
Flavia sampai di rumah sedikit larut, dia pergi ke kamar Cedric. Duduk di sisi ranjang kecil putranya itu, memandanginya lalu menciumnya.
Merasa melewati makan malam keluarga, maka Flavia pun menebusnya dengan memasak makanan enak untuk bekal cedric pagi ini ke sekolah.
Flavia juga Tak lupa juga memasakan makanan sehat untuk Tuan Mo.
Cedric tengah bersiap di kamar untuk pergi ke sekolah, Flavia sudah menata sarapan pagi mereka di meja makan. Pada saat ini Tuan Mo masuk ke ruang makan.
Tuan Mo tersenyum melihat Flavia yang sudah merawat dirinya juga si naga kecil dengan baik.
Tuan Mo berkata, "Jika begini, pasti nanti kau akan menjadi seorang istri yang baik," puji Tuan Mo.
"Kakek, pagi-pagi sudah menggodaku," ujar Flavia sambil tertawa.
Tuan Mo menarik kursi lalu duduk, dia pun berkata lagi, "Mau sampai kapan seperti ini?" tanyanya dengan nada serius.
"Bukankah dia berhak tahu?" tanya
Tuan Mo.
Flavia terdiam sesaat, mencoba menilai hatinya sendiri. Trauma yang dia rasakan ketika mengalami kejadian yang menimpanya waktu itu benar-benar membuatnya merasa takut, marah, merasa bersalah, cemas bahkan sangat sedih. dan itu semua sulit dihilangkan, karena sudah tertancap dihatinya.
Ketika seseorang mengalami pelecehan s**sual, trauma yang timbul tidak akan bisa hilang begitu saja. Jika tidak diatasi dengan baik, dampak dari trauma tersebut bisa fatal, mulai dari depresi berkepanjangan hingga bunuh diri.
Beruntung Flavia di hari itu bertemu dengan Tuan Mo, sehingga bisa berangsur pulih, bisa keluar dari rasa traumanya meskipun belum sepenuhnya sembuh secara psikologis.
Flavia menarik kursi, lalu duduk di hadapan Tuan Mo. Sambil menghela napas dia pun berkata, "Kakek, jika melihat bagaiman orang-orang yang berdiri di sekeliling Tuan Muda Lin, apa menurut Kakek hidup Cedric akan baik-baik saja jika mengenal mereka?"
"Saat ini, di sekitar Tuan Muda Lin banyak racun berbisa bertebaran. Dan aku tidak ingin Cedric kita terkena racun mereka," jelas Flavia lagi.
"Cukup aku saja yang menjadi korban, jangan Cedric," jelas Flavia menjelaskan keputusannya mengapa selama ini menjaga Cedric jauh dari mereka.
"Jika mereka tahu, mereka sudah memiliki ahli waris. Maka mereka pasti akan berebut Cedric dengan kita. Apa kakek mau seperti itu?" tanya Flavia yang sudah memikirkan semua konsekuensinya.
"Jika begitu kita akan memerangi mereka," jawan tegas Tuan Mo.
"Aku juga sudah memperkirakan hal ini, karena itu aku menjauhkan Cedric dari mereka. Karena tidak ingin ada darah yang tertoreh di lembaran kisah hidup Cedric," jelas Flavia lagi.
Mendengar perkataan Flavia pun, Tuan Mo tidak ingin berdebat lagi, "Baiklah, Kakek tidak akan mempermasalahkan ini lagi."
Flavia dan Tuan mo, menoleh pada naga kecil yang baru saja masuk ke ruang makan, "Kakek buyut selamat pagi," sapa Cedric dengan mulut manisnya itu.
Tuan mo memangku Cedric lalu menciumi wajahnya, "Cedric duduk di kursimu! kaki Kakek buyut sedang sakit," ujar Flavia.
Cedric pun patuh, lalu duduk di kursinya dan mulai makan makanannya. Tadi sebelum ke ruangan Cedric pergi ke dapur lalu menyiapkan satu kotak bekal makan untuk Eryk.
"Cedric, hari ini mama tidak mengantarmu ya," ujar Flavia.
Cedric memandamgi Flavia lalu berkata, "Ok ma."
Dalam hati Cedric ini adalah kesempatan bagus untuk bisa mengantarkan langsung bekal makanan itu kepada tuan tampan.
__ADS_1
Selesai makan Flavia langsung bergegas pergi ke klinik, sebelumnya tak lupa dia mencium kening putranya itu.
"Jangan nakal di sekolah, ok." Pesan Flavia.
Cedric mengangguk dan tersenyum, lalu segera bergegas pergi juga, "Kakek aku pergi ke sekolah ya," ujarnya sembari mencium pipi Tuan Mo.
Cedric di antar oleh kepala pelayan, "Paman, bisa antar aku ke suatu tempat dulu."
"Mau pergi ke mana?" tanya Paman Zhang, si kepala pelayan.
"Grup Lin," jawab Cedric.
"Mau antar bekal makanan?" tanya Paman Zhang lagi.
"Iya." Jawab Cedric dengan tersenyum.
"Paman, jangan mengadu pada ibu ya!" Pinta Cedric dengan tatapan mata seperti anak kucing.
Paman Zhang melihatnya lalu mengangguk sembari tertawa. Dia berpikir hanya mengantar makanan saja, jadi ini tidaklah begitu penting.
Receptionis mengenali Paman Zhang yang sebelummya pernah datang, "Kakak cantik," sapa mulut manis Cedric.
Receptionis itu menunduk untuk melihat sumher suara yang imut itu, "Ada apa adik tampan?" tanya baliknya.
"Aku ingin memberikan ini untuk bos kakak," jawab cedric dengan masih menebar pesona dibalik kacamata hitamnya itu.
"Jika begitu akan Kakak sampaikan ya," jawab ramah receptionis itu seraya mengambil kotak bekal makan itu dari tangan Cedric.
Cedric pun menggandeng tangan Paman zhang,"Ayo, kita pergi ke sekolah."
Tak berapa lama, Eryk pun tiba di grup Lin. Begitu masuk ke ruangannya dia telah melihat kotak bekal makan serupa lagi seperti waktu itu, "Bocah tengil," gumam pelannya.
Eryk segera menghubungi receptionis dan bertanya, siapa yang mengantar makanan itu.
"Tuan zhang dan juga seorang bocah kecil," jawab receptionist itu.
'Cedric' pikir Eryk.
"Sepertinya sebelum pergi ke sekolah, mereka datang ke sini terlebih dulu," jelas receptionis itu.
"Apa kau mengenali seragam sekolahnya?" Tanya Eryk.
"Ya Tuan, itu adalah seragam sekolah Changsa."
'Changsa, bukankah itu dekat dengan taman bermain' pikir Eryk lagi.
Eryk pun malah meninggalkan grup Lin, padahal baru saja datang. Dia segera melajukan mobilnya ke sekolah itu.
Jam pelajaran sudah di mulai, Cedric juga sudah mulai belajar dengan serius. Salah satu staff sekolah yang mengenali Eryk, membawanya ke kelas Cedric.
Eryk menatapi Cedric dari balik jendela kaca kelas, 'Itu adalah putranya' pikirnya.
__ADS_1
"Apa ingin menyapa masuk?" tanya Staff itu.
Eryk mengangguk, lalu staf itu membawanya masuk ke dalam kelas, Cedric langsung tersenyum melihat kedatangannya.
"Selamat pagi anak-anak," sapa Eryk yang dijawab dengan nada bersemangat dari anak-anak di kelas itu.
"Aku memiliki teman baik di sini, dia sangat baik selalu mengirimiku bekal makan," ujarnya.
"Karena itu aku datang ingin membalas kebaikannya," ujar Eryk lagi.
"Hari minggu nanti, kalian bisa bermain sepuasnya di wahana bermain Lin," ujarnya lagi.
Seketika saja, anak-anak itu berteriak kegirangan sambil bertepuk tangan. Cedric hanya tersenyum biasa, berpikir bagaimana caranya untuk meminta ijin kepada mamanya itu.
'Mama paling tidak suka dengan keramaian' ujar Cedric dalam hati.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
DUKUNG NOVEL ini dengan :
- Vote
-Like
-Komen
- Tap favorit yang tanda hati ya
- Poin, hadiah.
🤗🤗🤗 LEMPAR VOTE DAN POIN YANG BANYAK YAH GAES
DUKUNG JUGA FLAVIA DAN ERYK, YANG SEDANG IKUT LOMBA NOVEL GENRE WANITA MANDIRI
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
Â
__ADS_1
Â