
Kia semakin deg-degan, ketika Tangan itu lepas dari matanya dia cepat-cepat membukanya namun cahaya silau membuat matanya kembali terpejam.
Cahaya itu seolah menusuk tajam ke dalam retina matanya, ingin sekali dia cepat-cepat membuka matanya agar dia segera melihat sosok yang sangat di rindukannya itu.
Rasa penasaran menyelimuti hati Kia yang senantiasa menantikan semuanya menjadi nyata.
Perlahan Kia membuka sedikit demi sedikit netranya dan kini ternyata tiada cahaya yang menyilaukan matanya lagi, cahaya itu seakan sirna dengan kehadiran sosok pria tampan nan menawan di depannya.
"Kak Dika!"
Satu kata lolos dari bibir mungilnya, sebuah senyuman terpancar dari wajah pria tampan yang memegang sebuket bunga mawar di tangannya.
"Iya Kia, Ini aku," ucapnya berjalan menghampiri Kia dengan gagahnya.
keduanya salin pandang dan tersenyum seakan tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Plak....
Tiba-tiba Sebuah tamparan mendarat di pipi Andika, namun senyum Andika tidak luput dari bibirnya, dia tau akan kekesalan Kia yang akan di tumpahkan kepadanya dan dia juga sadar kalau Kia sangat merindukan dirinya, begitu pula sebaliknya.
"Kenapa Kak Dika tidak menghindar," tanya Kia
"Bagaimana aku bisa menghindarinya. Jika kamu memberikan kepadaku cinta yang begitu besar seperti tadi " ucap Andika masih tetap tersenyum, padahal pipinya sudah sangat memerah karena terkena tamparan dari tangan Kia.
__ADS_1
"Aku terharu kak Dika," ucap Kia hendak melayangkan tangannya lagi ke arah pipi Andika.
"Eh itu mau ngapain?" Tanya Andika dengan wajah sedikit gelisah.
"Mau memberikan lagi cinta yang sangat besar buat kak Dika," ucap Kia polos
"Eh sudah-sudah, tadi kan sudah Kia," ucap Andika menangkup kedua tangan kewajahnya untuk jaga-jaga kalau Kia menamparnya lagi.
"Yang tadi kurang keras kak, cintanya tidak terlalu besar, lihat cap tangannya saja belom ada," ujar Kia lagi.
"Yang tadi sudah cukup Kia, sudah besar kok cintanya,"
"Belom kak Dika. Sini aku kasih yang lebih besar,"
"Jangan dong!" Seru Andika semakin ngeri di buatnya.
"Tidaak...!" Ucap Andika lalu berlari menghindari Kia, Kia pun mengejarnya.
"Sini kak Dika aku akan memberikan yang lebih besar,"
"Tidaak... jangan lagi Kumohon," ucap Dika masih berlari menghindari Kia, Kia semakin gencar menggoda Andika.
"Ayolah kak Dika sekali lagi saja,"
__ADS_1
"Aku menyerah... ampun... aku kesakitan Kia. Aku hanya menahannya karena aku tak mau membuatmu merasa bersalah telah menamparku," ngaku Andika.
"Nah gitu dong. itu baru Bad boy tampanku," ucap Kia sambil mencubit kedua pipi Andika dengan gemas.
"Sakit kia sayang," ucap Andika, Kia terdiam mendengar ucapan Andika tadi.
"Tadi kak Dika bilang apa?" Tanya Kia
"Yang mana?"
"Yang tadi sesudah nama aku?"Kia ingin mendengarnya lagi kata-kata itu dari bibir Andika.
"Yang mana sih, kok aku lupa ya,"
"Iiiih kak Dika nyebelin deh," Kia ngambek lalu pergi dari sana, Andika terkekeh, dia tau apa yang di maksud oleh kia, dia hanya menggodanya saja.
"Kia, Tunggu dong sayang," ucapan Andika kembali menghentikan Langkah kia.
"Tadi ngomong apa?" Tanya kia lagi
"Yang mana?" Andika malah balik bertanya.
"Nyebelin banget sih. Aku beneran ngambek nih,"
__ADS_1
"Jangan dong sayangku, aku gak mau calon istriku ngambek-ngambek mulu, entar wajahnya keriput dan cepat tua, nanti gak cocok lagi sama wajah tampan aku ini," ucap Andika yang membuat Kia membolakan matanya ke arahnya.
Bersambung...