
#bab 100
"Kenapa?" tanya Cedric.
"Karena Mama dan Papa belum menikah," jawab Flavia berharap Cedroc mau mengerti.
"Emm ... Tapi, kenapa sudah ada aku?" tanya Cedric lagi dengan polosnya.
"Ah itu ... karena," Flavia melihat ke arah Eryk dan meminta membantu untuk menjelaskan, dia pun memberikan kode mata kepada Eryk.
Eryk memasukan kedua tangannya di saku celan panjang berwarna hitamnya itu tertawa sebentar, lalu mendekat kepada ibu dan anak, duduk di sisi Flavia seraya berkata, "Kelak jika sudah dewasa kau akan mengerti segalanya," ujarnya.
"Kau adalah laki-laki, jangan membantah perkataan Mama jika itu bukan sesuatu yang salah," nasehat bijak Eryk.
"Apa mengerti?" tanya Eryk.
"Ya Pa, mengerti," jawab Cedric.
"Anak pintar," puji Eryk seraya mengusap kepala putranya itu.
"Nah, mau makan apa untuk makan malam?Papa akan meminta koki membuatkannya," ujar Eryk.
"Mie panjang umur," jawab Cedric.
"Mie panjang umur, Bukankah ini bukan hari ulang tahunmu?" tanya Eryk.
"Hari ini Lily berulang tahun," jawab Cedric.
"Lily ...? ujar Eryk.
"Ya Pa, hari ini dia berulang tahun. Jadi buatkan ya," pinta Cedric.
"Ok, Papa akan meminta koki untuk membuatkannya," janji Eryk.
"Sekarang antar Mamamu ke kamarnya!" perintah Eryk kepada putranya itu.
Cedric pun melompat turun dari ranjang, lalu menggandeng Flavia keluar dari kamar papanya itu. Setelah ibu dan anak pergi, Eryk pun duduk bersandar di sofa sambil memijit-mijit pelipisnya.
Sebelumnya Fang Yin mengajak Eryk pergi ke rumah sakit jiwa menemui Nyonya Fang, ibunya Fang Yin. Tapi di sana, kedatangannya malah membuat nyonya Fang berteriak histeris sampai pingsan.
Eryk semakin bingung, jika begini bagaimana dia bisa mendapatkan informasi yang ingin dia tahu. Ketika ingin mengantar pulang Fang Yin, di radio terdengar jika akan srgera ada badai. Jadi disarankan agar tetap diam di rumah demi keamanan. Karena itulah Eryk mengajak Fang Yin ke Villa miliknya.
Makan malam tiba, semua berkumpul di ruang makan dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Lily, "Makanlah nanti Papaku akan membelikan kado untukmu," janji Cedric.
__ADS_1
Eryk hanya tersenyum kecil melihat tingkah putranya itu. Flavia masih memasang wajah cemberut melihat jika Fang Yin ikut makan malam bersama mereka.
"Cobalah ini," ujar Eryk seraya mencapitkan lauk untuk Gang Yin. "Ini adalah masakan terhandal koki kami," jelas Eryk.
Flavia menatapi interaksi mereka berdua, lalu memutar-mutar sumpitnya. Cedric yang melihatnya pun segera menarik lengan baju Papanya itu, "Pa, mama sedang marah," bisiknya kepada Eryk.
"Dari mana kau tahu?" tanya Eryk sedikit bingung.
"Lihatlah tangan Mama, sedang memutar-mutar sumpitnya. Sebelum melempar pisau, Mama biasa akan memutar-mutar sebentar pisaunya," jelas Cedric dalam bisiknya.
"Oh ya ampun," ujar Eryk dalam hati.
Eryk pun sedikit berdehem, lalu segera mencapitkan beberapa lauk ke dalam mangkuk nasi Flavia.
"Ini ... kau juga harus mencobanya," ujar Eryk seraya mencapit nasi dan lauk dari mangkuknya dan berusaha menghabiskan makan malamnya dengan cepat.
Selesai makan malam, Eryk meminta agar pelayan mengantarkan Cedric ke kamarnya. Melihat Flavia juga akan pergi maka Eryk langsung saja menarik tangan Flavia.
"Kita harus bicara," ujar Eryk.
"Ada apa lagi?" tanya Flavia.
Eryk pun langsung membawa Flavia ke ruang perpustakaan di Villa ini. Flavia sedikit terkejut ketika melihat Fang Yin sudah ada di dalam, seperti sedang menunggu Eryk datang.
Fang Yin menceritakan ketika di sekolah dulu ibunya menaksir salah satu murid berprestasi, selain tampan dan pintar, pria itu berasal dari keluarga kaya, sangat-sangat kaya.
"Kira-kira apa hubungannya dengan histeris ibumu tadi ketika melihat aku?" tanya Eryk.
Fang Yin mengeluarkan sebuah foto lama, dan memberikannya kepada Eryk. Dengan perlahan dia mengambik foto yang dalam posisi terbalik itu.
Itu adalah foto Nyonya Fang muda, ketika sedang mencium pipi seorang pria yang wajahnya sedikit banyak mirip dengan dirinya.
"Ini ... ini adalah," ujar Eryk terbata.
"Foto itu diambil setelah kelulusan ibuku," ujarnya lagi.
"Apa kau mengenali pria yang di foto itu?" tanya Fang Yin yang masih belum begitu jelas mengetahui identitas Eryk Lin yang sebenarnya.
Sepanjang diskusi mereka, Eryk tidak melepaskan genggaman tangannya dari Flavia. Ini adalah tanda agar Flavia bisa berhenti cemburu, karena antara dia dan Fang Yin tidak ada hubungan apa-apa selain soal penyelidikan.
"Ibuku menjadi kasar dan histeris mungkin karena wajah itu, wajah yang serupa dengan wajah Tuan Lin," jelas Fang Yin.
Di foto itu tertera tahun dan tanggal, "Foto ini diambil setelah papa mati," pikir Eryk.
__ADS_1
"Ini bukan Papa, ini Paman Lin," pikir Eryk lagi.
"Lalu kenapa Nyonya Fang sangat histeris, apa yang Paman lakukan kepada nyonya Fang," pikir Eryk lagi.
"Astaga ..." Flavia terkejut ketika mendengar suara petir mengelegar keras.
Eryk langsung memeluk tubuh Flavia yang secara tak sengaja mendekat kepadanya, dia pun berkata kepada Fang Yin, "Sudah malam, saatnya kita beristirahat."
Fang Yin pun berdiri seraya berkata, "Jika begitu aku kembali ke kamarku."
Eryk mengangguk, lalu menatap kepada Flavia yang masih merangkul lengannya, "Apa masih merasa takut?" tanya lembut Eryk.
Flavia segera melepaskan rangkulannya, lalu menjawab, "Sudah tidak dengan gugupnya.
"Masih cemburu?" tanya Eryk sedikit menggodai Flavia.
"Siapa yang cemburu," elak Flavia.
"Bukankah tadi kau membayangkan melempar pisau kepadaku?" ujar Eryk lagi menggodai.
"Tidak ... aku ... tid," belum menyelesaikan perkataannya tapi mulut Flavia sudah di bungkam oleh ciuman hangat dari bibir Eryk.
"Jika kau masih terus menyangkal, maka aku akan selalu menciummu seperti ini," ujar Eryk.
Flavia terdiam sambil mengusap lembut bibirnya yang baru saja di gigit oleh Eryk, "Hissh pria ini," ujarnya dalam hati.
"Jika hanya teman biasa aku tidak berkeberatan, lebih dari itu maka kau akan kehilangan aku dan Cedric," jawab Flavia seraya berdiri dan sedikit berlari kecil meninggalkan ruang perpustakaan itu.
"Wuaah dia benaran cemburu," gumam pelan Eryk seraya meletakan kedua kakinya diatas meja sambil bersandar di sofanya seraya tersenyum puas.
"Bagus ... bagus sekali," ujarnya lagi dengan tersenyum.
Di dalam kamarnya, terlihat Flavia berdiri bersandar di pintu, semenjak melihat Eryk mengebut ketika membawa mobil untuk mengejar Carl yang di bawa pergi waktu itu, hati Flavia tidak bisa tenang, selalu berdegup dengan kencang.
Di tambah saat ini, Eryk menciumnya dengan begitu hangat, jika begini mana bisa tenang hatinya dan jelas tidak akan bisa tenang dan tidur nyenyak malam ini.
✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅
YUK LEMPAR VOTE lagiiiii
Esok akan Crazy Up lagi,
__ADS_1