BLUE MOON

BLUE MOON
TAKDIR


__ADS_3

 


Nyonya Lin mengambil tangan Flavia, lalu air matanya mulai menetes. Merasakan hal yang sama dalam hati maka Flavia pun langsung memeluk Nyonya Lin.


Eryk dan Cedric saling menatap melihat mereka berdua menangis. Cedric turun dari ranjang besar itu, lalu menarik tangan Nenek dan Mamanya.


Mereka berdua pun bersimpuh di depan Cedric, lalu dia menghapus air mata Mama dan neneknya, kedua wanita itu pun langsung memeluk bayi kecil kesayangan mereka itu.  Sementara Eryk tanpa disadari juga ikut meneteskan air mata bahagia.


“Nyonya!” panggil Flavia.


Nyonya Lin mengusap air matanya, lalu menggelengkan kepalanya. Flavia yang melihatnya jadi merasa bingung, Eryk yang mengerti maksud mamanya langsung saja berkata, “Panggil Mama, jangan Nyonya!”


‘Mama’ pikir Flavia.


Melihat tatapan Nyonya lin yang penuh harap, Flavia pun berkata, “Mama.”


Mendengar Flavia memanggil dengan panggilan itu, langsung saja Nyonya Lin memeluki Flavia dan menciumi wajah Flavia dengan rasa bahagia.


Eryk berkata, “Ma … sudah, aku saja belum menciumnya lho,” ujarnya sambil sedikit tertawa.


Wajah Flavia pun memerah, lalu dia pun berkata lagi, “Ma … tidak perlu khawatir. Kami akan menjaga Cedric dengan baik,” janji Flavia.


Nyonya Lin pun mengangguk sambil tersenyum, dalam hati dia percaya penuh kepada Flavia. Karena senangnya maka Nyonya Lin melupakan wajah Eryk yang memar lebam. Kehadiran cucu laki-lakinya telah menutup keberadaan Eryk di mata Nyonya Lin.


Pada saat makan malam tiba, semua di kediaman Lin tidak berani mengungkit tentang perkelahian yang tadi terjadi, meski memar itu nampak jelas di wajah Eryk. Namun, semua memilih diam.  Eryk mengikuti mau Flavia, tidak membuka identitas Cedric terlebih dahulu.  Eryk membiarkan jika keluarganya berpikir bahwa dia saat ini sedang menjalin hubungan dengan wanita lajang beranak satu.


Eryk masuk ke ruang makan dengan menggendong Cedric, lalu menundukannya di kusri sebelahnya. Flavia duduk di sebelah Cedric. Ketika makan malam, semua nampak tercengang ketika melihat Cedric mencapitkan lauk lalu Eryk memakannya.  


Lin Fei Wei lebih-lebih tercengang lagi melihatnya, melihat kedudukan bocah kecil yang baru datang. Tapi, tiba-tiba memanjat tinggi, bisa dekat dengan pewaris keluarga Lin dengan begitu cepat. Sementara dia yang sudah tinggal sedari kecil di rumah utama kediaman keluarga Lin ini, masih belim bisa mendekati Eryk Liu. Dia hanya bisa memanfaatkan gadis-gadis yang ingin mendekati Eryk Liu untuk mengambil keuntungan dari mereka.


Flavia mengunyah makanannya dengan tenang, meski merasa ditatapi oleh tatapan dingin dari hampir seluruh anggota keluarga Lin. Namun, ada beberapa anggota keluarga yang tertawan oleh wajah imut Cedric.


Setelah selesai makan malam, Eryk dan Flavia masuk ke kamar utama untuk menidurkan Cedric yang telah mengantuk. Flavia terbiasa tidur di sisi Cedric sambil menepuk-nepuk punggung putranya itu. Eryk duduk di sofa mengecek pekerjaanny kembali dari tablet miliknya.


Namun, malah sedikit-sedikit melihat interaksi antara Flavia dan Cedric. Bahkan hati Eryk merasa tenang ketika mendengarkan senandung Flavia ketika menidurkan putra mereka itu.

__ADS_1


Pada akhirnya putra mereka tertidur, Flavia juga hampir tertidur. Namun, terbangun ketika ponselnya berdering. Flavia langsung saja menjawabnya, itu adalah panggilan dari Tuan Mo.


Flavia bernjak keluar dan ke balkon kamar untuk menjawab panggilan tersebut, Eryk menaikan satu alisnya sambil berkata dalam hati, ‘Dengan siapa dia menelpon’


Eryk mencoba menguping. Tapi, tidak bisa mendengarkan apa-apa. Dia pun meletakan tabletnya, lalu mencoba menguping. Dia berjalan ke arah pintu balkon, lalu menempelkan kupingnya di pintu kaca itu.  Tiba-tiba saja ‘bugh’ Eryk terjatuh tepat di kaki Flavia.


“Apa kau sedang menguping pembicaraankku?” tanya Flavia sambil bersedekap memandang Eryk yang masih jatuh tengkurap di bawah kakinya.


‘ketahuan’ ujar Eryk dalam hati.


Dengan canggung Eryk pun berdiri dan berkata, “Aku hanya ingin bertanya, apa kau mau makan es krim?” jawab asalnya.


“Malam hari, es krim … yang benar saja,” ujar flavia sambil menggelengkan kepalanya.


“Tidak terima kasih,” ujar Flavia lagi.


“Ah ya kalau begitu aku akan menyelesaikan pekerjaankku dulu,” jawab Eryk sembari mengusap-usap tengkuknya.


Flavia pun masuk ke kamar, dan duduk di sisi Cedric yang telah terpulas. Melihat jika Flavia hanya duduk di sisi ranjang, Eryk pun berdiri dan berkata, "Kau tidur di sini, aku akan tidur di karmar lain."


Flavia memandangi Eryk yang beranjak pergi, lalu dia mulai merebahkan tubuhnya di ranjang besar itu dan memeluk Cedric. Selama ini mereka memang selalu tidur bersama.


Melihat Papa-nya yag sudah rapih dan akan mengantar pergi ke sekolah, maka Cedric berniat membalas perkataan teman-temanya kemarin yang pernah membulinya.


Flavia tidak mengantar Cedric karena berjanji akan mengunjungi Tuan Mo. Jadi pagi ini hanya Eryk yang mengantar.


sesampainya di sekolah, dengan bangganya Cedric menggandeng tangan Papanya itu. Bahkan Cedirc membawanya ikut masuk ke dalam kelas, dia mendekati teman-temannya dan berkata, "Ini papaku."


"Lihatlah Ayahku, tampan bukan?" ujar bangga Cedric.


Teman-teman Cedric pun takjub, tidak menyangka jika Papa Cedric benar-benar tampan, salah satu dari mereka pun maju dan bertanya?"


"Paman, apa benar-benar Papanya Cedric?"


"Tentu saja, lihatlah wajah kami sangat mirip," jawab ramah Eryk.

__ADS_1


Teman-teman sekelas Cedric pun berbisik-bisik. Termasuk para gurunya.


[Wuah itu benar-benar Papanya]


[Papanya lebih tampan dari Papaku]


Kepala sekolah dengan sopan dan ramah menyambut kedatangan Tuan Lin, dan berjanji akan lebih memperhatikan pendidikan Cedric di sekolah mereka ini. Sementara itu di Mansion Mo, Flavia tengah berbicara serius dengan Tuan Mo.


"Apa kau benar-benar serius untuk tinggal di Kediaman keluarga Lin?" tanya Tuan Mo.


"Takdir sudah menghampiri, mengelak pun adalah hal yang sia-sia," jawab Flavia.


Tuan Mo terdiam sesaat lalu berkata lagi, "Batas toleransiku adalah Cedric. Jika mereka menyakitinya maka aku sendiri yang akan turun tangan menghukum mereka."


Flavia pun mengangguk, jika menyangkut Cedric maka bagi Tuaj Mo, itu menyangkut kehormatan seluruh klan naga hitam. Menyakitinya itu artinya pernyataan perang dengan Klan naga hitam.


"Apa rencanamu?" tanya Tuan Mo.


"Membiarkan Eryk mengetahui kebenarannya," jawab Flavia.


"Setelah dia mengetahui kebenarannya?" Tanya Tuan Mo lagi.


"Entahlah, kali ini aku akan mengikuti kemana takdir akan membawa kisah kami," jawab bijak Flavia.


"Kakek akan selalu mendukungmu," janji Tuan Mo.


Mereka berbincang beberapa saat lagi, setelah itu barulah Flavia pergi menjemput Cedric di sekolah. Melihat Mamanya telah datang menjemput maka Cedric langsung saja berlari memeluk Flavia.


"Mama, papa bilang akan mengajak kita makan siang bersama," ujar Cedric.


 


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2