BLUE MOON

BLUE MOON
GUSAR


__ADS_3

Mobil Cedric terus mengikuti taksi yang ada di depannya, sesampainya di hotel Lily segera turun dan masuk ke lobi hotel. Cedric memarkirkan mobilnya di depan lobi hotel dia bergegas masuk seraya melemparkan kunci mobilnya kepada petugas parkir hotel.


Cedric berdiri di sisi Lily lalu berkata, "Aku ingin kamar yang sama seperti nona ini, bersebelahan!"


Baru saja Lily selesai membayar hotelnya, tapi dia urungkan lagi dan pergi keluar hotel untuk mencari taksi. Menemukan dia pun naik ke taksi kembali, Cedric mengikutinya dengan menaiki taksi yang kebetulan ada di belakang taksi Lily.


Kali ini Cedric telah membawa uang tunai yang sedikit banyak di dompetnya, belajar dari pengalaman di bianglala waktu itu.


Ketika sampai di lobi hotel, lagi-lagi Cedric melakukan hal yang sama, ketika dia melihat Lily akan membatalkan reservasinya lagi, dia pun berkata, "Di hotel manapun, kau tidak akan bisa menyingkirkanku."


Lily pun akhirnya memutuskan menginap di hotel ini. Cedric ikut masuk ke dalam lift yang terbuka. Di dalam lift Cedric memaksa menggandeng tangan Lily meski gadis itu berusaha untuk melepaskannya.


Mereka berjalan bergandengan sampai dengan pintu kamar hotel masing-masing, barulah Cedric melepaskan. Lily masuk dengan masih terdiam. Sementara Cedric berdiri beberapa saat barulah masuk. Mereka berdua sama terkejutnya karena token giok itu.


Teringat jika tadi Lily makan sedikit, maka cedric langsung memesankan makanan kesukaan gadisnya itu. Lily membuka pintu ketika mendengar bel pintu berbunyi.


"Aku tidak memesan ini," ujar Lily.


Pelayan hotel itu memberikan sebuah kartu ucapan, "Cedric," gumam pelan Lily.


Dengan terpaksa lily mempersilahkan masuk makanan itu di bawa ke dalam. Karena dalam kartu ucapan itu jika Lily menolak maka Cedric akan datang ke kamar Lily.


"Terima kasih," ujar Lily kepada pelayan hotel itu.


Setelah pelayan pergi, dia pun menangis melihat makanan itu, "Bodoh ... benar-benar bodoh," ujarnya seraya menghampus air matanya lalu mulai memakan makanan yang Cedric pesankan itu.


Di rumah utama Lin, Flavia adalah orang yang paling gusar karena permasalahan token giok ini, "Mengapa harus ada perjanjian seperti ini," ujarnya gusar.


"Tenanglah sayang, apa lupa dengan perkataanku. Biarkan mereka menjemput takdir mereka sendiri," ulang nasihat Eryk lagi kepada istrinya itu.

__ADS_1


"Aku benar-benar heran, mengapa kau bisa begitu tenang dengan permasalahan ini?" tanya Flavia sembari telak pinggang.


"Eum ... tenang, kemarilah!" panggil Eryk agar Flavia mau duduk di sisinya.


Demi meredakan kemarahan istrinya itu, dia pun mengatakan alasan sikap dia selama ini yang seakaan terlihat menentang Lily untuk Cedric. Semua itu semata-mata demi mempersiapkan datangnya hari ini.


Sebelum masa itu tiba, Eryk sudah harus bisa mensetarakan Lily dengan Jingmi yang terlahir dengan sendok dan garpu emas di tangan.


"Setelah ini, kita ikut apa kata takdir. Karena sudah berusaha sekuat yang kita bisa," jelas Eryk seraya mengelus lembut puncak kepala istrinya itu.


"Mengapa kau tidak pernah menceritakan tentang alasan ini?" tanya Flavia sembari memainkan jari tangannya di dada Eryk.


"Karena itu pasti akan membuatmu gusar lebih awal, dan aku tidak menginginkan itu," jawab Eryk.


"Oh Ya ampun Tuan Muda Lin kau manis sekali," puji Flavia seraya mendongak.


"Eum ... kau mau hadiah apa?" tanya Flavia dengan sedikit menggoda.


"Eum ... memakanmu," jawab Eryk dengan mulai menciumi tulang selangka Flavia.


"Sayang," panggil Flavia dengan napas yang tesengal,ini terasa menyiksa.


"Oh God," gumam pelan Eryk yang tak menyangka hanya dengan mencium aroma tubuh Flavia seperti ini bisa membuatmya benar-benar tegang.


Flavia sudah mendesah, menggerang, mendesis berkali-kali ketika suaminya itu mencecapi tiap bagian tubuhnya. Eryk mendorong bahu istrinya itu dengan lembut seraya memegangi pinggul ramping istrinya itu dan memutar tubuhnya hingga memunggunginya. Kemudian tanpa kata-kata Eryk menarik perut rata Flavia memposisikannya duduk diatasnya.


"Aaah ..." mulut Flavia langsung terbuka, mengeluarkan ******* yang terdengar indah di daun telinga Eryk.


Flavia menurunkan tubuhnya, membiarkan bagian bawah Eryk masuk dengan sempurna penuh ke bagian kewanitaanya.

__ADS_1


"Eumh ..." Flavia memejamkan matanya sambil bergumam, membiarkan Eryk bergerak di bawahnya.


Eryk mendesis nikmat seraya membiarkan istrinya itu memimpin percintaan mereka berdua kali ini. Flavia sesekali memutar pinggangnya lalu bergerak. Mengejar pelepasan bersama yang begitu nikmat.


Percintaan mereka semakin mendekati puncaknya, Flavia semakin cepat menggerakan tubuhnya, membuat bagian bawah Eryk semakin membesar, sesak penuh memasuki bagian bawah Flavia.


Flavia menyentakan kepalanya ke belakang, sementara Eryk memeluk erat bagian perut Flavia dari belakang sambil menghentakan kencang bagian bawahnya, seraya mengecupi punggung istrinya itu.


Mereka baru saja selesai bercinta di sofa, menyadari hal ini mereka pun saling melempar tawa. Sementara itu di hotel Lily dan Cedric terbaring di ranjang masing-masing, terpisah tapi saling memikirkan. Berpikir setelah ini apa yang harus mereka perbuat. Cedric tetap berteguh bahwa wanita yang harus menikah dengannya adalah Lily bukan yang lain. Sementara, Lily menjadi sangat galau.


Kedudukan keluarga Jiang hampir setara dengan keluarga Lin, jadi dia berpikir jika jingmi memanglah sepadan jika harus mendampingi Cedric Lin.


Keesokan paginya mereka bertemu di restoran hotel, mereka duduk saling berhadapan. Namun sama-sama hening, sampai pada akhirnya Cedric berkata, "Kau tidak perlu memikirkan tentang giok kuno itu."


"Aku tidak menganggap itu ada, bagiku masa depanku adalah yang sedang duduk di depanku ini, bukan giok kuno itu," jelas Cedric lagi.


Lily terdiam, dia bukannya tidak senang tapi dia paham betul bagaimana pendidikan di keluarga Lin tentang nilai-nilai leluhur keluarga. Dia hanya bisa mendengarkan keputusan Cedric seraya memakan sarapannya dengan tenang.


Cedric menarik tangan Lily, kali ini gadisnya itu tidak menghindar, dia membiarkan prianya itu menggenggam erat tangannya. Melihat jika gadisnya tidak mengelak, hati Cedric pun sedikit tenang.


Mereka pergi ke kantor bersama-sama, meski tidak membawa baju ganti, tapi di hotel ini menyediakan butik yang menjual pakaian. Jingmi melihat kedatangan Lily dan Cedric dengan sedikit bermasam hati. Namun, harus memasang senyuman indah di wajahnya demi imej anggun di depan Cedric.


"Baru tiba?" tanya Jingmi seraya menggandeng lengan Cedric di depan Lily.


"Eum ..." jawab Cedric seraya melepaskan tangan Jingmi seraya berkata, "Ini di kantor, jaga sikapmu."


Lily menahan tawanya, berpikir lucu ketika bersamanya malah tuan mudanya itu mencuri-curi cium ketika mereka sedang berada di kantor. Jingmi pun terpaksa melepaskan rangkulan tangannya.


"Oh ya, sepertinya aku juga akan ikut kalian untuk pergi ke Indonesia," ujarnya dengan tersenyum dan mata yang berbinar senang.

__ADS_1


__ADS_2