BLUE MOON

BLUE MOON
TEMAN BAIK


__ADS_3

Ariana memilih sebuah tusuk konde, aksesoris penghias rambut ini adapun bentuknya sangat bervariasi, bahkan bahan-bahan dasarnya juga sangat berbeda pada zaman dahulu. Ada yang terbuat dari aluminium, besi atau sejenis kawat, fiber, bamboo, kayu dan bahkan ada yang terbuat dari supit mie yang dihias sedemikian rupa.


Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern dan dilihat dari fungsi utama sebuah tusuk konde dalam kehidupan manusia, maka dari bahan dasarnya juga akan mengalami perubahan pula. Sebelumnya terbuat dari bagan tembaga, kuningan, emas, perak, besi.


Sekarang di masa modern tusuk konde digunakan sebagai hiasan atau aksesoris rambut, bukan hanya menjadi satu-satunya untuk menahan ikatan rambut supaya tidak terlepas, atau ada makna filosofi lainnya.


Ariana ingin memberikan tusuk konde dengan ciri desain filigri yang berbentuk motif ornament dan terbuat dari bahan tembaga dan perak. Dibagian ujung lebih meruncing dan ada dua mata runcingnya.


Merasa tidak bisa menemukan hadiah yang ingin dia beli, maka dia mengambil sebuah tusuk konde dari abad 18 yang dia temukan ketika dia sedang berkeliling dunia. Dari cerita yang dia dapat, cara membuat tusuk konde yang satu ini sangatlah rumit.


Salah satu jenis tusuk konde tradisional yang disebut tusuk konde patri tiup. Tusuk konde patri tiup merupakan salah satu kerajinan tangan berbentuk hiasan sanggul. Seperti namanya, tusuk konde ini dibuat dengan tangan alias handmade dengan metode patri dan kemudian ditiup.


Setelah lembaran kuningan sudah tercetak, antara tangkai dan lembaran tusuk konde tersebut disatukan dengan cara meniup “plong” agar tercipta kobaran api. Dari cerita yang dia dengar juga, hanya satu orang saja yang bisa membuat tusuk konde itu, jadi di dunia ini hanya ada beberpa saja.


Ketika Flavia pergi ke ruang makan, Eryk sudah ada duduk di sana. Flavia sedikit tersentak mengingat cecapan Eryk waktu itu di tengkuk lehernya, “Papa …” panggil Cedric dengan sedikit berlari.


“Apa rindu dengan Papa?” tanya Eryk.


“Emm … Papa tinggal di sini saja bersama kami!” pinta Eryk.


Eryk pun bersimpuh di depan putranya itu, lalu belum saja menjawab, Flavia malah sudah berkata, “Papa tidak bisa pindah di sini sayang, karena harus menjaga Nenek,”


Eryk langsung saja menoleh kepada Flavia, lalu berkata, “Bersiaplah lusa Papa akan menjemput kalian ke rumah Papa, kita tinggal di sana bersama,” jawab Eryk.


“Villa Papa?” tanya Cedric.


“Bukan, kita akan ke rumah utama keluarga Lin,” jelas Eryk.


“Oh …” jawab Cedric.


“Apa kau rindu bermain di Villa?” tanya Eryk yang melihat raut wajah Cedric.


“Ya Papa apa kita bisa ke sana?” tanya Cedric.


“Tentu saja,” jawab Eryk.


“Mama apa boleh?” tanya Cedric.


Flavia pun mengangguk, “Sekarang saatnya makan lalu pergi ke sekolah,” ujarnya.


Cedric patuh dan dengan cepat duduk di kursi makannya, lalu melahap semua makanan sehat yang di butuhkan tubuhnya. Hari ini flavia tidak mengantar Cedric, “Aku titip dia kepadamu ya, ada hal yang harus aku kerjakan hari ini,”


Eryk menaikan satu alisnya, seperti sedang menunggu penjelasan “Mau ada apa” melihat tatapan menilisik Eryk maka Flavia pun lekas menjawab, pagi ini ada beberapa operasi lalu menemui seorang teman.


“Teman?” tanya Eryk lagi dengan sambil teteap menaikan satu alisnya.


“Iya teman wanita,” jawab Flavia.


Mendengar jika itu adalah wanita barulah Eryk menurunkan alisnya, lalu melajukan mobilnya, Flavia hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya, lalu masuk ke mobilnya dan melajukan ke klinik bersalin miliknya.


Di siang hari, asisten He menjemput tuan muda kecilnya itu, lalu membawanya ke Grup Lin. Wajah Cedric mirip sekali dengan Eryk Lin, sehingga semua pun langsung berbisik-bisik, menebak jika itu adalah putra kandung direktur mereka.

__ADS_1


Paman Lin mendengar rumor itu, lalu segera mencegat Asisten He yang sedang membawa Cedric.Dia sengaja berhenti, Semenjak mengundurkan diri dari profesi kedokteran dan kembali ke kediaman Lin, dia meminta kepada para tetua agar dia bisa ikut andil bekerja di Grup Lin.


Paman Lin, bersimpuh di depan Cedric, “Halo,” ujar Paman Lin.


Cedric menatap bingung ke arah Paman Lin, “ Aku adalah kakekmu! Hmm tapi itu terlalu tua kau bisa memanggilku Paman saja,” ujar Paman Lin sambil tertawa ramah.


“Paman,” panggil Cedric.


Paman Lin langsung saja menggandeng Cedric dan berjalan masuk ke ruangannya. Asisten Yun, asistennya paman Lin menghalangi asisten He yan ingin mengikuti tuan muda kecilnya itu.


Paman Lin mengajak Cedric duduk di sofa, lalu berkata, “Katakan pada Paman, kau ingin makan apa?”


“Apa saja bolehkah?” tanya Cedric.


“Ya apa saja boleh,” jawab Paman Lin.


“Susu, pudding, ayam krispi, siumay, permen,” jawab Cedric.


Paman Lin lagsung saja menekan telponnya dan meminta sekretarisnya untuk membawakan makanan yang di pinta oleh Cedric. Dia tersenyum, lalu melangkah ke arah Cedric, Paman Lin membuka kulkas di ruangannya lalu mengambil susu UHT coklat, “Kau pasti akan menyukai ini, minumlah,” ujarnya.


Cedric pun langsung meminumnya, “Ini enak sekali Paman,” ujarnya.


“Jika kau suka Paman akan memberikan lebih banyak lagi yang seperti ini untukmu,” janjinya.


“Tapi, sebelumny kau harus menjawab pertanyaa Paman dulu!”


Cedric menganguk, Paman Lin tersenyum sambil bertanya, “Apa kalian sudah lama mengenal dengan Tuan Muda Lin?” tanyanya.


Cedric menggelengkan kepalanya, “Jadi kalian baru saling mengenal?” tanya Paman Lin lagi.


Belum lagi melontarkan pertanyaan yang lain, Eryk membuka pintu dan menerabas masuk ke ruangan Paman Lin, “Papa,” panggil Cedric.


Eryk langsung saja menggendong Cedric dan berkata, “Mengapa tidak menemui Papa?” tanyanya.


“Paman mengajakku untuk minum susu,” jawab Cedric.


“Ini enak sekali, terima kasih Paman,” ujar Cedric.


“Ya, nanti Paman akan mengirimkan makanan ke ruangan Papamu ya,” janji Paman Lin.


Eryk hanya tersenyum sekilas lalu langsung membawanya pergi dari ruangan itu, baik Paman Lin atau pun Nyonya Gu, belum melihat siapa ibu dari Cedric. Jadi sampai saat ini wajah Flavia masih belum terbongkar di depan Nyonya Gu.


Cedric pun menemani Eryk bekerja sampai tertidur, lalu dipindahkan ke kamar yang ada di ruang kerjanya itu. ketika sudah sore, dia melirik jam tangannya, lalu berkata kepada asisten He, “Di mana Nona Flavia?”


Saat ini berada di restoran imperial bertemu dengan temannya, Mereka berdua menoleh ketika mendengar suara pintu terbuka, “Papa,” panggil Cedric.


Eryk pun langsung saja berdiri dan memeluk Cedric, “Sudah bangun,” ujarnya sembari mencium pipi Cedric.


Tiba-tiba terbesit ide di kepala Eryk, “Apa mau menyusul mama?” tanyanya.


Cedric menganggukan kepalanya, Eryk pun tertawa senang sambil berkata, “Jika begitu ayo kita pergi menyusul Mama,”

__ADS_1


Di restoran Imperial, terlihat jika Flavia dan Ariana sedang duduk berhadap-hadapan, Dengan sedikit malu-malu, Ariana menyodorkan tusuk konde yang sudah dia bungkus dengan rapih. Di depannya ini adalah murid dari idolanya, Tuan Austin Long. Karena itu dia sangat senang bisa bertemu dengan Flavia.


Flavia membuka kado itu lalu berkata, “Ini sangat indah, terima kasih Nona Ariana,” ujar Flavia.


“Tidak perlu sungkan, aku sangat berterima kasih, karena kau sudah mau menemuiku,” ujar Ariana.


“Tuan Long … aku … sangat mengagumi gurumu itu,” puji Ariana.


“Ya aku juga mengaguminya,” jawab Flavia juga.


“Jika saja dia mau bergabung menjadi seorang agen rahasia, sudah bisa di pastikan akan banyak negara yang akan membujuknya untuk membelot, memihak kepada negara mereka, bekerja untuk mereka,” kata Ariana bersemangat.


“Kau sungguh hebat, bisa menjadi murid dari seoarang Austin Long yang jenius,” puji Ariana.


Mereka pun berbincang sambil sedikit becanda, tiba-tiba flavia mendengar suara yang familiar tengah memanggilnya, “Mama,”


Flavia menoleh dan melihat itu adalah putranya dan Eryk, dia langsung saja berdiri dan berkata, “Kalian ke sini?” tanyanya.


“Cedric merindukanmu,” jawab Eryk.


“Kakak cantik,” sapa Cedric kepada Ariana.


“Halo adik tampan,” jawab ramah Ariana.


Eryk pun menyapa Ariana lalu duduk di kursi sebelah Flavia, sementara Cedric duduk di kursi sebelah Ariana. Pada saat ini ponselnya Eryk berdering, “Aku akan menjawab ini sebentar,” ujarnya sambil berdiri dan pergi ke sisi lain untuk menjawab panggilan telpon itu.


“Halo,” sapanya kepada teman baiknya itu.


“Hei, sebentar lagi aku akan berpergia ke tempatmu,” ujar Carl kepada Eryk.


“Sudah lama tak bertemu, apa yang membawamu kemari?” tanya Eryk lagi.


:Aku mendapatkan jejak malaikatku sedang berada di sana?” jawab Carl sambil tertawa.


“Malaikat?” tanya heran Carl.


“Haissh sudahlah, akan aku ceritakan jika bertemu nanti,” janji Carl.


“Aku Sekarang sudah memiliki keponakan,” Kata Carl ingin menyombongkan diri.


“Aku sekarang sudah memiliki anak, dia sudah berusia lima tahun,” Kata Eryk dengan sedikit lebih sombong


“Apa kau memiliki anak?” tanya Carl.


“Akan aku ceritakan nanti,” jawab Eryk.


Setelahnya mereka menutup sambungan ponsel itu, Carl menoleh ketika Khansa memanggilanya dan memberikan sebuah tas koper, “Ini aku telah mengisi koper ini dengan khas makanan di sini,” ujar Khansa.


“Apa kau benar-benar harus pergi?” tanya Khansa lagi.


Merasa sudah memiliki keluarga yang utuh, Khansa sedikit tidak rela jika harus berjauhan dengan Carl. Tapi memahami, jika Carl juga ingin membentangkan sayapnya seluas Samudra. Carl pun tersenyum dan berkata, “Jika sudah bertemu dengan malaikatku maka aku akan kembali,” janjinya.

__ADS_1


Khansa pun tertawa sembari memukul bahu carl, “Temui Leon dulu sebelum kau pergi,” ujarnya mengingat akhir-akhir ini Leon semakin sibuk.


“Pasti,” jawab Carl.


__ADS_2