
#Bab 89
Hotel bintang lima yang kanselir pilih sudah di datangi oleh tamu-tamu undangan. Mereka datang layaknya seperti tamu-tamu biasa. Felix dan Flavia juga tiba di hotel. Kedatangan mereka sungguh menarik semua mata yang ada di lobi hotel. Satunya wanita buruk rupa, satunya lagi pria culun.
“Atas nama, Tuan Kezie,” ujar Felix sambil melurus-luruskan rambutnya yang sudah licin karena minyak rambut.
Receptionis memperhatikan model rambut licin berbelah tengah milih Felix itu, dalam hati Felix masih sedikit merasa kesal dengan Flavia karena memilihkan model rambut yang seperti ini. Setelah mengecek pemesanan kamar atas nama Tuan Kenzie si receptionis pun tersenyum, “Ini kuncinya, dan selamat menjadi pengantin baru,” ujar receptionis itu.
Kanselir memang meminta siapa-siapa yang hadir harus memalsukan identitasnya, dan Felix mengambil identitas pengantin baru yang sebenarnya sudah tiada karena kecelakaan mobil ketika pasangan pengantin itu pergi berbulan madu.
Di Grup Lin, Di ruang kerjanya terlihat Eryk sudah benar-benar tidak bisa menahan diri. Pada Saat ini Asisteh He masuk dan membawa sebuah berkas, itu adalah berkas tentang identitas yang sedang di pakai Flavia dan Felix.
Alis Eryn menaik tinggi ketika membaca bahwa pada saat ini Flavia dan Felix sedang berperan sebagai sepasang suami istri, “Apa-apaan ini, suami istri!” gumam marahnya dalam hati.
“Ha ha ha ha ha, lucu sekali ini benar-benar lucu . Haisssh …” ujarnya sambil bertelak pinggang.
“Tidak bisa! Tidak bisa begini,” ujar cemburu Eryk dalam hati.
Pada akhirnya Eryk memutuskan untuk pergi menyusul, sebagai pebisnis sudah barang tentu akan selalu memiliki jadwal dina ke luar. Jadi kemungkinan untuk di curigai sangat kecil. Dia pun segera meminta agar asisten He mengatur kepergian mereka itu.
Bagaimana mungkin hatinya bisa tenang setelah mengetahui jika wanitanya tidur satu kamar dengan pria lain, meski pun hanya dalam misi. Dia berpikiri bagaimana jika terjadi cinta satu malam, lalu Cedric mendapatkan adik.
Asisten He masuk lagi ke dalam ruangan kerja Tuannya itu. Lalu berkata, “ Semua sudah siap,” ujarnya.
Eryk memakai jasnya, lalu bergegas pergi ke hotel tempat Flavia menginap. Mereka pun sampai di hotel. Dengan wajah dingin nan tampan, Eryk masuk ke dalam lobi hotel. Langkahnya berhenti sesaat untuk melihat apakah Flavia sedang ada di lobi atau tidak.
“Tuan,” ujar asisten He lagi.
Eryk pun melanjutkan langkahnya, masuk ke dalam lift untuk menuju ke kamar suitenya. Asisten He langsung mengatur memesan kamar di lantai yang sama dengan kamar Flavia dan Felix.
Di dalam kamar Flavia, terlihat dia sedang berdiskusi dengan Felix tentang acara nanti malam. Sambil sedikit menambahkan make up di wajahnya, dengan santainya Flavia berkata, “Jika Eryk Lin sampai tahu kita sekamar seperti ini, pasti dia akan menyusul kita di sini,” ujarnya sambil sedikit terkekeh, tertawa kecil.
Di kamar Eryk , “Hatchi,” dia sedikit mengusap hidungnya itu sambil berpikir apa ada yang sedang membicarakannya.
Felix duduk di depan Flavia, lalu dia berkata, “Apa kau memiliki hati untuknya?”
“Aku …?” tanya ulang Flavia.
__ADS_1
“Ya kau, apa kau merasa suka dengannya?” tanya Felix lagi.
“Entahlah,” jawab Flavia tidak yakin.
“Bukankah kau sudah bersedia menikah dengannya?” tanya Felix.
“Eum … ya begitlah, tapi tidak dalam waktu dekat ini,” jawab Flavia.
“Jika ingin menikah maka lalukan untuk dirimu sendiri, jangan lakukan karena ingin menyenangkan orang lain,” nasehat Felix.
“Ya, iya , iya . Kau ini sejak kapan menjadi cerwet seperti ini,” ujar Flavia lagi.
“Ayo saatnya kita makan siang,” ajak Felix.
Mereka pun memakai kaca mata tebal lalu pergi ke restoran hotel, Eryk sudah lebih dulu berada di restoran hotel, mengambil meja yang posisinya ada di ujung restoran ini. Ketika Flavia dan Felix masuk, dia pun mengambil buku menu untuk menutupi wajahnya dan hanya menyisakan bagian mata saja.
Felix dengan sopan menarik kursi untuk Flavia duduk, Meski sedang dalam keadaan buruk rupa, dan tersenyum ramah kepada pria culun, tetap saja tidak bisa menepis pergi rasa cemburu di hati Eryk, “Oh ya ampun, kenapa kau tersenyum pada pria culun tersebut,” gumam pelan Eryk. Sementara, bagi Flavia dan Felix, mereka benar-benar harus terlihat seperti saling mencintai sebagai pasangan baru sebagai pengantin.
Eryk menancapkan pisau di atas daging steaknya ketika melihat Flavia menuangkan jus jeruk dari pitcher ke gelas Felix, “Oh Ya ampun,” gumamnya lagi.
Meksi merasa terkoyak-koyak, namun Eryk masih bisa menahan diri untuk tidak melangkah ke arah mereka. Selesai makan siang mereka berdua langsung saja kembali ke kamar, Eryk pun mengikuti dari belakang. Dia memakai syal sampai menutupi setengah wajahnya, agar tidak mudah dikenali.
“Bagaimana ini … bagaimana ini,” ujarnya lagi sambil mengacak-ngacak ramburnya sendiri.
Tiba-tiba muncul ide di kepala Eryk ketika melihat Bellboy, ia adalah salah satu posisi di front office yang bertugas untuk membantu membawa barang bawaan tamu dari lobby hingga kamar, “Psst,” panggil Eryk kepada Bellboy tersebut.
“Ya Tuan ada apa?” tanya bellboy tersebut.
“Aku pinjam seragammu sebentar ya, aku akan memberikanmu imbalan sebulan gaji,” ujar Eryk Lin.
“Ah tidak, tidak bukan sebulan. Tapi, aku akan memberikanmu tiga bulan gaji,” ujar Eryk memberikan penawarannya.
“Bagaimana mau tidak?” tanya Eryk memastikan.
“Tiga bulan?” tanya bellboy itu.
“Ya, ya tiga bulan,” jawab Eryk lagi.
“Eum … Ok,” jawab bellboy tersebut.
__ADS_1
Mereka pun segera bertukar pakaian, lalu dengan wajah sumringah sambil mendorong troli makanan menuju ke kamar Flavia dan Felix. Pada saat ini Eryk memakai masker untuk menutupi Sebagian wajahnya. Felix melihat jika yang menekan bel adalah seorang pelayan, maka dia pun membukakan pintu.
“Ada apa?” tanya Felix sedikit bingung karena tidak memesan makanan yang sedang dibawa oleh Eryk itu.
“Tuan ini adalah hadih dari hotel kami. Ini adalah ucapan selamat atas pernikahan kalian,” ujar Eryk dengan menahan nada suaranya agar tidak kelihatan sedang kesal. Pada saat ini Flavia baru saja mandi dan mengaplikasikan masker wajah rumput laut tempel, “Siapa?” tanyanya.
Pelayan membawakan hadiah untuk kita,” jawab Felix.
Flavia berjalan mendekat, lalu berkata, “ Jika begitu bawa masuk,” ujarnya.
Dengan masih memakai handuk di kepala, meski memakai masker tempel yang menutupi wajahnya, namun, Eryk tetap masih bisa menjejaki wajah cantik Flavia.
“Wuah hotel ini hebat sekali, bisa mengetahui makanan kesukaan aku,” ujar Flavia.
Eryk berpura-pura sibuk meletakan makanan di meja dengan pelan-pelan, Flavia mengambil sumpit lalu mencapit dimsum kesukaannya, “Eum, ini enak sekali. Kau juga harus mencobanya,” ujar Flavia seraya mencapitkan satu dimsum dan menyuapkannya kepada Felix.
“Bagaimana, enak bukan?” tanya Flavia sambil mengeluarkan nada tawa senang.
Felix mengangguk-angguk, tanda jika dia juga setuju dengan penilaian Flavia.
Eryk sebisa mungkin menahan agar tidak bersuara di depan Flavia, khawatir jika wania itu akan mengenali suaranya, jadi dia lebih memilih diam.
“Terima kasih Tuan, selarang kau sudah bisa pergi,” ujar Flavia yang melihat jika Eryk yang menyamar sebagai pelayan, masih berada di dalam kamarnya.
✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅✅
PROMO NOVEL TEMAN
Demi mendapatkan biaya operasi sang ayah yang mengidap penyakit jantung, Nabila Kanaya terpaksa menikah dengan Sean Ibrahim, lelaki yang tak lain adalah suami dari sahabatnya.
Sandra Milea, seorang model terkenal yang
namanya sedang naik daun di dunia entertainment, terpaksa meminta sahabatnya untuk menikah dengan suami tercintanya demi mendapatkan seorang anak yang sudah lama didambakan oleh Sean dan juga mertuanya. Bukan karena Sandra tidak bisa mempunyai anak, tetapi, Sandra hanya belum siap kehilangan karirnya di dunia model jika dirinya tiba-tiba hamil dan melahirkan seorang anak.
Lalu, bagaimana nasib pernikahan Kanaya dengan suami sahabatnya itu? Akankah Kanaya menderita karena menikah tanpa cinta dan menjadi istri rahasia dari suami sahabatnya? Ataukah Kanaya justru bahagia saat mengetahui kalau suami dari sahabatnya itu ternyata adalah seseorang yang dulu pernah singgah di hatinya?
__ADS_1