
Kimora masih menatap Punggung Bryan, dia masih bingung dengan sikap Bryan yang susah di tebak itu namun dia tidak mengambil hati dan juga melanjutkan pekerjaannya.
"Kak Kim bantuin aku dong, ini sangat banyak," ujar Kia, Kimora segera datang dan membantu Kia yang sedang kerepotan di dapur Umum.
Malam telah tiba, semua siswa yang berpartisipasi dalam kegiatan itu kini telah berkumpul semua di Aula Kecamatan, mereka akan menginap di sana mengingat tenda pengungsian yang sudah penuh.
"Baik anak-anak semuanya, hari ini kalian sudah melakukan tugas dengan baik, jadi karena keterbatasan tempat, bagi siswa wanita akan menginap di Aula dan bagi siswa Laki-laki akan menginap di tenda yang sudah di sediakan. Baiklah kalian semua sudah bisa beristirahat sekarang karena besok akan ada kegiatan lain yang juga masih menyangkut dengan Baksos kita kali ini, Oke anak-anak selamat beristirahat," setelah wejangan dari salah satu guru yang juga ikut dengan mereka kini saatnya melepas penat.
"Uuugghhh Akhirnya bisa istirahat juga," ucap Kimora
"Ayo kak Kim kita cari tempat yang nyaman,"
"Di sini mana ada tempat yang nyaman Kia, bisa dapat tempat buat tidur saja sudah Syukur, oh ya ini toiletnya mana sih, Gue kebelet nich, temani Gue yuk Kia,"
__ADS_1
"Ayuk!" Akhirnya mereka keluar dari sana menuju ke Toilet, setelah mencari ke sana ke mari akhirnya mereka menemukan juga toiletnya, namun keadaan Toilet tersebut sangat memprihatinkan.
"Ini serius Toiletnya begini, mana bisa keluar kalau begini," ujar Kimora
"Udah masuk sana, kak Kim gak mau kan kalau nanti keluar dalam celana,"
Ujar kia sambil mendorong Kimora agar segera masuk ke sana.
Drrrt...drrrttt...
Kia menunggu dengan dada berdebar, dan akhirnya Telfonnya di angkat Juga.
"Halo kak Dika, maafkan Kia yang tidak mengenali Bad Boynya Kia, maafin juga kalau Kia sudah kasar sama Kak Dika, kak Dika di mana sekarang, aku sangat kangen sama Kak Dika hiks.. hiks..." Kia tak kuasa menahan air matanya yang sudah mengenang di pelupuk matanya itu, dia berharap Andika menjawab namun setelah sepersekian detik Andika masih saja belum bersuara.
__ADS_1
"Kak Dika ayo bicara dong, jawab aku kak, aku sangat menyesal telah mengusir kak Dika dari hidup aku waktu itu, maafin aku kak, aku cabut kembali pernyataan aku itu, aku kangen sama kakak," lagi-lagi Kia meminta maaf namun Andika masih saja belum bersuara.
"Kak Dika Ayo dong kak, kalau kak Dika gak ngomong aku akan terima Azka jadi pacar aku nih, dan aku gak mau ketemu kak Dika lagi,"
"Coba saja kalau berani," akhirnya Andika bersuara juga namun Kia heran karena suara itu bukan di dengar di Ponselnya melainkan sangat dekat dengannya sekarang, kia menoleh sambil mengedarkan pandangannya namun tidak ada siapa-siapa di sana.
"Nah Loh, suaranya kenapa sangat dekat ya, apa jangan-jangan aku terlalu kangen sama dia sehingga merasa kalau suaranya ada di belakang aku sekarang, gak mungkin kan dia tiba-tiba muncul di belakang aku kan, ini cuma perasaan aku saja," monolognya
"Kak Dika! Kak Dika ada di mana sekarang?" Tanya Kia untuk memastikan keberadaan Andika namun tak ada jawaban dari Andika.
"Tuh kan cuma perasaan aku saja, dia enggak bersuara dari tadi, mungkin tadi hanya perasaan aku saja, tapi kenapa Kak Dika tidak menjawab aku ya apa dia masih marah sama aku." Kia masih saja tidak menyadarinya.
...Bersambung......
__ADS_1