
Lily menatapi kepergian Cedric, ingin berlari dan memeluknya tapi apa daya Kakinya terlalu lemas untuk mengejarnya. Dia hanya bisa berlutut sambil menundukan kepalanya. Mengumpulkan kembali keberaniannya untuk menghadapi Cedric di hari-hari esoknya.
Beberapa hari berlalu, meski berada di rumah utama Lin. Namun, Lily masih belajar dengan tekun di perpustakaan rumah utama Lin. Sejak malam itu, dia tidak melihat Cedric ada di rumah utama lagi. Pada saat ini, Eryk, Flavia dan putri kembar mereka sedang berada di ruang keluarga.
Eryk meminta kepala pelayan agar memanggil Lily, “Tuan, Nyonya,” sapa Lily kepada Eryk dan Flavia.
Flavia tersenyum seraya sambil mengusap-usap perutnya yang semakin membesar itu. Eryk meletakan tabletnya lalu berkata, “Apakah bersedia jika membantuku menjaga Nyonya, selama di masa jelang kelahiran bayi kami,” ujarnya.
Tanpa berkata banyak, Lily pun langsung mengangguk bersedia, “Bagus, jika begitu kau bisa tinggal di sini, sampai Nyonya melahirkan,” ujar Eryk.
“Baik Tuan,” jawab Lily.
“Terima kasih atas kerja kerasmu selama ini sudah belajar dengan baik,” ujar Eryk lagi.
Lily menundukan kepalanya memberi hormat, lalu keluar dari ruang keluarga. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu temannya yang kebetulan akan kembali ke Beijing. Dia meminta agar temannya itu membawakan sedikit barang-barang miliknya yang masih ada di asrama.
Cedric beberapa hari ini tidur di rumah teman baiknya, “Hei, bangunlah apa kau ini mau jadi beban keluarga, mengapa masih saja tidur,” ujar Yunke.
Hati Cedric masih merasa tidak enak, dia pun menarik selimutnya lagi, menutupi seluruh tubuh bahkan sampai ke wajahnya.
Yunke merasa heran, mengapa temannya yang dingin ini terlihat sedang dilanda kerapuhan.
“Apa ada sesuatu yang menganggu hatimu?” tanya Yunke.
“Tidak ada,” jawab Cedric dengan malas.
Yunke pun meninggalkan kamarnya dan membiarkan temannya itu tidur sepuasnya, Cedric menyibak selimutnya dan menatapi langit-langit kamar Yunke. Tiba-tiba dia merasa rindu dengan adik yang sedang di kandung Mamanya. Dia pun berdiri dan segera membersihkan diri lalu pergi pulang ke rumah utama Lin.
“Mama di mana?” tanya Cedric kepada kepala Pelayan.
“Di taman,” jawab kepala pelayan.
Cedric pun langsung pergi ke sana, melihat Mamanya sedang merangkai bunga di sana. Dia langsung saja berlari lalu memeluknya, “Ma …” panggilnya dengan manja.
“Oh ya Tuhan, si tampan ini, lihatlah betapa tinggimu sudah melampuai Mama. Mengapa masih manja saja,” ujar Flavia.
__ADS_1
“Ma, rindu,” ujar Cedric.
Flavia pun menepuk-nepuk tangan Cedric yang sedang mengusap perut besarnya itu, Cedric pun berlutut di depan perut Mamanya itu, “Apa di dalam baik-baik saja?” tanya Cedric sambil menciumi perut Mamanya itu.
“Li Mei dan Jia mee …?” tanya Cedric sambil mendongakan kepalanya menatapi mamanya itu.
“Sedang bersama Lily, sampai Mama melahirkan maka Lily akan ada di sini menemani Mama,” jelas Flavia.
Cedric langsung saja berdiri, pada saat ini terdengar suara renyah menggemaskan dari kedua adik kembarnya, “Kakak …” panggil mereka.
Cedric langsung saja memeluk kedua adiknya itu seraya menciumi mereka. Cedric memandangi Lily yang sedang berjalan ke arah mereka sambil membawa keranjang rotan berisi penuh dengan bunga-bunga.
“Kak lihat, tadi lily menemani kami memetik bunga,” ujar Jia Mee.
“Kak, ayo bantu kami merangkai bunga ini,” ujar Li Mei seraya menarik Cedric berdiri di depan Lily.
Tidak ingin membuat adik kembarnya kecewa, maka Cedric mengiyakan permintaan untuk ikut merangkai bunga. Mereka berempat duduk di kursi dan mulai meletakan bunga-bunga itu di atas meja, Flavia pun berkata “Mama tinggal ya.”
Cedric dan Lily merangkai bunga dalam hening, mereka hanya berbicara kepada Li Mei dan Jia mee saja. Mencoba mengabaikan kehadiran masing-masing. Meski raga begitu dekat, “Wuah ini indah sekali,” puji kedua adik kembar Cedric itu.
“Kak Lily benar-benar pandai,” puji mereka lagi.
“Tuan Muda, boleh letakan ini di dalam?” pinta Lily.
“Di mana?” tanya Cedric.
“Di tempat yang menurut Tuan akan terlihat sangat indah,” jawab Lily seraya berlalu pergi meninggalkan Cedric dengan rangkaian bunga bersama tadi.
Cedric terdiam sesaat lalu membawa vas kristal yang berisi rangkaian bunga itu ke kamarnya, dan mencari sudut untuk meletakan vas itu, “Nah, hanya di sini rangkaian Bunga ini akan terlihat indah.”
Keesokan harinya, Willy teman Lily datang ke rumah utama Lin. Membawakan koper yang Liliy minta bawakan, “Terima kasih,” ujarnya kepada temannya itu.
“Jadi kau akan tinggal di sini?” tanya Willy.
“Ya sepertinya,” jawab Lily dengan sambil memandangi rumah utama Lin yang besar itu.
__ADS_1
“Apa mereka baik kepadamu?” tanya Willy lagi.
“Baik, sangat baik,” jawab Lily.
“Jika kau membutuhkan sesuatu, telpon aku Ok,” ujar Willy.
Pada saat ini, Cedric baru saja tiba dari latihan lari paginya, daun telinganya mendengar perkataan Willy. Seketika saja hatinya seperti akan meroket menyerang pria yang berdiri di depan lily yang meminta lily untuk menelponnya. Cedric berdiri di depan mereka berdua seraya berpikir, “Dia bersedia menghubungi pria lain, tapi enggan menghubungiku,” pikir marah Cedric.
“Halo,” ujar Cedric seraya langsung menjabat tangan Willy dan meremasnya dengan kencang.
Willy menaikan satu alisnya seraya menahan genggaman keras dari Cedric, “Temanya Lily?” tanya Cedric.
Wily menarik tangannya, dia pun menyeringai sedikit lalu berkata, “Aku adalah … pacarnya,” jawabnya memprovokasi Cedric.
“Haa … begitukah?” tanya Cedric seraya memandangi Lily.
Lily memijit-mijit pelipisnya, “Oh ya ampun …” ujarnya dalam hati.
“kau sebaikanya pulang ok,” ujar Lily kepada Willy.
“Aku akan sering-sering menjengukmu, Ok,” janji Willy.
“Ya … ya, cepat pergi,” ujar Lily seraya mendorong tubuh temannya itu agar segera masuk ke dalam mobil dan segera pergi.
Lily pun menarik kopernya, ingin membawanya masuk ke kamarnya. Baru saja melangkah, Cedric sudah menarik tangannya, “Apa yang tadi dia katakan adalah benar?” tanyanya dengan rasa penasaran yang tinggi.
“Tidak ada hubungannya denganmu!” jawab Lily seraya menghempaskan tangan Cedric.
Tuan muda Lin sudah benar-benar kehilangan kesabarannya, lalu menghalangi langkah Lily dan bertanya sekali lagi, “Apa kau benar-benar tidak ingin mengenalku, apa kau benar-benar ingin aku menjauhimu?” tanya Cedric dengan serius.
Lily berkata dengan menahan suaranya yang mulai terdengar tercekat, “Kau dan aku adalah hubungan majikan dan bawahan, jadi akan lebih baik jika hanya berhubungan soal pekerjaan saja,” jawab Lily dengan enggan memandang wajah Cedric.
“Ok, jika begitu aku akan mengabulkan permintaanmu,” ujar Cedric sambil berlalu dengan sebelumnya memukul dinding dengan kepalan tangannya.
💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞
__ADS_1
DI TUNGGU VOTENYA YA ^__^