pada uminya yang masih tersambung melalui telepon. Byan menoleh kekiri dan kekanan mencari keberadaan uminya.
[Masuk nak.. Beli benda merk C***M, Kalau tak tahu tanya saja pada kasirnya.]
"Umiiii... Apa-apaan ini? mengapa permintaan umi aneh sekali! Byan tak mengerti!" Byan bertanya semakin tak mengerti pada uminya. Umi sedang di jakarta, mengapa harus memintanya membeli benda yang sangat asing baginya! Untuk apa? pikir byan.
[Byan... jangan membantah... jika sudah dapat, segera berikan pada atha.. Agatha sedang membutuhkan benda itu sekarang juga! Cepat!!]
"Baik umi." Byan bergegas ke dalam mini market. Byan mencari-cari merk benda yang disebutkan uminya tadi. Namun byan tak kunjung menemukannya. sebenarnya benda apa itu? byan sangat tak mengenalnya.. Hingga beberapa kali byan mengitari rak demi rak, akhirnya byan menemukannya.
Byan segera mengambil beberapa buah benda itu. Karena benda merk itu ada beberapa warna dan berbeda menurutnya. Daripada ia salah, lebih baik ia membeli semua jenis benda bermerk C***m itu.
Byan menyadari beberapa orang memperhatikannya. Beberapa wanita disana pun sedikit berbisik.
"Wah, sudah tampan dan keren tapi belinya pembalut! Banyak pula? Apakah dia sangat menyayangi kekasihnya?? hihiii" Wanita disana setengah berbisik pada teman wanita yang lain. Namun byan masih dapat mendengarnya. Byan tak menanggapi mereka, setelah selesai membayar pada kasir byan segera berlari menuju apartementnya.
Byan segera masuk ke dalam apartementnya, mengetuk pintu kamar tamu yang di tempati agatha selama tinggal di apartement milik byan.
Tokkkk....Tokkk!
"Tha, ini aku sudah membelikannya.." Byan bersuara lirih. Mendengar suara byan, atha langsung membuka pintu dan mengeluarkan satu tangannya..
"Sini mas..."
Byan langsung memberikan satu kantong plastik besar pada tangan agatha. Agatha meraihnya dan segera menutup pintu.
"Astaghfirullah... Banyak sekali? ini mah cukup untuk stok satu tahun!" Agatha menepuk jidatnya.
Di luar sana byan masih menunggu agatha.. Byan terlihat Seperti setrikaan yang maju dan mundur beberapa kali di depan pintu kamar menunggu agatha Namun agatha tak kunjung ke luar kamar.
CEKLEK! suara knop pintu terbuka.
Agatha ke luar kamar ia hendak menuju dapur untuk mengambil air minum, rupanya agatha tengah haus akibat menangis sesegukan tadi. Ya, menangis hanya karena tidak memiliki keberanian untuk meminta tolong pada byan!! Sangat lucu!! Namun agatha terlihat begitu terkejut dengan keberadaan byan di depan pintu. Byan mengamati agatha yang baru saja ke luar kamar, dengan rambut yang di bungkus handuk, mengenakan bathrobe berwarna hijau muda sedikit di atas lutut, wajahnya begitu segar dan halus namun terlihat matanya yang sedikit sembab..
"Mas byan?" Agatha membulatkan matanya, Ia hendak berbalik arah meraih knop pintu.
Namun byan segera meraih satu tangan agatha..
"Tha, apa kamu baik-baik saja?" Byan menelan salivanya, menyaksikan penampilan agatha yang terlihat berbeda sehabis mandi dan sangat melemahkan imannya.
"Ya mas.." Agatha melepaskan tangannya. Mendapat perlakuan agatha, byan salah tingkah. Ia takut agatha akan marah padanya karna telah menyentuhnya.
"Kau mau kemana? apa ada yang bisa ku bantu?"
"Aku hanya ingin ke dapur mas, mau minum.." Agatha melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke dapur.
Melihat agatha tergesa seperti ketakutan, byan semakin merasa bersalah..
"Maaf tha.. Apakah setakut itu kamu padaku?"
Agatha menghentikan langkahnya..
__ADS_1
"Atha tidak takut mas, atha haus..." Jawab agatha melanjutkan langkahnya.