
Zian mengurus keberangkatan nya untuk pergi dengan Trisna.
Trisna akan melakukan kuliah jarak jauh untuk waktu yang tidak bisa di tentukan.
Hari ini, Zian akan membawa Trisna ke kota itu. dengan harapan Trisna bisa memulai hidup baru nya disana.
Zian masuk ke dalam kamar Trisna. Zian akan berangkat sore ini sekitar jam 5 sore, dan akan tiba disana saat tengah malam.
"Sayang" Zian
"Kamu ngapain?" Zian
Nampak Trisna sedang merapikan pakaian nya dan mengisi nya kedalam koper.
Trisna masih tidak mau bicara, Luka memar ditangan nya belum menghilang.
Setiap melihat luka-luka ditubuhnya membuat Trisna mengingat kembali apa yang sudah ia alami.
Trisna tau jika hari ini ia akan pergi bersama Zian. makanya Trisna menyiapkan baju-baju yang akan dia bawa.
Trisna tidak pernah repot dengan barang-barang nya. Karena semua keperluan nya hanyalah Pakaian saja. Trisna jarang menggunakan aksesoris dan make up.
Yang dia tau, jika apapun keadaan nya. Zian akan tetap menerima nya.
Zian mendekat pada Trisna dan membantu nya memasukkan baju ke dalam koper.
Baru kali ini Zian merasakan rasanya di cuekin oleh orang lain. Selama ini Zian sangat dingin pada orang dan bicara hanya seperlunya saja.
"Mau jalan-jalan melihat kota ini sebelum pergi?" Zian
Trisna melihat Zian dan menggelengkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan pergi ke kantor. Kau tunggu dirumah ya" Zian
__ADS_1
Zian mengecup kening Trisna sebelum pergi. Zian keluar dari kamar dan pergi keruang kerja nya untuk mengambil berkas-berkas yang akan ia bawa.
Trisna berdiri dan mengambil buku diary nya. Ia berjalan keluar melewati pintu kamar.
Trisna membuka pintu utama rumah nya. Sebuah mobil hitam berhenti dihadapan nya.
Trisna berjalan mundur perlahan-lahan, Mobil yang mirip dengan mobil yang pernah menculiknya.
Kaki nya terlihat kaku untuk melangkah. Trisna memeluk erat buku diary nya.
Nampak dua orang turun dari mobil dengan senjata ditangan nya.
Mereka mendekati Trisna.
Disaat itu juga, Trisna berteriak histeris. Dan meminta tolong.
"Nyonya, ada apa?" Pria berbaju hitam
Trisna tambah menangis saat orang itu bertanya kepadanya. Trisna jatuh kelantai dan terduduk.
James memegang tangan trisna, Namun Trisna malah semakin bergetar. Ia menangis terisak-isak.
Pelayan yang lewat melihat adegan itu, ia segera berlari dan mendatangi ruangan Zian.
"Tuan-tuan" Pelayan
"Masuk" Zian
Pelayan itu membuka pintu.
"Nyonya tuan, nyonya" Pelayan itu menunjuk arah pintu utama" Pelayan
Zian segera meninggalkan dokumen nya dan berlari. Ia melihat Trisna yang jatuh dilantai namun tak seorang pun yang membantu nya. Trisna menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Zian menghampiri Trisna dan memeluk tubuhnya.
Trisna marah saat disentuh, ia memukul-mukul Bahu zian sambil menangis.
"Ini aku, Sayang" Zian
Trisna terus menangis histeris seperti sedang menangisi orang meninggal.
"Trisna, ini Daddy" Zian
"Di-a memukul ku'" Trisna menangis dan air matanya mengalir deras. tubuhnya terus bergetar hebat bersamaan dengan keringat dan air matanya yang mengalir.
Zian melihat pada James dan anak buah nya. Mereka semua menggeleng tanda tak tau siapa yang memukul Trisna.
"Dia juga menampar ku dad hiks hiks hiks..." Trisna
Zian hanya bisa mendengar nya semua yang dikatakan Trisna. Zian mengelus-elus rambut panjang milik Trisna.
Kebencian di dalam hatinya membuat dendam yang amat dalam pada Robert.
"orang, i i-itu menarik tanganku masuk kedalam mobil nyaa"
"Dia juga akan membunuh Daddy hiks hiks hiks" Trisna terus menangis di dalam pelukan Zian. Suara isakan-isakan tangis nya membuat Zian tak tega memikirkan apa yang telah terjadi pada Trisna.
Hingga saat Trisna lelah dengan tangisan nya. perlahan-lahan ia mulai berhenti dan menutup matanya. ia benar-benar tertidur sekarang.
-
-
-
-
__ADS_1
Happy reading all ❤️