
Kepala pelayan tergopoh-gopoh mencari Eryk lalu berkata dengan nada sedikit panik "Tuan ... Tuan ... ada segerombolan orang menerabas pagar dan memaksa masuk. Mereka sekarang ada di depan."
Eryk dan yang lainnya langsung saja bergegas ke luar, ingin melihat siapa yang berani mencari keributan dengan Keluarga Lin.
Ketika keluar Eryk melihat jika asisten He sudah berdiri di depan pintunya diikuti dengan beberapa orang yang berdiri di belakangnya.
"Mengapa kau membawa paksa mereka?" tanya Asisten He.
Eryk berpikir sejenak lalu menjawab, "Maksudmu Cedric dan Mamanya?"
"Lepaskan mereka," ujar asisten He.
Eryk tertawa lalu berkata, "Melepaskan mereka, mimpi saja kau."
Baru saja menemukan, lalu diminta untuk melepaskan. Di pukul sampai mati pun mana mau Eryk melepaskan.
Asisten He yang mendengarnya merasa emosi dan sudah menyiapkan tinjunya dengan mengangkat kedua tangannya.
Eryk pun melakukan hal yang sama, merasa Cedric dab Flavia adalah miliknya mana rela dia melepaskannya.
Keduanya pun mulai saling mengeluarkan jurus masing-masing. meninju dan menendang. Sontak saja orang-orang di kediaman Lin terkejut karena tidak pernah tahu jika Eryk ternyata bisa berkelahi dan mahir.
Di kamar, Flavia berpikir tentang makan malam yang Eryk katakan. Lalu Flavia pun langsung mencari Eryk. Dia pun menuruni tangga dengan cepat untuk mengejar langkah pria itu.
Namun, Flavia dibuat terkejut ketika mendengar ada ribut-ribut di bawah. Lebih-lebih lagi ketika melihat asisten He adalah pria yang sedang bergelut dengan Eryk.
"Hentikan!" teriak Flavia.
Suara Flavia berhasil menghentikan baku hantam antara Eryk dan asisten He, "Apa yang sedang kalian lakukan!" ujarnya.
Flavia pun semakin pusing, belum masuk secara sah ke keluarga Lin, tapi sudah menarik perhatian sebesar ini.
"Kalian berdua ikut aku!" perintahnya dengan nada sedikit kesal, seraya membawa mereka menjauhi kerumunan.
"Kau!" tunjuk Flavia kepada Eryk.
"Mengapa kau selalu menjadi sumber sakit kepalaku," ujarnya dengan kesal.
"Pria ini ... datang-datang ingin merebutmu. Tidak sopan, karena itu aku memukulnya," jawab Eryk sembari menahan sakit biru lebam di wajahnya.
Meski Eryk mahir ilmu bela diri. Namun, tetap saja bukan tandingan asisten He yang memang dilatih untuk bertempur melindungi naga besar Klan naga hitam.
__ADS_1
Merasa sudah kepalang basah, sudah menarik perhatian sebesar ini. Maka mau tak mau Flavia pun memutuskan akan tinggal di kediaman Lin.
"Katakan kepada Kakek, aku akan tinggal di sini," ujar Flavia kepada asisten He.
"Aku mengijinkan kau bertemu dengan Cedric kapan pun kau mau," ujar Flavia lagi kepada asisten He.
"Ei ... tunggu aku tidak setuju," protes Eryk.
"Aku adalah Papa He, Cedric. Semenjak dia di dalam kandungan aku yang selalu bersamanya. Jadi di pukul sampai mati pun aku tidak akan takut," kata asisten He.
"Oh Ya Tuhan, kalian masih saja bertengkar," ujar Flavia kesal.
Asisten He pun menoleh ke arah Flavia, "Jika begitu aku akan pulang sekarang," ujar asisten He.
Flavia memperhatikan wajah Eryk. Lalu menarik tangannya dan membawanya masuk ke kamar utama.
"Di mana kotak obatnya?" tanya Flavia.
Eryk menunjuk ke arah kamar mandi di kamar itu. Flavia pun mengambilnya dan mulai mengobati lebam-lebam di wajah pria itu.
"Jika tidak bisa berkelahi, jangan sok berani," ujar Flavia sembari mengolesi salep.
Dalam hati sebenarnya Flavia kagum dengan Eryk, karena bisa menangkis tinju dam tendangan asisten He. Namun, takut di lain waktu Eryk bertengkar lagi karena itu langsung menasehatinya.
"Meskipun jika itu adalah keluargamu sendiri?" tanya Flavia.
"Ya meskipun itu adalah keluargaku sendiri. Jika mereka menentangku maka itu sama seperti menadatangani surat persetujuan jika mereka dikeluarkan dari silsilah keluarga Lin," jawab Eryk dengan jelas tegas.
Mendengar perkataan ini, Flavia sedikit merasa tenang. Namun, bukan berarti merasa aman.
"Jika begitu Tuan Lin, bagaimana jika kita melakukan kesepakatan?" ujar Flavia.
"Kesepakatan?" tanya bingung Eryk.
"Berdasarkan analisaku, keluargamu sebagian besar tidak akan setuju dengan kebersamaan kita. Lihat saja tadi salah satu keluargamu sudah ada yang protes aku ada di sini," jelas Flavia.
Eryk berpikir sejenak, lalu berkata, " jadi apa kesepakatannya?"
"Aku akan memikirkan soal pernikahan denganmu, asalkan duri-duri di dalam daging keluarga Lin bisa terbungkam semua," jawab Flavia.
"Aku ingin Cedricku ..." belum selesai bicara Eryk langsung memotong perkataan Flavia. "Cedric Kita."
__ADS_1
Flavia terdiam sesaat lalu berkata lagi, "Dia masih Cedricku."
"Bagaimana apa kau setuju?" tanya Flavia melanjutkan pengajuan persyaratannya tadi.
"Sepakat," jawab Eryk.
Flavia sengaja bersiasat seperti ini karena ingin Eryk megetahui sendiri tentang kebusukan beberapa keluarganya. Jika dia yang mengatakan sendiri maka seluruh keluarga Lin akan menentangnya dan bisa memanipulasi bukti-bukti yang dia dapatkan. Dan Eryk kemungkinan juga tidak akan mempercayai perkataannya.
Namun, jika pewaris keluarga Lin yang bicara maka tidak akan ada yang berani menentangnya. Karena perkataan Eryk setara dengan titah hukum.
"Mama ... Papa ..." panggil Eryk.
Flavia langsung saja melangkah ke sisi ranjang Cedric, "sudah bangun," ujarnya sembari menciumi wajah mungil Cedric.
Eryk juga berdiri di sisi ranjang sambil bersedekap lalu berkata, "Apa ingin bertemu dengan Nenek?"
"Nenek ... aku punya Nenek?" tanya Cedric.
"Tentu saja, dan Nenek sangat cantik," jawab Eryk.
"Jika begitu ayo kita temui Nenek," ujarnya lagi sembari menggendong Cedric.
Falvia tertegun sesaat, merasa sudah sangat lama tidak bertemu dengan Nyonya Lin. Flavia pun melangkah ikut Eryk membawa putra mereka menemui Neneknya.
Di kamar, nampak Nyonya Lin sedang merajut. Dia menoleh ke arah pintu dan melihat Eryk sedang menggendong seorang anak kecil yang sangat mirip Eryk sewaktu kecil.
Nyonya Lin segera meletakan kain rajutnya, lalu berdiri di depan Eryk dan mengusap lembut wajah Cedric.
"Ma ini adalah cucu Mama," kata Eryk.
Nyonya Lin mengangguk, dilihat dari wajah Cedric yang terlihat mirip dengan Eryk kecil. Maka tentu saja Nyonya Lin sudah mengenalinya.
"Nenek," panggil Cedric dengan mulut manisnya.
Mendengar Cedric menyebut kata Nenek, dengan segera Nyonya Lin langsung saja mengendong Eryk berputar-putar sehingga Cedric mengeluarkan suara renyah tawanya.
Hati Flavia tersentuh, Cedric belum pernah tertawa lepas seperti itu. Dan pada saat ini, itu adalah pemandangan yang enak dilihat.
Tiba-tiba Nyonya Lin meletakan Cedric di ranjang, wajahnya nampak khawatir. Flavia memahami kekhawatiran yang di rasakan oleh calon ibu mertuanya itu.
"Nyonya," panggil Flavia.
__ADS_1
Nyonya Lin menoleh, alisnya mengernyit dan memberi tatapan jika dia mengenal gadis yang tadi memanggilnya. Dia mendekati Flavia dan menatapinya lebih dekat lagi.