
"Bryan! " Kimora segera berhambur ke pelukan Bryan yang sudah sampai di sana. Bryan dengan tangan terbuka menjadi sandaran untuk kekasihnya itu. Dia hanya membiarkan Kimora menumpahkan perasaannya sekarang ini.
"Tenanglah, ada aku di sini," ucap Bryan membalas pelukan Kimora, sesaat mereka larut dalam lautan cinta yang membara. Kimora tersadar kalau Azka yang membuat dia seperti itu, tadi dia mau meminta tolong kepada Bryan untuk menemaninya mencari keberadaan Azka.
"Bry! Azka Bry, dia menggila karena Kia mau tunangan, kita harus mencarinya agar dia tidak melakukan hal yang tidak di inginkan, cepat Bru, kita harus mencari Azka segera." Kimora menarik tangan Bryan menuju ke mobil milik Bryan.
Bryan lalu melakukan mobilnya dengan tenang, dia menyuruh Kimora menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Bryan sangat faham dengan apa yang di rasakan oleh Azka. Dia kemudian memutar mobilnya menuju ke rumahnya Kia.
"Kenapa kita ke sini Bry, kan lo tau sendiri kalau Kia masih di rumah kak Andika," ujar Kimora.
"Kita di sini dulu sebentar, soalnya aku yakin kalau Azka berada tidak jauh dari rumah Kia. Hanya dua tempat yang berpotensi ada dia di sana, satu di sini dan satu lagi di rumahnya kak Andika," jelas Bryan. Kimora mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.
"Oh ya sayang, apa Azka mengetahui alamatnya Andika?" Wajah Kimora menjadi metona karena Bryan memanggilnya dengan sebutan sayang.
"Loh kok malah bengong sih sayang? Kamu dengar gak aku ngomong? Azka tau gak di mana alamat Andika?" Bryan mengulang pertanyaannya. Kimora tersentak dan salah tingkah.
"Eh Iya, dia sepertinya tau Bry, soalnya dia pernah mengantar Kia ke rumah Bryan saat mencari keberadaan Bryan yang hilang."
"Berarti fiks, Azka di sana sekarang, kita harus segera pergi ke sana sebelum Azka bertindak nekad." Bryan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah Andika. Kimira mengarahkan rute jalan yang harus di tempuh oleh Bryan agar sampai di rumahnya Andika. Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu lama akhirnya mereka sampai juga di sebuah rumah mewah dengan pagar tinggi menjulang dan pintu gerbang besar. Terlihat tidak jauh dari depan pintu tersebut terparkir mobilnya Azka.
__ADS_1
Bryan dan Kimora langsung menghampiri mobilnya Azka dan menggedor-gedor pintu mobil itu. "Keluar lo Az, ayo cepat keluar!" teriak Bryan. Azka membuka kaca pintu mobilnya.
"Mau apa kalian ke sini hah!" Bentak Azka.
"Az, sadarlah! Lo jangan seperti ini, ayo ikut kita pulang," mohon Kimora. Azka memalingkan wajahnya, dia tidak mengubris permintaan Kimora. Azkaenghidupkan mobilnya lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi. Kimora melihat dari arah berlawanan ada sebuah Truk yangelaju kencang dan dia langsung berteriak ketika Truk tersebut menabrak mobil yang di kendarai oleh Azka.
"Azkaaaaaa!!!! Tidak...!!!!
Kimora menjerit histeris, seketika lututnya lemas dan terduduk di jalan. Bryan langsung memeluk Kimora yang masih saja menjerit histeris ketika melihat mobil yang di kendarai oleh Azka hancur tak berbentuk.
*******
"Kak Kim, aku turut berbela sungkawa atas meninggalnya kak Azka, aku gak nyangka kalau kak Azka akan pergi secepat ini," Kia juga sangat sedih kehilangan Azka, walau bagaimanapun Azka juga pernah menjadi orang yang sangat peduli padanya.
Kimora menatap tajam ke arah Kia, tatapan tidak suka terhadap sahabatnya merasuki hatinya.
"Pergi lo, gara-gara Lo Azka jadi meninggal, pergi lo pergi...!" Kia kaget, dia tidak pernah melihat Kimora seperti itu, baru kali ini Kimora membentak nya. Bryan langsung memeluk Kimora dan menenangkannya. Dia menyuruh Andika untuk membawa kia pergi dari sana.
"Kim, Lo harus tenang ya, Azka kecelakaan bukan salah Kia, itu sudah takdir Kim," Bryan mencoba menenangkan Kimora.
__ADS_1
"Bry, Lo jangan membela Kia, kalau saja Kia tidak menolak Azka pasti Azka masih hidup sekarang, Hu hu hu..."
"Bukan begitu Kim, ini sudah takdir yang maha kuasa, kita tidak tau kapan ajal akan menjemput kita, mungkin ini peringatan buat kita yang masih hidup kalau maut itu gak memandang umur, dan Lo gak bisa menyalahkan Kia." ujar Bryan. Kimora sadar kalau dia memang salah, gak seharusnya dia menyalahkan Kia. Toh rejeki, maut, jodoh sudah di tentukan oleh yang maha kuasa.
Kimora menyesal sudah memperlakukan Kia seperti itu, selama ini Kia adalah sahabat terbaiknya walaupun dia lebih muda dari Kimora tapi dia selalu saja bisa menjadi tempat curhat dan bisa menyimpan rahasia dengan baik.
"Bry, lo mau gak nemenin gue ke rumahnya Kia, gue mau minta maaf sama dia. Gue gak maksud membencinya, gue akui gue sudah salah menyalahkan dia dengan apa yang menimpa Azka, lo mau kan nemenin gue?" Bryan tersenyum mendengar ucapan Kimora, ini yang dia sukai dari Kimora, dia mendengarkan pendapat orang dan kalau dia salah maka dia mau mengakui kesalahannya, itu yang membuat Bryan semakin cinta padanya.
"Baiklah, gue akan menemani lo kemanapun lo mau, asalkan..." Kimora mengeryitkan keningnya mendengar penuturan Bryan tersebut.
"Jangan aneh-aneh deh," Ucap Kimora spontan, dia sudah salah mengartikan ucapan Bryan itu.
"Loh kok aneh sih, gue hanya mau lo itu senyum dulu, baru gue mau temenin Lo ke rumah Kia," Kimora malu banget karena sudah berprasangka buruk sama Bryan.
"Atau jangan-jangan lo pikir gue mau minta cium sama Lo ya? , otak lo mesum juga ya ternyata," goda Bryan, wajah Kimora menjadi merona.
"Ayo ah, jangan godain gue lagi dong Bry, ayo kita pergi," Ajak Kimora berjalan duluan meninggalkan Bryan. Bryan hanya tertawa melihat tingkah kekasihnya itu. Dia baru tau kalau seorang Kimora bisa malu juga ternyata.
Bersambung....
__ADS_1