
"Mau ngapain kamu Kia?" tubuh Bima bergetar ketika melihat perubahan wajah Kia yang tadinya manis menjadi menakutkan. Kia berjalan ke arah Bimaasih dengan serigainya. Tangan Kia bergerak seperti hendak menggelitik, terlihat Bima semakin takut padanya.
"Cepat katakan kak Bima, siapa yang menyuruh Lo menculik gue?" Tanya Kia kembali, sedikit lagi tangan Kia akan menyentuh telapak kaki Bima.
"Jangan Kia!" teriak Bima, tapi sudah terlambat karena Tangan Kia sudah menggelitik kaki Bima.
"Hahahahaha...." Bima tertawa terbahak-bahak menahan geli di kakinya. Kia menghentikan sejenak kegiatannya memberi ruang agar Bima bisa menjawab pertanyaannya.
"Ayo cepat jawab, siapa yang menyuruh lo hah, kalau tidak ..." Kia kembali menggerak-gerakkan jarinya.
"Stop! Aku akan memberitahukan siapa yang menyuruh aku menculik kamu Kia, Dia adalah ... "
Braaaakkkk....
Pintu kamar itu di dobrak. Kia dan Bima kaget dan sontak melihat ke arah pintu tersebut.
__ADS_1
"Kia!" Sebuah suara yang sangat familiar di telinga Kia terdengar nyaring di telinga mereka.
"Kak Dika!" ucap Kia senang, Andika heran karena melihat bukannya Kia yang di ikat tapi seorang pria sebaya dengan kekasihnya itu yang terikat. Andika bergegas berlari menuju kekasihnya itu.
"Sayang, kamu gak apa-apa kan?" tanya Andika lalu memeluk Kia. Dua wajah berpaling tidak ingin melihat pemandangan yang sangat menyedakkan dada itu. Azka langsung berjalan ke arah Bima dan langsung menonjok wajahnya.
"Kurang ajar lo Bim, lo mau mengkhianati gue hah!" bentak Azka lalu memukul Bima lagi.
"Hentikan! Kalian berdua sama jahatnya tau gak," Ucap Kimora yang juga sudah sampai di sana. Wajah Azka puas mendengar ucapan Kimora itu.
"Jadi ... kak Azka yang menyuruh Bima menculik gue? sudah gue duga" Pertanyaan Kia sangat menohok hati Azka.
"Maafin gue Kia, gue khilaf. Gue gak tau harus gimana lagi memisahkan kalian berdua. Gue tidak Ingin lo bertunangan dengan om Andika, gue cinta sama Lo Kia!"
"Cinta! Itu bukan cinta kak Azka tapi obsesi. Kalau yang ada di hati lo itu cinta seharusnya Lo bahagia kalau melihat gue bahagia kak, Lo itu tau kalau gue sangat mencintai Kak Dika tapi Lo malah mau memisahkan kami, apa itu yang di sebut cinta hah!" Kia tidak tahan lagi, ingin sekali dia menampar wajah Azka tapi di tahan oleh Andika.
__ADS_1
"Jangan kotori tanganmu dengan menampar nya sayang, aku sudah menghajarnya tadi. Lebih baik kita pergi saja dari sini," ajak Andika. Kia kembali teringat akan Ibunya yang belum dia ketahui di mana dia sekarang. Kia lalu berjalan menuju ke tempat Bima.
"Lo bawa kemana Ibu gue?" tanya Kia, Bima melihat ke arah Kia.
"Tante ada di kamar sebelah, sepertinya dia belum sadarkan diri di sana, maafkan gue Kia, jangan laporkan gue ke Polisi," Mohon Bima.
"Tidak perlu ada yang melapor, kakak sendiri yang akan memenjarakan kamu Bima," Bima kaget ketika melihat kakaknya juga ada di sana. Bima sangat malu sama kakaknya, dia telah mencoreng nama baik keluarganya dengan melakukan hal bodoh tersebut.
"Kak, maafin Bima! Bima sudah salah, Bima di butakan oleh cinta kak. Jangan penjarakan Bima, Bima mohon kak!" Bima menangis, tapi tak menyurutkan niat kakaknya itu, dia langsung melepaskan tali yang mengikat Bima dan langsung memborgol tangannya adiknya itu.
"Kia gue mohon, tolong bilang sama kakak gue jangan penjarakan gue Kia! Kia ... gue janji tidak akan mengulangi hal bodoh ini lagi Kia, tolong gue Kia!" teriak Bima. Namun, Kia seolah tidak mendengarkan teriakan itu, dia cuek saja tanpa menoleh sedikitpun ke arah Bima.
"Tunggu pak!" ucap Kia, seketika kakaknya Bima berhenti dan menoleh ke arah Kia.
Bersambung.....
__ADS_1