
Mentari pagi menyapa dunia dengan cahayanya yang cerah secerah wajah Kia hari ini. Hari ini adalah hari bahagianya karena di hari ini dia akan bertunangan dengan Bad boy kesayangannya yaitu Andika.
Kia terlihat sangat cantik dengan gaun merah muda yang di kenakan olehnya. Ibunya juga sudah siap dan jemputan pun sudah stand bye di luar rumahnya. "Kia, ayo kita berangkat nak, mobil jemputan nya sudah datang tuh di luar," ujar Ratna memanggil Kia yang masih betah di depan cermin nya.
"Iya Bu, ini juga mau keluar kok," sahut Kia, Kia keluar dari dalam kamarnya dan mereka pun pergi ke tempat acara pertunangan akan di laksanakan. Kia masih memainkan ponselnya dari tadi, dia saling balas chat dengan Andika yang juga tidak sabar ingin segera bertemu dengan Kia karena sudah hampir semingguan mereka tidak bertemu hanya karena Andika menuruti keinginan Kia agar mereka tidak bertemu sebelum bertunangan. Walaupun mereka juga saling komunikasi baik lewat chat atau hanya sekedar vidio call saja. Tapi tidak akan sama rasanya kalau tidak bertemu langsung menurutnya.
Kia menggenggam tangan ibunya, dia kelihatan sangat gugup. Ratna tersenyum ke arah putrinya itu, dia sangat mengerti apa yang di rasakan oleh Kia saat itu. Ratna mencoba menenangkan Kia.
"Selamat ya sayang, Ibu tidak menyangka kalau saat ini akan tiba juga, seandainya Bapak kamu masih ada di sini, dia pasti sangat bahagia melihat putri semata wayangnya akan bertunangan hari ini," ucap Ratna dengan mata berkaca-kaca. Kia langsung memeluk ibunya itu.
"Pasti Bu, walaupun Bapak tidak di sini sekarang Kia yakin dia melihat Kia dari sana Bu, dia pasti akan bahagia," ucap Kia juga meneteskan air matanya. Tanpa mereka sadari mobil yang mereka naiki ternyata tidak menuju ke gedung di mana pertunangannya di adakan tapi malah mengarah ke arah sebaliknya.
Ratna mulai heran kenapa mereka tidak sampai-sampai di tempat tujuan dan bertanya kepada supir mobil itu. "Pak, kenapa sudah sejam kita belum sampai-sampai juga ya? Apa Bapak salah jalan gitu?" tanya Ratna.
"Enggak kok Bu, rutenya sudah benar, sebentar lagi juga sampai," jawab supir itu terus melajukan mobilnya. Ratna tidak menaruh curiga kepadanya dan dia kembali memeluk Kia. Tak lama kemudian mereka sudah sampai di sebuah rumah dan mobil itu berhenti di sana.
"Loh pak, kok berhenti di sini sih, kita kan mau ke gedung pertunangan anak saya," tanya Ratna tapi supir itu langsung menyemprotkan obat bius ke arah Ratna dan Kia, mereka akhirnya tak sadarkan diri.
"Maafkan aku Kia, aku harus melakukan ini agar acara pertunangan kamu dan om-om itu batal," ucap supir mobil itu sambil membuka maskernya.
__ADS_1
Sementara di gedung yang sangat mewah dengan dekorasi yang sangat indah, terlihat Andika mondar-mandir di depannya sambil sesekali mengecek ponselnya, perasaan Andika dari tadi tidak enak, dia terus saja mengirim chat kepada Kia tapi tidak ada balasan lagi darinya. Andika semakin khawatir terjadi apa-apa sama Kia. Selagi Andika sibuk dengan gawainya sebuah panggilan masuk ke ponselnya.
Drrrrttt... Drrrrtttt... Andika dengan cepat mengangkatnya tapi dia kecewa karena yang menelponnya bukanlah Kia tapi supir mobil yang dia suruh menjemput Kia dan ibunya.
"Iya Beno ada apa?" tanya Andika datar. Wajah Andika berubah mendengar perkataan Beno. Dia langsung mematikan ponselnya dan pergi dengan tiba-tiba sehingga membuat tamu undangan heran melihatnya.
"Mau kemana kamu Andika, sebentar lagi acara mau di mulai," cegah Ibunya.
"Ma, Beno bilang kalau Kia dan Bu Ratna gak ada di rumahnya, kata tetangganya mereka sudah di jemput sejam yang lalu dengan mobil hitam, aku harus mencarinya Ma, ada yang menculik Kia dan Bu Ratna," jelas Andika lalu bergegas menaiki mobilnya dan menyuruh anak buahnya untuk mencari Kia ke seluruh pelosok kota.
Andika mulai menyusuri jalan untuk mencari Kia, dia segera menelfon Kimora untuk menanyakan apakah Kia ada bersama dia.
"Kimora, apakah Kia ada bersama kamu?" tanya Andika, kimora bingung dengan pertanyaan Andika itu.
"Kia gak sama gue kak, memangnya Kia kemana?"
"Kia hilang Kim, aku dan anak buah ku sedang mencarinya, sudah dulu ya, aku mau mencarinya lagi," Andika memutuskan sambungan telfonnya. Kimora semakin heran, satu nama orang yang di curigai oleh Kimora yaitu Azka.
Kimora segera menelfon Azka tapi tidak di jawabnya, Kimora kemudian menelfon Bryan.
__ADS_1
"Halo Bry, Kia di culik sama Azka, Lo jemput gue sekarang dan kita bantu mencarinya,"
"Lo yakin kalau Azka yang menculik Kia Kim? jangan berasumsi dulu, siapa tau apa yang terjadi tidak seperti yang kita pikirkan,"
"Gue yakin Bry, gue sudah telpon Azka tapi gak di jawab, gue tanya ke Bokap dan tante gue juga mereka bilang gak tau. Gue yakin kalau Azka masih gak rela kalau Kia bertunangan sama Andika Bry," jelas Kimora.
"Ya sudah, gue segera ke sana," Ajar Bryan lalu menutup sambungan telponnya.
Di sebuah rumah tua...
Kia mulai mengerjap-ngerjapkan matanya, kepalanya sangat pusing karena efek obat bius masih mempengaruhinya. Kia melihat ke seluruh ruangan itu. Kamar itu terlihat sangat tua dan menyeramkan.
"Ibu! Ibu di mana kamu?" Lirihnya, Kia merasakan kaki dan tangannya terikat, dia berusaha untuk melepaskan ikatan tersebut tapi semua usahanya hanya sia-sia saja. Air mata mengalir di pipinya karena dia baru teringat akan pesta pertunangannya dengan Andika gagal.
"Di mana ini? Kenapa aku ada di sini, harusnya aku di pesta pertunangan ku sama kak Andika sekarang," Kia kembali berusaha melepaskan ikatannya.
Ceklek....
Kia memejamkan kembali matanya ketika menyadari kalau pintu kamar itu di buka dari luar. Terlihat seorang pria berpakaian serba hitam dengan masker di wajahnya dan juga memakai topi yang menyamarkan wajahnya. Kia membuka sedikit matanya untuk melihat sosok itu, tapi karena di sana agak gelap Kia tidak bisa melihat jelas wajahnya pria itu.
__ADS_1
Bersambung....