
#Bab 75
Di rumah utama keluarga Lin, Flavia dan Eryk baru sana menidurkan Cedric. Flavia menatapi putranya itu, "Kenapa?" tanya Eryk.
"Sepertinya cedric ini memiliki wajah yang sangat berbahaya," jawab Flavia.
"Maksudmu?" tanya Eryk.
"Lihat saja wajahnya, sangat-sangat tampan. Aku khawatir, bagaimana jika nanti banyak gadis yang patah hati karenanya," jawab Flavia.
Eryk pun tertawa sambil berkata, "Mengapa berpikir seperti itu?"
"Lihat saja kau, berapa banyak sudah mematahkan hati wanita," jawab Flavia.
"Apa itu termasuk kau, yang hatinya sudah aku patahkan?" tanya Eryk dengan suara magnetisnya.
Wajah Flavia pun bersemu merah, Dia segera saja ingin melangkah keluar dari kamar Cedric. Namun, Eryk menahan langkah Flavia.
"Mau kemana, kau belum menjawab pertanyaanku," ujar Eryk.
"I-itu ..." jawab Flavia dengan wajah bertambah merah ...
Eryk menundukan kepalanya, mendekat ke wajah Flavia seraya berkata, "Apa kau juga pernah patah hati karena aku?" ujarnya lagi mengulang pertanyaan.
Flavia mendorong pelan Eryk seraya berkata, "Tuan ... apa kau tidak pulang?" tanyanya.
"Pulang ... untuk apa pulang?" tanya balik Eryk.
"Tentu saja ini bukan rumahmu jadi seharusnya bukankah kau harus pulang!" jawab Flavia.
Eryk pun tertawa seraya menjawab, "Untuk apa pulang, kau dan Cedric ada di sini."
"Jadi untuk apa aku pulang," kata Eryk lagi sambil bersedekap.
"Terserah kau saja," ujar Flavia dan segera melangkah pergi dari kamar Cedric.
Namun, lagi-lagi Eryk menghentikan langkah Flavia. Dia menariknya dan segera saja memasukan Flavia dalam pelukannya.
Flavia ingin mendorong Eryk. Tapi Eryk berkata, "Sebentar saja ... sebentar saja. Biarkan aku memelukmu seperti ini."
Mendengar itu Flavia pun terdiam, setelah memeluk erat, Eryk menudukan kepalanya dan mencium kening Flavia seraya berkata, "Esok aku akan kembali ke sini, menjemput kalian."
Eryk meninggalkan Flavia yang masih terdiam, merasakan dicium di kening. Flava menoleh ketika mendengar suara pintu di tutup, "Dia pergi," gumamnya dengan suara pelan.
Flavia pun menstabilkan emosinya, lalu pergi ke kamarnya. Di depan meja riasnya, dia duduk sambil membersihkan wajahya. Pada saat ini dia memikirkan tentang malam pertama dia dan Eryk. Kemarahan dihatinya sedikit menghilang ketika mengetahui jika dia adalah wanita pertama bagi Eryk Lin.
Dia juga teringat Cedric, buah cinta yang tidak pernah dia harapkan. Namun, sekarang malah menjadi cinta setengah matinya dia. Merasa berterima kasih kepada Eryk karena telah memberikan hadiah sebagus Cedric di dalam hidupnya.
"Astaga," ujar Flavia seraya memeganggi dadanya yang tiba-tiba berdegup kencang.
__ADS_1
"Ei ... ini kenapa?" ujarnya dalam hati.
Flavia belum menyadarai jika dia sudah terinfeksi dan teracuni oleh cinta dari Eryk, memiliki seorang anak, meski dalam keadaan tidak cinta. Tetap saja itu memberikan getaran di hati pada akhirnya.
Di rumah utama keluarga Lin, Eryk begitu sampai malah masuk ke ruang kerjanya. Dia mengeluarkan berkas yang baru saja di dapatkan. foto yang menarik perhatiannya, foto lama. Terlihat Nyonya Lin diapit oleh Papanya dan juga Paman Lin.
"Apa ada rahasia di balik foto ini," pikir Eryk.
Eryk menghubungi asisten He dan meminta dia mengaturkan perjalanan ke sekolah Papa dan Mamanya dulu. Berharap bisa menemukan petunjuk di sana.
Nyonya Lin adalah wanita yang tertutup jika sudah menyangkut tentang masalah ptibadinya, karena itu Eryk lebih memilih menyelidiki sendiri.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
PROMO NOVEL TEMAN 😁😁
Judul: Dijual Suamiku Dibeli Pamanku
Penulis: Ridz
Sinopsis:
"Haruskah kita berakhir begini? Saling membenci dan menyakiti? Untuk apa kita bertahan kalau hanya saling mencari pembuktian,"
Almaira Alshad, seorang wanita yatim piatu yang dinikahi oleh Arlan Megantara seorang pengusaha ritel harus menelan pil pahit saat suaminya menjual dirinya kepada seorang pria dewasa yang ternyata adalah sosok yang Alma anggap paman sendiri.
Cuplikan:
Sinar matahari memancar meredam melewati horden kamar dimana terdapat pasangan suami istri yang sedang tertidur diatas ranjang yang sama.
Sang suami yang menggeliat karena cahaya matahari segera bangkit dan merasa terkejut mendapati dirinya dalam kondisi tanpa busana bersama istrinya.
"Alma! Bangun!" Suara Arlan mengeras yang membuat Alma segera bangun dari tidurnya.
"Ada apa Mas?" tanya Alma dengan suara khas orang baru bangun tidur.
Benar-benar flaminggo, Arlan Megantara sosok suami dari Alma Alshad itu langsung meraih bahu Alma dan menatapnya serius. "Apakah kita melakukan itu semalam?"
Alma mengingat pelan dan yah dia mengingatnya bahwa semalam mereka melakukan ritual suami istri, Arlan menatap serius kembali, ada apa dengan pria ini sebenarnya. "Tanpa pengaman?"
"Iya, memangnya kenapa?" tanya Alma menatap wajah kesal Arlan.
"Sialan!" Arlan mengumpat kemudian memunguti pakaiannya. "Kenapa kau tidak menghentikanku?"
"Maksud Mas apa sih? Memangnya kenapa kalau semalam kita tidak memakai pengaman? Kita sudah sah menjadi suami istri, kenapa harus takut begini?" Alma menatap kesal suaminya.
"Aku tidak ingin memiliki anak darimu!" Damn! Suara retoris bernada bariton itu mengucap penuh penekanan.
__ADS_1
Benar-benar menusuk lubuk hati Alma yang serasa ditikam oleh hal ini. "Kita sudah lima tahun menikah dan Mas masih tidak ingin aku memiliki anak?"
"Mas itu nikahin aku buat apa sih?"
Pertanyaan itu sukses membuat Arlan bungkam, dia memang sudah lima tahun menikah dengan Gevanya yang merupakan pewaris satu-satunya dari perusahaan ritel milik ayahnya, namun sekarang itu sudah menjadi atas nama Arlan semua selaku CEO BARU setelah Ayah dan Ibu Alma meninggal.
Arlan tidak menjawab Alma, dia berjalan ke arah nakas mengambil setablet obat yang bernama. Levonorgestrel.
Sebuah obat pencegah kehamilan yang rutin dikonsumsi Alma ketika Alma dan dirinya melakukan hubungan badan tanpa pengaman.
"Minum ini! Jangan sampai kau hamil!" Arlan mengambil segelas air kemudian memberikannya kepada Alma.
"Mas, Gila sih!" Alma menolak dan menjauhkan benda itu dari hadapannya
"Minum Alma," Nada pelan berujung tinggi dari kalimat itu membuat Alma benar-benar tersentak. "ALMA!"
Perlahan air mata Alma jatuh mendapat bentakan seperti itu untuk pertama kalinya setelah lima tahun pernikahan mereka, Arlan mendegus kemudian meraih dagu Alma memaksanya membuka mulut dan mencekoki istrinya dengan pil tersebut.
"Berhenti menangis atau akan akan menceraikanmu, lakukan saja perintahku," Arlan menaruh gelas air yang kosong di nakas kemudian berjalan menuju kamar mandi didalam kamar meninggalkan Alma.
Alma terduduk di ranjang sendirian, pilu menerobos sanubarinya, mengapa sikap Arlan begitu berbeda semenjak kedua orang tuanya meninggal, Arlan yang lembut perlahan kasar dan anehnya Arlan tidak ingin memiliki keturunan.
Didalam kamar mandi sendiri Alma mendapat panggilan dari seseorang yang belakangan ini dia sebut sayang.
"Kapan kau akan memceraikan istrimu, Lan?"
"Secepatnya sayang, tapi kapan kau akan menceraikan suamimu juga?"
"Bukannya kau sudah tahu jawabannya?"
"Aku akan menemuimu di rumah mu, sampai jumpa,"
Arlan mematikan telepon tersebut kemudian berpakaian didalam kamar mandi merapihkan rambutnya dan berjalan keluar menemui Alma yang masih diam di ranjang.
"Mau kemana Mas?"
"Bukan urusanmu! Minum pil ini tiga kali sehari jangan sampai kau hamil kalau kau hamil aku akan menceraikan dirimu,"
Arlan benar-benar sudah berubah didalam pandangan Alma. Arlan sudah sangat kasar sekarang.
Dan Alma sendiri tidak tahu harus apa sekarang selain menerima nasibnya.
•
•
•
TBC
__ADS_1
Assalamualaikum
Jangan Lupa Like