
Sementara Andika sedang berada di sebuah kamar Hotel yang ada di Singapura, dia di sana untuk bertemu dengan Rekan Kerjanya. Tanpa sepengetahuan Ibunya Andika menginvestasikan saham di sebuah perusahaan Mebel yang ada di Singapura, kebetulan pemilik Perusahaan itu adalah ayah dari teman SMAnya dulu, jadi dia berani menginvestasikan 30% saham di perusahaan itu.
Sebenarnya tujuan Andika menjemput Kia dan ingin mengantarkannya ke sekolah hanya ingin berpamitan padanya untuk berangkat ke Sana, akan tetapi perdebatan yang terjadi di antara keduanya membuatnya harus pergi tanpa berpamitan padanya.
"Gue kangen sama Kia, apa dia baik-baik saja di sana ya?" Ucap Andika sambil memain-mainkan Ponselnya.
"Apa gue telfon aja kali ya, tapi enggak deh, biar ini menjadi pelajaran untuknya agar kedepannya dia tidak sembarangan Ngomong lagi," ucap Andika lalu bersiap-siap untuk menemui Temannya itu.
Di sebuah Restoran Andika duduk di sebuah Meja yang sudah di pesan oleh Temannya itu, namun sudah setengah jam dia di sana Temannya itu belum juga datang.
Tak lama seorang Pria tampan sebaya Andika berjalan terngopoh-ngopoh ke arah Meja Itu.
"Sorry Bro Gue telat, habisnya Gue harus ngelonin Si Baby dulu karena emaknya sedang Bunting gede," ujar Pemuda itu.
"Serius Lo Sat, lancar bener peranakan Lo," ujar Andika.
"Ya Iyalah siapa dulu dong, Satria. Sekali Dor langsung tekdung bini Gue, makanya Lo cepetan nikah, enak tau," ujar Pemuda yang bernama Satria itu.
"Gue masih jauh kayaknya, jodoh Gue masih kelas 1 SMA, jadi gue kudu bersabar 3 tahun lagi," ujar Andika.
__ADS_1
"Lo nikahin saja dulu, Asal sudah sah di mata agama biar gak buat dosa dan setelah lulus sekolah baru deh Lo belah durennya," ujar Satria.
"Gak tahan gue Sat, sekarang saja kalau gue lihat dia pengennya langsung belah duren saja apalagi sudah halal langsung gue gas kayaknya hehehe...," ucap Andika yang membuat Satria tertawa.
"Oh ya Bro, bagaimana soal pembagian hasil proyek yang sudah selesai itu, apa bisa gue lihat berkas-berkasnya?" Tanya Andika.
"Nah itu dia Bro, Berkas-berkasnya sekarang ada di Kantor, lagian Lo ngajak ketemuannya dadakan sih, bukannya dedlinenya besok ya Lo ke sininya?" Ujar Satria.
"Benar sih apa yang Lo bilang Sat, ini memang salah Gue, tapi semuanya sudah beres kan?"
"Iya, tinggal gue tunjukin ke Lo saja sih, gimana kalau kita ke Kantor gue saja?" Ajak Satria.
"Boleh," jawab Andika kemudian mereka pergi ke Perusahaan milik Satria dengan menggunakan mobilnya Satria.
"Waah Perusahaan Lo berkembang pesat ya Sat, gak salah Gue Investasi banyak di Perusahaan Lo ini,"
Belum juga menjawab ucapan Andika, ponsel Satria berdering.
"Ya Halo Baby, ada apa?"
__ADS_1
"Satria Lo di mana sih, perut gue sakit nih, kayaknya gue mau lahiran," ujar penelfon di seberang sana yang ternyata adalah Istri dari Satria, Satria panik dan menatap ke arah Andika.
"Bro, sepertinya Gue gak bisa temani Lo sekarang, ini Urgen banget, Lo bisa kan masuk sendiri ke sana dan nanti lo bilang saja mau ketemu sama sekertaris Gue, nanti gue suruh dia memperlihatkan berkas itu sama Lo," ujar Satria
"Memangnya ada apa sih Sat, kenapa wajah Lo panik begitu?"
"Istri gue mau lahiran, gue harus pulang,"
"Lah kenapa juga lo masih di sini oon, sudah pulang sana,"
"Iya, maunya sih begitu, kan lo masih di mobil gue, cepetan turun lo," ujar Satria.
"Eh iya ya, ya udah salam ya buat calon bayi lo, bilang paman Andika ada di sini,"
"Resek Lo Dik, sudah turun sana!"
"Iya~iya semoga anak Lo gak bawel kayak bapaknya," ucap Andika lalu turun dari mobil itu.
...Bersambung......
__ADS_1