
Tuan Mo duduk di sisi ranjang Cedric, lalu berkata "Hebat sekali." Pujinya.
"Kakek dengar, naga kecil Kakek ini baru saja menyelamatkan seorang bayi," pujinya lagi.
"Mereka jahat sekali pada Kakek Sayur dan adik bayi ini," Cedric mengadu kepada Tuan Mo.
"Apa yang mereka lakukan?" tanya Tuan Mo dengan nada serius.
"Mereka memukuli Kakek sayur sampai pingsan," cerita Cedric.
"Lalu apalagi?" tanya Tuan Mo lagi.
"Ibunya adik bayi ingin menyelamatkan adik bayi, tapi malah terjatuh dan terluka karena ibunya itu buta," jawab Cedric.
Tuan Mo pun berdiri lalu berkata, "Menurutmu orang-orang jahat seperti itu harus diapakan?" tanya Serius Tuan Mo yang kali ini membiarkan Cedric memutuskan hukuman bagi kelompok jahat tersebut.
"Penjara," jawab Cedric.
Tuan Mo pun tertawa, mendengar jika cucunya itu malah memberikan hukuman yang paling ringan.
"Baik jika begitu, Kakek akan memastikan, nanti mereka semua akan masuk penjara untuk waktu yang lama," janji Tuan Mo.
Cedric melihat ke arah Flavia lalu berkata, "Ma, apa adik bayi sehat?" tanya Cedric.
Mata Cedric memerah ketika mengingat bagaimana si bayi menangis karena kehausan dan kelaparan. Flavia langsung saja memamgku dan memeluk putranya itu.
"Mama dan Papa adalah dokter, jadi sudah pasti akan menjaga adik bayi agar tetap sehat." Jawab Flavia seraya menepuk-nepuk punggung putranya itu dengan lembut.
Tuan Mo teesenyum melihat cucunya ini adalah seorang yang gagah berani seperti dewa perang, namun baik hati seperti malaikat. Mendengar janji Flavia maka Cedric pun berhenti menangis.
Eryk dan Asisten He, membawa si bayi ke Mansion Mo. Setibanya di sana mereka berdua langsung saja memasuki kamar Cedric. Tuan Mo melihat asisten nomor satunya itu tiba, segera memberi tatapan agar ikut bersama dirinya.
Tuan Mo dan asisten He pun pergi meninggalkan kamar Cedric. Melihat Papanya menggendong si bayi mungil, maka Cedric segera melompat senang dan segera menghampiri si bayi.
"Papa," ujarnya sambil mendongak kepada Eryk.
Dengan perlahan, Eryk pun bersimpuh lalu membiarkan Cedric menciumi bayi mungil itu. Si bayi tiba-tiba kembali mulai menangis lagi.
Eryk pun berdiri lalu memberikan si bayi kepada Flavia, "Aku rasa kau yang lebih berpengalaman soal ini," ujarnya.
__ADS_1
Flavia mengambil si bayi, sedikit bersenandung ketika menggendongnya. Lalu memegang perut si bayi. Merasa jika perut si bayi mengalami kembung. Maka dia meletakan si bayi di ranjang Cedric.
"Sayang, tahan sebentar ya," ujarnya lembut kepada si bayi.
Flavia mulai menarik lembut kaki si bayi lalu menekuknya. Dan mengulangi gerakan yang sama selama Beberapa kali. Setelahnya memutar kaki si bayi ke kanan dan ke kiri.
Terdengarlah suara buang angin si bayi, Cedric dan Eryk saling bertatapan. Lalu bocah tengil itu memberikan tanda dua jempol kepada papanya, yang menandakan pujian untuk mamanya itu. Mengatakan betapa hebatnya mama kesayangannya itu.
Eryk pun mengakui memang wanita yang dia cintai ini sangat hebat dan terlalu manipulatif. Tapi, dia tidak berkeberatan sama sekali, karena untuk bisa masuk ke keluarga Lin memang harus mempunyai kualifikasi yang tinggi.
Di ruangan kerja Tuan Mo, sekali lagi asisten He melaporkan tentang kejadian ini. Tuan Mo mendengarkan dengan seksama lalu berkata, "Pastikan jika keluarga Wu tidak akan pernah bisa bangkit lagi."
"Baik Tuan," jawab asisten He memahami permintaan Tuannya itu.
Jika Eryk mempailitkan semua usaha keluarga Wu, maka Tuan Mo memastikan mereka tidak akan pernah bisa keluar dari kebangkrutan itu.
Di kamar Cedric, nampak si bayi sudah tenang kembali. Flavia menggendongnya lalu meninabobokannya. Suara Flavia bernyanyi dengan merdunya.
Eryk memperhatikan lalu bertanya kepada Cedric, "Apa Mama juga sering bernyanyi untukmu, ketika kau masih bayi?"
"Emm ... Papa He bilang iya, Mama sering menyanyi ketika meninabobokan," jawab polos Cedric.
"Mama bilang, Papa He selalu menjagaku semenjak di dalam perut Mama." Jawab polos Cedric lagi.
Hati eryk semakin tidak menentu, asisten He pria yang termasuk tampan, bahkan menguasai ilmu bela diri yang mumpuni. Eryk memajukan tubuhnya lalu berbisik, "Apa Mama suka pada Papa He?" tanyanya penasaran.
Cedric menaikan kedua bahunya, memberikan jawaban jika dia tidak mengetahui soal yang itu. Wajah Eryk pun sedikit kecewa kerena tidak mendapatkan jawaban pasti.
Flavia menghentikan senandungnya karena si bayi sudah terpulas. Dia pun meletakan bayi itu di ranjang, lalu melangkah pergi dari kamar Cedric.
"Mama mau ke mana?" tanya Cedric.
Flavia langsung saja berbalik ke arah cedric dan menempelkan satu jarinya di bibir putrnya itu seraya berkata, "Sst pelankan suaramu," ujarnya.
"Adik bayi baru saja tertidur," jelas Flavia lagi sambil berbisik
Cedric pun mengangguk paham, Flavia berdiri lalu secara spontan menarik lengan Eryk, berjinjit sambil berbisik juga, "Aku akan mempersiapkan keperluan bayi, kau berjagalah di sini bersama Cedric."
Eryk pun mengangguk paham, Flavia pun segera pergi untuk menyiapkan keperluan yang di perlukan. Setelah Flavia keluar dari kamar. Cedric menarik tangan Eryk sembari berkata.
__ADS_1
"Papa jaga di sebelah kanan, aku jaga di sebelah kiri," ujar Cedric.
Eryk pun patuh dengan pengaturan dari putranya itu. Sementara itu Flavia sibuk menuliskan kebutuhan yang di perlukan dengan cepat oleh si bayi.
"Beli ini, dan cepatlah!" perintahnya kepada salah satu pelayan seraya memberikan kertas catatannya.
Flavia bertemu dengan asisten He, "di mana kakek?" tanyanya.
"Di ruang kerja," jawabnya.
Flavia segera melangkah ke ruang kerja Tuan Mo. Di sana nampak Tuan Mo sedang membuat tulisan kaligrafi. Melihat Flavia masuk dia pun menghentikan gerakan kuasnya.
"Kakek," panggil Flavia.
Tuan Mo pun duduk di kursi, "Ada apa?" jawabnya lembut.
"Apakah bisa jika si bayi dan ibunya tinggal di mansion ini?" tanya Flavia.
"Mengapa tiba-tiba seperti ini?" tanya Tuan Mo.
"Cedric terlihat sangat menyayangi bayi itu," jawab Flavia.
Tuan Mo berpikir jika Naga kecil mereka sudah menyayangi bayi itu. Maka itu juga menjadi kesayangan klan naga hitam.
"Jika begitu lakukan saja seperti yang kau mau?" Jawab Tuan Mo.
"Benarkah kakek mengijinkan?" tanya Flavia lagi memastikan.
"Tentu saja, suara naga kecil adalah suara ku juga," jawab Tuan Mo lagi.
"Jika begitu aku akan segera mengaturnya," ujar senang Flavia sembari memeluk sekilas Tuan Mo.
Flavia kembali ke kamar Cedric dan malah mendapati ketiga lelaki itu terpulas di tempat tidur. Dia pun segera melangkah keluar dengan perlahan. Tidak ingin mengganggu yang sedang tertidur nyenyak.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
JANGAN LUPA VOTE, LIKE,KOMENTAR YA. MASUKAN JUGA KE LIST FAVORIT BACAAN KALIAN YA.
LOVE YOI ALL
__ADS_1
ARIGATO.