
Hari sudah larut malam, Kia dan Kimora merenggangkan tubuhnya di matras tempat mereka biasanya di gunakan buat tidur. "Unggah pegel banget gue, rasanya nih tulang Gue mau cerai aja." ucap Kia.
"Emangnya tukang Lo sudah menikah main cerai-cerai aja, sayang anak-anaknya tuh," canda Kimora.
"Bukan begitu maksud gue kak Kim, ini tulang mau rontok aja, padahal kita hanya kerja segitu doang sudah begini aja rasanya, apalagi jadi kuli beneran yak?" ujar Kia sambil terkekeh. Kimora juga ikut terkekeh mendengar ucapan Kia tersebut.
"Untung saja tidak rontok ya. Eh iya, gimana ceritanya sih itu si Bad boy lo bisa ada di sini?" Kimora mengajukan pertanyaan yang sudah sedari tadi dia tahan untuk menanyakannya kepada Kia.
"Oh itu, gue gak tau juga kak, tapi Kak Kim ingat gak surat kaleng semalam, ternyata itu dari kak Andika, aku juga heran kapan dia menaruhnya di samping aku," Kia memejamkan matanya karena sudah sangat mengantuk.
"Iya memang kenapa?" tanya Kimora.
Fuiih... Fuiih...
Terdengar dengkuran halus dari Kia, Kimora tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar Kia, tadi bertanya sekarang malah molor, lebih baik gue molor juga ah, ughh capek bener hari ini," Kimora kemudian memejamkan matanya dan tak lama kemudian dia ikut terlelap.
******
__ADS_1
Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di sana, hari perpisahan dengan para pengungsi yang sudah sangat akrab dengan mereka. Ada rasa sedih di hati mereka meninggalkan para anak-anaknya yang senantiasa membuat mereka tertawa, bercanda bersama dalam beberapa hari yang telah lewat.
"Huhuhu, kak Kia, kak Kimora, jangan lupain kita ya kak, ini oleh-oleh buat kakak," ucap beberapa anak didik mereka yang selama di sana sering belajar bersama dengan mereka sambil berurai air mata.
"Terima kasih adik-adik, kita tidak akan pernah melupakan kalian, do'ain saja suatu saat nanti kita bisa mengunjungi kalian lagi di sini," ucap Kia, tak terasa air mata mengalir di pipi lembutnya.
"Cengeng banget sih Lo," ucap Azka lalu hendak menghapus air mata Kia dengan menggunakan jarinya. Namun, sebuah tangan mencengkeram lengannya. Sontak Azka melihat ke arah sosok tersebut yang tak lain adalah Andika yang menatapnya dengan tatapan membunuhnya.
Azka merasakan sakit di lengannya, dia segera menghentakkan tangannya agar terlepas dari cengkeraman Andika. Kia melihat ke arah Andika sambil tersenyum.
"Kak Andika, kamu kapan datang ke sini," tanya Kia dengan wajah sangat bahagia, Azka semakin hancur hatinya melihat tatapan penuh cinta Kia ke arah Andika.
"Maaf kak Andika, aku ke sini bersama mereka dan pulangnya juga harus bersama mereka, aku gak mau di cap sebagai orang yang gak setia kawan, tapi ada satu cara agar kita bisa pulang bareng," ucap Kia dengan senyuman penuh Arti ke arah Andika.
Di depan sebuah Bus, Kia dan Kimora sedang berbicara dengan Gurunya.
"Boleh ya pak? Please!" mohon Kia dengan menyatukan kedua tangannya di depan dada.
__ADS_1
"Ya elah Pak, bolehin aja kali, cuma satu orang saja kok. Bapak gak kasihan tuh sama si Kia yang sudah mohon-mohon dari tadi, nanti ongkos Busnya dia yang bayar semuanya, gimana pak?" bujuk Kimora.
"Kalau begitu Deal!" ucap Pak Bandi yang memang tak bisa mendengar keuntungan.
"Yeay, giliran duit saja langsung setuju, memang mata duitan," gimana Kimora. Kia dan Kimora tersenyum senang. Mereka kemudian langsung masuk ke dalam Bus, Kia masuk ke sana sambil menggandeng Andika.
Kimora langsung duduk di samping Bryan, sedangkan Kia masih melihat-lihat bangku yang kosong yang bisa di duduki oleh mereka berdua. Tapi tidak ada satupun bangku kosong selain di samping supir dan di samping Azka.
"Kak Azka boleh pindah gak ke sana, kita mau duduk di sini, boleh ya," pinta Kia sambil menunjukkan pupe eyesnya. "Kalau mau duduk ya duduk saja, suruh saja dia duduk di sana," ujar Azka masih memejamkan matanya sambil memasang headset di telinganya.
"Iiiih nyebelin banget sih, gimana dong ini Kak Dika?" tanya Kia melihat ke arah Andika. Andika berjalan menghampiri seorang gadis dan berbisik kepadanya, terlihat gadis itu tersenyum dan bangkit dari duduknya lalu pindah duduk di samping Azka. Azka kaget karena gadis itu berani sekali duduk di sampingnya tanpa persetujuannya.
"Lo... lo ngapain duduk di sini hah!" Bentak Azka, Kia melihat ke arah Azka tak percaya kalau Azka sangat kasar terhadap gadis itu.
"Kak Azka kenapa sih? kenapa kak Azka membentak dia. Tadi kak Azka gak mau pindah, giliran ada yang duduk di samping kak Azka malah di marahi, maunya apa sih?" ucap Kia tak kalah tingginya. Azka terdiam, dia tidak tau harus ngomong apa lagi dan akhirnya dia pasrah saja gadis itu duduk di sampingnya.
Sementara Andika masih merayu pria satunya lagi dengan memberikan uang padanya akhirnya dia mau pindah juga ke samping pak Supir Bus itu. Andika lega karena mereka sudah mendapatkan tempat duduk sesuai keinginan mereka. "Ayo sayang kita duduk di sana, tidak usah memperdulikan dia, biasanya kalau Jomblo mah memang begitu, gak suka lihat kesenangan orang lain," ujar Andika lalu menggenggam tangan Kia dan membawanya duduk di sana, Lagi-lagi hati Azka bagai di hantam baru besar, hancur berkeping-keping.
__ADS_1
"Awas saja kalian berdua, gue gak akan membiarkan hubungan kalian berlangsung lama, Kia hanya milik gue, milik gue seorang," batin Azka.
Bersambung....