
Azka masih saja diam sehingga membuat Andika semakin geram. Ketika Andika hendak meninju kembali wajahnya, Azka mulai buka suara.
"Stop! Oke, gue ngaku. Semua ini memang salah gue Om, Kia di culik gara-gara gue," Teriak Azka menahan pukulan Andika. Andika semakin marah.
"Terus di mana dia sekarang hah?!" bentak Andika dengan mata merah menyala. "Gue gak tau Om," jawab Azka.
"Bajingan! Bugh.... Arrrghhh..."
Azka kembali berteriak kesakitan ketika Andika memukulinya lagi.
"Katakan di mana Kia! Kalau Lo masih diam gue bunuh lo!" Andika tidak main-main dengan ucapannya, dia sudah memegang sebilah pisau yang siap menembus jantung Azka.
"Kak Andika, Stop! Kia di culik oleh Bima, memang Azka yang menyuruhnya tapi Bima tidak membawanya ke tempat Azka tapi membawanya ke tempat lain yang Azka sendiri tidak tau," Tiba-tiba Kimora dan Bryan datang dan menjelaskan kepada Andika.
__ADS_1
Andika menatap tajam ke arah Azka menunggu penjelasan darinya.
"Maafin gue Om, gue tidak menyangka kalau semua akan jadi seperti ini. Gue hanya ingin pertunangan itu batal. Sumpah gue tidak berniat menyakiti Kia, gue cinta sama dia Om,"
"Diam Lo, mulut lo tak pantas mengatakan kata cinta untuk Kia. Kalau Lo benar-benar cinta sama dia seharusnya Lo bahagia kalau dia bahagia. Tapi apa yang telah lo lakukan padanya hanya membuat dia tersakiti. Mengerti Lo hah!" Andika membanting belati yang ada di tangannya dengan kasar.
"Sekarang permintaan maaf Lo sudah terlambat, Lo harus membantu gue untuk menemukan Kia, apa Lo tau rumah teman lo itu? tanya Andika.
" Iya Om, gue tau tapi ... tapi gue gak yakin kalau Kia di bawa ke sana, gue tau kakaknya pasti akan marah kalau tau dia berbuat kriminal. Kakaknya seorang anggota kepolisian Om," jelas Azka.
Sementara Kia masih saja sesekali membuka matanya hanya untuk mengintip Bima yang duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari ranjang tempat dirinya terbaring. Terlihat Bima menguap, dia kelihatan sangat lelah dan tak lama kemudian Bima tertidur. Kia tidak membuang waktu lagi, dia tidak ingin melewati kesempatan itu.
Dengan segera Kia melepaskan ikatan tangannya yang memang sudah longgar lalu kemudian juga melepas ikatan kakinya. Kia ingin segera pergi dari sana tapi dia teringat dengan Ibunya yang entah di mana. Seketika timbul ide di kepala Kia. Dengan bermodalkan tali itu Kia segera mengikat Bima di kursi yang didudukinya.
__ADS_1
"Ini orang tidurnya kebo banget sih, gue sudah ikat begini tapi dia malah makin nyenyak tidurnya. Tapi bagus deh kalau dia begitu, kan gue gak perlu repot-repot untuk melawannya. Lagian ini anak kenapa sih sampai menculik gue, dia pasti di suruh sama Azka." guman Kia.
"Sepertinya kalau menunggu dia bangun pasti akan lama, lebih baik gue cari air untuk menyiramnya," ucapnya lagi lalu dia hendak keluar dari kamar itu tapi ternyata pintunya di kunci.
"Sial, pintunya di kunci lagi, sebaiknya gue gelitik saja dia biar bangun," ucap Kia lalu segera melakukannya. Dia mulai menggelitik Bima dan benar Bima akhirnya terbangun dari tidurnya. Bima kaget mrndapati dirinya sudah terikat di Kursi yang dia duduki. Awalnya dia tidak takut kalaupun Kia sudah sadar tangan dan kakinya tetikat, jadi walaupun dia tertidur Kia tidak bakal bisa kabur. Namun apa yang ada di pikirannya ternyata berbanding terbalik dengan kenyataannya, dia sendiri yang terikat sekarang ini.
"Lepasin aku Kia!" Bima meronta tapi ikatan Kia sangat kencang sehingga Bima tidak bisa berkutik.
"Lepasin Lo? Apa gue gak salah dengar hah! Lo yang nyulik gue kenapa gue harus berbelas kasihan sama lo. sekarang kasih tahu gue, siapa yang menyuruh lo menculik gue?" Kia menatap tajam ke arah Bima.
"Lepasin gue dulu baru gue kasih tau siapa yang menyuruh gue," ujar Bima.
"Ternyata Lo mau main-main sama gue ya, lo gak tau siapa gue hah!" ucap Kia sambil menyerigai.
__ADS_1
Bersambung... ?