
“Ya tentu,” jawab Eryk dengan tersenyum.
“Jika kau masih terus berada diatasku, maka aku tidak akan bisa pergi,” ujar Flavia.
“Ah iya,” ujar Eryk seraya berdiri dari atas tubuh Flavia.
Flavia pun bangkit dari ranjang seraya berkata, “Aku akan bersiap.”
“Ya, ya tentu,” jawab Eryk.
Setelah flavia keluar dari kamarnya, Eryk malah berguling-guling di ranjang tadi, menciumi aroma Flavia yang masih tertinggal, “Oh ya Tuhan, mengapa kau bisa begitu menggemaskan.”
Eryk meminta pelayan untuk menyiapkan Cerdric juga untuk pergi berasama mereka, “Mau pergi kemana?” tanya Cedric kepada kepala pelayan.
“Pergi makan malam dengan Mama dan Papa,” jawab kepala pelayan.
“Makan malam bersama, diluar,” pikir Cedric seraya menyeringai senang.
Eryk dan Cedric menunggu Flavia di atrium depan, tak berapa lama Flavia datang dengan memakai gaun yang menambah keangunannya, “Apa sudah siap semua,” ujar Flavia.
“Tentu,” jawab Eryk seraya memberikan lenganya kepada Flavia.
Dengan tersenyum Flavia menggandeng lengan Eryk dan tangan satunya menggandeng Cedric. Mereka menuju salah satu restoran yang konon katanya untuk memesan tempatnya saja dibutuhkan waktu berbulan-bulan. Tapi Eryk malah dengan mudahnya berlenggang masuk ke dalam restoran ini.
“Tuan Lin,” sapa si manajer restoran.
Tampilan keluarga kecil bahagia ini sungguh menarik perhatian mata semua orang yang ada di sana. Ini adalah pertama kalinya Eryk Lin membawa keluar seoarng wanita secara pribadi dengan menggandengnya. Bisik-bisik pun mulai terdengar riuh. .
“Apa itu adalah calon Nyonya Lin?”
“Siapa anak kecil itu, coba perhatikan wajahnya, nampak serupa dengan Tuan muda Lin.”
“Apakah itu adalah anaknya, dan wanita yang di sebelahnya itu adalah ibu dari anak itu.”
“Oh ya Tuhan … Tuan muda Lin telah memiliki anak, wuaah akan ada banyak wanita yang akan patah hati.”
Eryk malah menggenggam tangan Flavia yang sedang merangkul lengannya itu. lalu menarik kursi untuk Flavia duduk, dan juga mendudukan Cedric seraya berkata, “Pesanlah apa yang kalian mau.”
Dengan wajah sumringah Cedric pun tersenyum sambil memilih menunjuk apa yang dia mau, “Sayang jangan terlalu banyak, perutmu tidak akan bisa menampung semuanya.”
__ADS_1
“Ma …” ujar Cedric.
“Biarkan saja, bahkan jika dia mau aku bisa membeli restoran ini untuknya,” ujar Eryk.
“Hish, kau ini,” ujar Flavia seraya mencubit lengan Eryk.
Ketika Cedric memesan makanan itu, lalu dia berbisik sesuatu kepada pelayan, “Baik Tuan,” ujar si pelayan tersebut.
Ketika makan, Flavia melihat mengapa makanan yang ada diatas meja sedikit, “Bukankah tadi Cedric memesan banyak,” pikirnya.
Lalu ketika ingin pulang, beberapa pelayan restoran membawakan makanan-makanan yang telah di bungkus rapih di dalam kotak. Flavia menaikan satu alisnya lalu bertanya, “Sayang ini apa maksudnya?” tanyanya.
“Ma, ini adalah hari baik untuk berbagi. Karena hari ini adalah pertama kalinya kita makan bersama diluar,” ujar Cedric.
“Jika begitu ini mau dibagikan ke mana?” tanya Eryk seraya mengusap kepala putranya itu.
“Papa dan Mama yang pilihkan tempatnya saja,” jawab Cedric.
Eryk dan Flavia saling memandang, lalu berkata, “Jika begitu kita pilih bersama-sama.”
Eryk pun menepikan mobilnya, lalu bertanya kepada putranya itu, “Apa ingin membagikan di sini?”
‘Ya Papa,” ujarnya, seraya turun dari mobil.
Eryk pun membuka bagasi mobil mereka, lalu dibantu oleh Flavia yang membawakan kotak-kotak makan itu. Cedric membagikan satu persatu makanan itu kepada pengemis yang berjejer duduk di trotoar. Bahkan mereka pergi ke tempat pembuangan sampah, dan menemukan lebih banyak pengemis lagi di sana.
Akhirnya semua pembagian selesai, Cedric tertidur di pangkuan Flavia. Mereka pun sampai di rumah, Eryk langsung turun dari mobil, membuka pintu mobil di sisi Flavia lalu mengambil Cedric dari pangkuan Flavia.
Eryk membawa Cedric ke kamar utama dan meletakannya di ranjang besar miliknya, “Mengapa kau membawanya ke sini?” tanya Flavia.
“Aku ingin tidur bersamanya,” jawab Eryk dengan sedikit bangga.
“Kau telah melahirkan putra yang begitu hebat,” puji Eryk seraya merangkul bahu Flavia.
“Dan kau akan menjadi papa yang hebat,” puji Flavia juga.
__ADS_1
Eryk mencium puncak kepala Flavia seraya berkata, “Beristirahtlah kau juga pasti lelah.”
Flavia pun mengangguk lalu bergegas pergi ke kamarnya, setelah melakukan ritual bersih-bersih sebelum tidur dia pun mengambil ponselnya dan menghubungi asisten He. Jika huru hara akan terjadi di keluarga Lin, maka sebagai ibu dari Cedric Lin dia harus melindungi keluarga ini juga.
“Cari bukti-bukti yang paling memberatkan untuk paman Lin!” perintah Flavia kepada asisten nomor satu di Klan naga hitam itu.
Keesokan paginya, hura hara sudah mulai tercium. Paman Lin tentu saja tidak bersedia di singkirkan dari hirarki manajemen Grup Lin. Sementara, Eryk baru bisa mencopot status Paman Lin di Grup Lin saja, selama dia belum bisa menemukan bukti kuat tentang kejahatan-kejahatan dari Paman Lin itu.
Paman Lin dengan marah mendatangi ruangan Eryk, lalu menghardiknya, “ Apa karena wanita itu sudah mencuci otakmu sehingga kau lupa siapa yang memebasarkanmu?”
Eryk hanya terdiam, lalu dengan tenangnya dia berkata, “Paman kau semakin tua, bukankah saatnya beristirahat saja,” jawabnya.
“Apa perlu aku memilihkan tempatnya?” tanya sarkas Eryk.
“Paman tidak perlu mengkhawatirkan perusahaan kita lagi, ada aku di sini,” ujarnya lagi.
“Kau benar-benar telah dibutakan oleh wanita itu,” hardik marah Paman lin seraya bergegas keluar dengan membanting pintu dengan keras.
Eryk tertawa seraya bersedekap sambil mentertawai perkataan Paman Lin tadi. Beberapa jam kemudian asisten He dengan tergesa-gesa masuk ke dalam ruangan kerja Eryk. Paman Lin ternyata telah membentuk mosi tidak percaya.
Mosi tidak percaya adalah sebuah sistem yang di rancang oleh pihak lawan dengan harapan mengalahkan atau mempermalukan sebuah kepemimpinan, mendengar hal itu Eryk masih menanggapi dengan tenang, “Jadi kita harus bagaiman?” tanya asisten He.
“Biarkan saja, ini adalah saat melihat siapa yang setia dengan Grup Lin dan siapa yang setia dengan Paman Lin,” jawab Eryk dengan santai.
Melihat jika Tuannya sangat santai, maka Asisten He pun menjadi sedikit tenang. Berdasarkan kesaksian Nyonya Fang, Eryk sudah mulai mencari siapa-siapa saja yang terlibat di kejadian waktu itu. Dan, mulai mengusut kembali kasus kematian Papanya.
Eryk sedikit membutuhkan waktu lagi untuk bisa membuka semua kartu kemenangannya, pada saat ini langkah awal yang dia lakukan adalah menendang Paman Lin dari hirarki manajemen Grup Lin. Dan langkah ini langsung mempengaruhi saham di Gurp Lin, karena orang-orang yang setia kepada Paman Lin berbondong-bondong menjual sahammua dan menyerukan kepada yang lainnya juga untuk melepas saham kepemilikan mereka.
Mereka menyebarkan rumor dengan cepat jika kepemimpinan utama telah diambil secara paksa dan ini berimbas negatif bagi Grup Lin.
✅️✅️✅️✅️✅️✅️✅️✅️✅️✅️✅️✅️✅️✅️✅️✅️✅️✅️
DUKUNG dengan Vote, like, komen dan Tap tanda love, favoritkan ya
JANGAN LUPA VOTE-nya Gaes
__ADS_1