
"Loh kok tanya Gue sih, ini benar alamatnya, Lo lihat sendiri kalau gak percaya," ucap Azka lalu menyerahkan kembali kertas itu sama Kia, Kia melihatnya dan ternyata benar itu alamatnya.
"Turun Lo, Gue lagi buru-buru," ujar Azka sambil mendorong kia agar keluar dari mobilnya.
"Iya... iya, bentar napa," ucap Kia melepas Seatbeltnya namun dia terlihat kesusahan dan kembali melihat ke arah Azka sambil cengengesan.
"Kak Azka bisa bantuin gak he..he..,"
"Ogah, entar Lo gampar Gue lagi," ucap Azka
"Enggak Kok, kan kali ini aku yang minta," Azka kemudian mendekatkan tubuhya perlahan sehingga Kia menahan nafas dengan Dadanya yang berdegup kencang ketika wajah Azka tepat berada di depan wajahnya.
Ceklik...
Azka menoleh ke arah Kia, jarak wajah mereka hanya berjarak 5 centi saja sehingga manik mata mereka bertemu.
Deg...
Tanpa aba-aba jantung Azka juga mulai berdetak kencang dan Reflek Azka menjauh dari Kia, keadaan menjadi kikuk, Azka memperbaiki duduknya sedangkan Kia memegang dadanya sambil menoleh ke arah lain.
"Sudah Lo keluar sana, gue mau pergi," suara Azka memecahkan keheningan.
__ADS_1
"Iya..iya.. bawel amat sih, " ucap Kia lalu keluar dari mobil itu.
Azka melajukan mobilnya sambil memegang dadanya.
"Apa yang terjadi sama Gue, kenapa jantung Gue berdetak lebih cepat, Gue merasa sesak," ucap Azka lalu memejamkan matanya, Azka tidak menyadari kalau taman yang dia tuju sudah kelewatan, dia baru menyadarinya ketika bertemu persimpangan dan dia mengerem mendadak.
"Lah Kok bisa sampai di sini sih, ini semua gara-gara Kia," ucap Azka mendengus kesal dan berbelok untuk kembali ke Taman.
Sementara Kia juga masih merasakan hal yang sama, dia masih memegang dadanya.
"Ini kenapa Sih, apa Aku suka sama Kak Azka, Enggak... enggak itu tidak boleh terjadi, Hanya Bad Boy yang bisa menempati hatiku, aku tidak boleh membiarkan semua ini, mulai sekarang aku harus menghindari yang namanya Azka, huff... semangat Kia, Sekarang yang harus aku lakukan adalah memberikan gaun ini kepada pemilik Rumah ini." Ucapnya lalu mulai menekan Bel Rumah itu.
Terlihat seorang Satpam membuka Gerbang itu sambil tersenyum.
"Neng ini Neng Kia ya, silahkan masuk saja Neng, Nyonya sudah menunggu Neng di dalam," ujar Satpam itu.
"Wah ternyata benar ini Rumahnya, Ibu memang keren bisa mendapat pelanggan kaya raya seperti ini, dua jempol deh buat ibu," ucap Kia sambil terus saja berjalan menuju Rumahnya.
Ting nong...
Ting nong....
__ADS_1
Kia memencet bel Rumah itu dua kali, ketika hendak memencetnya lagi Pintu itu sudah di buka oleh seorang ibu-ibu tua yang tersenyum manis ke arahnya.
"Non Kia ya, mari silahkan masuk Non," ujar Wanita itu yang kia yakini adalah pembantu di sana.
Kia heran kenapa Orang-orang di rumah itu sangat ramah kepadanya, namun dia tak mau ambil pusing karena dia ke sana hanya ingin mengantarkan Baju milik yang empunya rumah itu.
"Eh Kia, mari duduk di sini," ujar wanita paruh baya yang seumuran Ibunya akan tetapi Masih sangat cantik karena mungkin dia orang kaya dan selalu terawat, tidak seperti ibunya tidak pernah sempat merawat diri.
"Ibu dengan Ibu karin?" Tanya Kia
"Jangan terlalu Formal nak Kia, panggil saja Ibu, kan setelah Lulus sekolah Kamu akan menjadi menantu Ibu," ucap Karin yang membuat Kia tersedak.
"Uhuuk... uhuuukk...
Karin memberikan Minuman kepada Kia, sambil menepuk punggung Kia.
"Apa saya tidak salah dengar Bu, ibu jangan bercanda, Saya tidak mengenal ibu dan kenapa Ibu bisa ngomong seperti itu?" Kia Binggung dengan semua yang di dengarnya tadi.
"Apa Ratna tidak Mengatakannya padamu Kia, Kamu dan Andika sudah kami jodohkan sejak Kecil," ucap Karin
"Ibu jangan Bercanda ah, ibu ngeprank aku ya?"
__ADS_1
...Bersambung......