BLUE MOON

BLUE MOON
SATU NYAWA


__ADS_3

Eryk memalingkan wajahnya ketika flavia memeriksa pembukaan Xing Er. Dia mengecek pembukaan jalan lahir yang sudah terlihat sepenuhnya melebar sekitar 10cm.


Setelah serviks terbuka lebar sepenuhnya disertai dengan munculnya kontraksi yang terasa sangat hebat dan kuat, kini tiba pada saat yang dinanti-nanti. Proses melahirkan dengan cara normal akan dimulai sebentar lagi.


tubuh Xing Er akan memiliki dorongan yang kuat untuk mengejan, Flavia  juga  memberi aba-aba agar Xing Er berusaha sekuat tenaga. posisi kepala dan tubuh bayi sudah siap untuk keluar melalui melahirkan dengan cara normal ini.


Kepala bayi itu berada di posisi yang sudah sangat dekat dengan ******, sehingga nanti akan keluar lebih dulu. Kemudian akan disusul dengan tubuh, tangan, dan kakinya yang ikut keluar.


Flavia memposisikan  tubuh Xing Er untuk berbaring, lalu dia menekuk kedua kaki wanita itu agar terbuka lebar untuk memudahkan melahirkan dengan cara normal.


“Tuan Lin,kemarilah!” perintah Flavia.


“Hah!” jawabnya sembari sedikit menutup matanya.


“Hissh .. ayo cepat kemari. Kau ini dokter bukan?” perintah Flavia lagi.


“Aku dokter, tapi bukan dokter kandungan yang terbiasa melihat itu,” gumam Eryk dalam hati.


“Ayo lekas naik ke sini, dan bantu aku!” perintah Flavia dengan nada galak.


“Oh ya Tuhan, mengapa galak sekali,” pikir Eryk lagi seraya patuh  naik ke atas mobil pick up itu.


Melihat Xing Er yang berteriak semakin kencang, Eryk juga paham jika detik-detik persalinan akan segera tiba dia pun  berkata, “Apa yang harus aku lakukan?”

__ADS_1


“Kau pegangi panggulnya agar dia tidak terlalu banyak mengangkat panggulnya ketika mengejan!”


“Ok,” jawab Eryk.


Eryk juga sudah memanggil ambulan untuk datang ke lokasi jalan raya pinggir kota ini, Flavia mengarahkan dengan baik kepada Xing Er, meski ini adalah kelahiran darurat. Flavia memberikan aba-aba pada Xing Er untuk berhenti mengejan. Langkah ini dilakukan sembari membersihkan cairan ketuban, darah, serta lendir yang mungkin menempel di mulut dan hidung bayi.


Dengan begitu, bayi akan lebih mudah untuk bernapas dan menangis saat tubuhnya telah benar-benar keluar. Selanjutnya, Flavia akan memposisikan kepala bayi dengan memutarnya, agar bisa keluar sejajar dengan tubuhnya yang masih ada di dalam v*gina saat melahirkan dengan cara normal.


Flavia kemudian akan meminta Xing Er untuk berusaha mendorong dan mengejan lagi sebagai  guna mengeluarkan bahu bayi, yang dilanjutkan dengan tubuh serta kakinya. Akhirnya, bayi keluar sepenuhnya.  


Flavia mengendong si bayi yang masih dilumuri darah itu, suara tangisannya terdengar nyaring dan renyah, itu adalah seorang bayi laki-laki. Eryk langsung saja mengambil handuk kecil yang tadi telah disiapkannya. Flavia memberikan bayi itu untuk di gendong oleh Eryk.  Tali pusat masih terhubung dengan si bayi, karena tidak memiliki alat steril untuk memotongnya.


Tepat setelah si bayi keluar, Ambulan dan tim paramedis telah datang. Tim paramedis langsung membawa alat-alat untuk persalinan ini.  Memotong tali pusat menjadi momen yang sangat penting untuk kehidupan seorang bayi. Hal ini dikarenakan si Kecil pernah hidup bersama dengan tali pusat karena ia mendapatkan suplai makanan dan oksigen dari tubuh sang Mama, lalu diberikan kepada bayi. Secara tidak langsung selama sembilan bulan di dalam perut, kehidupannya bersama tali pusat tentu sangat berarti.


Semua peralatan yang telah dipersiapkan ini perlu dipastikan untuk selalu steril, sehingga meminimalisir terkena bahaya infeksi untuk mencegah si Kecil terkena infeksi. Falvia melihat semua peralatan yang dibawa oleh tim mendi


“Ok, sepertinya sudah berlalu 10 menit, saatnya kita memotong tali pusat” ujar Flavia kepada Xing Er.


Setelah selesai memotong tali pusat itu, Flavia pun berkata kepada Xing Er lagi, memintanya untuk mengejan lagi, mengeluarkan plasenta yang masih ada di dalam perut. Hal ini dilakukan untuk mencegah perdarahan hebat yang dapat dialami setelah melahirkan.


Setelah tali pusat di potong, Eryk segera saja memberikan bayi yang terbalut handuk itu untuk di bersihkan dengan benar oleh tim medis. Falvia terduduk bersandar di sisi mobil pick up itu. Setelah berjuang dengan peralatan seadaanya, dia pun tersenyum karena baru saja berhasil membawa satu nyawa keluar dengan selamat.


Flavia turun dari mobil pick up dan menyerahkan sisanya kepada dokter dan tim medis yang baru saja datang.  Kemeja putih flavia berubah setengahnya menjadi merah darah. Eryk mengambil selimut dari dalam ambulan lalu segera mengenakan kepadanya.

__ADS_1


Kakek xing Er, berlutut kepada Eryk dan Falvia mengucapkan terima kasih yang tak terkira sambil menangis, “Kau adalah dewa dan dewi penolong kami,” ujar kakek itu.


Flavia segera saja menarik kakek itu agar segera berdiri dan berkata, “Kakek jangan sungkan, berdirilah. Sebagai dokter hal-hal seperti ini memang sudah menjadi tugas kami.”


Xing Er sudah berada di dalam mobil ambulan, bayi pun sudah dibersihkan. Mereka bertiga pun melihat keadaan Xing Er di dalam ambulan. Salah satu perawat memberikan bayi itu kepada Xing Er untuk di lakukan inisiasi menyusui dini.


Xing Er, mengambil bayinya itu. lalu menjejaki wajah bayinya itu dengan tangannya, “Apakah dia tampan?” tanya xing Er.


“Dia buta,”bisik Eryk kepada Flavia.


“Sangat tampan,” jawab Flavia lalu menoleh ke arah si kakek, dan bertanya, “Ke mana ayah si bayi,”


Tiba-tiba si kakek menangis, meratapi nasib cucu perempuannya itu. Melihat jika sepertinya ada yang tak beres maka Flavia membawa Kakek itu untuk duduk di kursi yang ada di dekat mobil mereka. Eryk  tadi juga langsung  memangil beberapa orangnya untuk membawa kursi dan payung besar untuk tempat cedric duduk selama menunggu di luar.


“Kakek bisakah mencertikan apa yang terjadi dengan Xing Er?” tanya flavia.


Dengan nada berat, kakek itu pun menceritakan. Meskipun cucunya ini buta namun, dia mampu menghafal jalan pulang ke rumah dan pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Sementara, dia pergi mengantar sayuran ke kota.


Jadi waktu itu Xing Er sendirian, dan salah satu Tuan Muda dari kota datang lalu melihat Xing Er, lalu memaksanya membawa ke Villa. Xing Er memang buta, tapi waktu ada yang melihat Tuan muda itu membawa Xing Er ke Villanya. Namun tidak berani berbicara karena takut kehidupannya terancam. Dan dia juga menyarankan agar kami diam, jika kami ingin meneruskan hidup kami.


Falvia pun menenangkan kakek Xing Er, lalu mengatakan, “Soal persalinan dan biaya rumah sakit serta kerugian hari ini akan di urus oleh orang Tuan muda Lin kami ini, jadi kakek tak perlu kahwatir lagi ok. Baik-baik jaga Xing Er dan bayinya,” ujar Flavia.


“Dan ini kartu nama aku, hubungi saja jika  memerlukan sesuatu,” ujar Flavia lagi.

__ADS_1


 


 


__ADS_2