
Eryk pun membawa Cedric duduk di kursi lalu dia bersimpuh di depan putranya itu dan berkata, “Lily saat ini sedang bersekolah di sekolah asrama,” jelasnya.
“Sekolah asrama” tanya Cedric.
“Ya, Papa lihat Lily adalah anak yang pintar. Jadi bukankah sangat di sayangkan jika hanya bekerja sebagai pencuci sayuran di villa kita ini,” jawab Eryk.
Mendengar penjelasan papanya itu, Cedric pun berhenti menangis, “Kelak jika nanti sekolah Lily sudah selesai, maka dia akan bekerja untuk keluarga kita. Jadi tidak perlu khawatir lagi, Ok,” jelas Eryk lagi.
“Emm …” ujar Cedric mengangguk sembari mengusap air matanya.
Cedric pun turun dari kursi, berlari keluar untuk bermain lagi. Eryk pun mulai menekan nomor ponsel Flavia lagi. Hanya terdengar nada tersambung. Namun tidak terjawab. Sementara itu, Flavia dan Ariana sedang melesat kencang dengan mobil mini cooper milik Flavia.
Mereka masuk ke dalam hutan, bentuk mobil flavia sangat imut dan manis, tidak berukuran besar karena itu mudah masuk ke dalam hutan.
“Oh Ya ampun, apa kau tidak salah perhitungan? Mengapa masuk ke dalam hutan?” tanya Flavia.
“Menghindari mereka tentu saja?” jawab Ariana.
Dan memang betul, mobil yang mengejar mereka terlihat kesulitan masuk ke dalam untuk mengejar, mini cooper milik Flavia. Tiba-tiba saja mini cooper itu berhenti.
Ariana melihat jika mereka kehabisan bensin, “Ya Tuhan, kapan terakhir kau mengisi bensin?” tanya Ariana.
“Aku lupa …” jawab Flavia dengan tatapan nanar, sambil mengigit bibir bawahnya.
Mobil itu pun berhenti, Ariana pun mengajak Flavia keluar dari mini cooper yang bentuknya sudah tidak sedap dipandang lagi, “Kita mau ke mana?” Tanya Flavia.
“Tentu saja mencari jalan keluar dan bantuan,” jawab Ariana.
Arian teringat dengan pinnya yang baru saja dia berikan kepada tetangga barunya itu, dia pun tertawa membayangkan ternyata pada saat ini yang membutuhkan pertolongan adalah dirinya. Flavia mengikuti langkah Ariana, lalu dia bertanya lagi, “Sebenarnya siapa yang mengejarmu?”
“Laki-laki psikopat yang terobsesi kepadaku,” jawab santai Ariana, seakaan sedang tidak ada yang mengejarnya.
“Di mana kau mengenalnya?” tanya flavia lagi.
“Ketika aku sedang menyamar,” jawab Ariana.
“Menyamar?” tanya Flavia lagi dengan rasa penasaran, sambil sesekali berlari kecil mengejar langkah Ariana yang cepat.
“Ya ketika dalam tugas, aku menyamar dan aku mendekatinya,” jawab Ariana.
“Aku mendekatinya hanya untuk menggali informasi saja, tapi siapa sangka dia jatuh cinta kepadaku. Dan sangat posessif kepadaku, dan malah mengejar-ngejar sampai sekarang,” jawab Ariana panjang lebar.
__ADS_1
Ariana dan Flavia menghentikan langkahnya ketika melihat di depan mereka adalah sungai yang arusnya terlihat sangat deras, “Bagaimana ini?” tanya Flavia.
Ariana terlihat sedang memutar otak, ponsel Megan tertinggal di klinik. Sementara ponsel Ariana di ambil oleh kedua pria yang menculiknya tadi. Di apartemen, Carl baru saja selesai dari jogingnya, menekan pin pintu masuk dan dia melihat ada sebuah kotak kecil berikut kertas tertempel di atasnya.
Carl mengambilnya dan membacanya, lalu dia tersenyum. Dan memperhatikan tombol kecil yang letaknya sedikit tersembunyi, dia menoleh ketika ada yang membuka pintu di depan unitnya itu. Dia pun bertanya, “Apa kau yang menempati unit ini?”
“Oh bukan, yang menyewa tempat ini baru saja pergi, aku hanya datang untuk mengecek keadaan unit, karena akan ada yang datang untuk menyewa kembali,” jawab salah satu orang dari agensi properti.
“Ah begitu,” ujar Carl lalu langsung masuk ke unit miliknya.
Carl menghubungi Eryk, “Apa kau ada waktu, temani aku berkeliling di sini.”
“Sedanh tidak bisa, sedari tadi aku menghubungi dia. Namun tidak bisa,” jawab Eryk dengan panik.
“Ibu dari Cedric?” tanya carl.
“Iya,” jawab Eryk dengan nada yang sudah terdengar khawatir.
“Kami berjanji bertemu di Villa, tapi sampai saat ini dia belum datang juga, sementara sudah meninggalkan kliniknya sedari tadi,” ujar Eryk lagi.
“Aku akan membantumu mengeceknya di klinik, berikan saja alamatnya kepadaku,” ujar Carl.
Carl pun melajukan mobilnya menuju klinik, memastikan jika memang flavia sudah pergi sedari tadi dari klinik. Namun, carl memaksa untuk melihat ke ruangan flavia. Perawat itu pun mempersilahkan Carl melihat ruang kerja Flavia.
Carl berpikir jika kemungkinan flavia meninggalkan ponselnya, “Wah, benar saja ponsel Dokter Flavia tertinggal di sini,” ujar si perawat itu.
“jika begitu aku akan mengantar ke Dokter Flavia,” ujar Carl.
Melihat wajah tidak percaya perawat itu, maka dengan cepat Carl meminta dia untuk menghubungi Tuan Muda Lin untuk memastikannya, jika Cedric ada di sana, menunggu kedatangan Mamanya.
Eryk melihat-lihat ruangan kerja flavia, lalu matanya tertuju kepada tulisan tangan Flavia di kertas, ‘Jurnal medis bab 1’ Carl langsung saja mengambil kertas itu dan membaca judul-judul bab yang flavia tulis.
“Ini bukankah jurnal milik Khansa,” ujar Carl dalam hati.
Carl hafal judul 10 bab pertama dari Jurnal medis itu, dia pun langsung saja keluar dari ruang kerja flavia, di depan pintu bertemu dengan perawat, “Ah Tuan, ini ponsel Dokter Flavia,” ujar perawat itu yang langsung memberikan kepada Carl, karena terlihat dia akan segera pergi.
“Terima kasih,” ujarnya sembari mengambil ponsel itu dari tangan perawat klinik.
Dengan hati tak karuan, carl langsung saja melajukan mobilnya dengan cepat ke Villa milik Eryk, dia pun menghubungi kawan baiknya itu melalui headset, “katakan di mana lokasimu?”
“Ada apa?” tanya Eryk.
__ADS_1
“Aku menuju ke sana,” jawab Carl tanpa narasi dan basa-basi.
Eryk pun langsung saja memberikan lokasi Villanya kepada Carl. Sementara itu, beberapa orang Klan naga hitam terlihat sedang berlari di dalam hutan, mencari jejak nona muda mereka. Mereka tanpak kurus, namun sangat gesit dan memiliki tendangan dan pukulan yang mematikan. Satu melihat dan membaca jejak yang ditinggalkan Flavia.
Asisten He mengajarkan pada Flavia cara meninggalkan jejak di hutan, patahkan ranting kearah yang di lalui, dengan bentuk tertentu yang hanya di pahami oleh Klan naga hitam. Jadi pengawal hanya tinggal mencari patahan dengan simbol tersebut.
Sementara asisten He, langsung pergi ke Villa He, melindungi naga kecil mereka. Carl dan asisten He tiba pada saat bersamaan. Mereka saling menatap, pandangan mereka terbuyarkan oleh panggilan dari Eryk.
“Kalian, datang bersama?” tanya Eryk.
Mereka menoleh lalu berkata, “Di mana Flavi,” kata Carl. “Di mana Cedric?” kata asisten He.
“Kau juga mencari nona muda kami?” tanya asisten He.
Eryk melihat mereka berdua dengan bingung, “Kalian kenapa?” tanya Eryk bertambah bingung.
“Apa flavia sudah sampai?” tanya Carl lagi.
“Tidak,” jawab Eryk.
Eryk melihat kea rah asisten he lalu bertanya, “Apa Flavia sedang dalam bahaya?”
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
DUKUNG NOVEL ini dengan :
- Vote
-Like
-Komen
- Tap favorit yang tanda hati ya
- Poin, hadiah.
__ADS_1