BLUE MOON

BLUE MOON
KAU!


__ADS_3

Eryk meletakan botol air mineralnya di atas nakas, dia berdiri dan menajamkan pendengarannya.  Terdengar suara merdu wanita yang sedang bersenandung sebuah lagu anak-anak.


‘Wanita, di kamarku?’ pikir Eryk.


Ada rasa aneh yang menjalar dengan cepat ke hatinya, tertegun sesaat di depan pintu kamar mandi, mendengar suara air terhenti. Maka Eryk segera sedikit bersembunyi ke sisi lemari yang ada di samping pintu kamar mandi. 


Flavia keluar dengan handuk yang melilit ditubuhnya sambil memegang handuk kecil di tangannya, dia duduk di ranjang, memunggungi Eryk sambil mengeringkan rambutnya yang panjang itu.


Eryk memperhatikan dalam diam setiap gerakan Flavia. Eryk mengernyiktan alisnya sambil menelan salivanya. Udara tiba-tiba saja terasa panas bagi Eryk meski di kamar ada pendingin ruangan.


Flavia merunduk dan menggulung rambutnya itu masuk semua kedalam handuk kecil. Eryk yang sedari tadi memperhatikan tiba-tiba saja hatinya terasa seperti baru saja tertimpa batu.


‘Tanda kupu-kupu’ ujarnya dalam hati ketika melihat bahu belakang wanita yang sedang memakai handuk di depannya itu.


Eryk pun keluar dari tempat persembunyiannya, dengan cepat dia menarik lengan wanita yang dia anggap asing itu, ingin melihat wajahnya.


“Aaaaa …! teriak flavia terkejut.


“K-kau …” ujar Eryk yang lebih terkejut lagi.


‘Flavia Gu’ ujarnya dalam hati.


Eryk menggengam lengan Flavia sangat keras, sehingga wanita itu terhuyung masuk ke dalam pelukan Eryk. Wajah mereka hanya berjarak beberapa centi saja, helaan napas mereka pun terasa di wajah masing-masing.  Teringat dengan tanda kupu-puku di bahu tadi. Eryk segera memeluk Flavia dan menundukan kepalanya untuk melihat lebih jelas lagi.


Merasa yakin jika gadis yang ada di dalam pelukannya ini adalah si gadis buruk rupa yang dulu mematahkan hatinya, Eryk segera melepaskan pelukannyanya. Lalu keluar dari kamar, dia mengambil kunci di atas meja lalu mengunci kamar itu. Dan, Dia pergi ke balkon lalu membuang kunci itu ke  bawah.


Flavia melihat hal ini, langsung saja berlari ke arahnya, “Apa kau sudah gila? Mengapa membuang kuncinya?”


Eryk tidak menjawab hanya memandangi Flavia dengan sejuta pandangan yang seakan ingin meledakan wanita yang ada di depannya ini.


Melihat wajah Eryk yang sedikit menyeramkan, Flavia sedikit melangkah mundur. Dari tatapannya flavia menyadari  jika tuan muda Lin sedang murka kepadanya.  Flavia ingin menghindar. Namun, dengan cepat Eryk menangkap tubuhnya, menggendong di bahunya lalu melemparkan Flavia ke ranjang besar yang ada di kamar itu.


Eryk mengendurkan dasinya, segera melepaskan. Flavia baru saja ingin bangun dari ranjang tapi Eryk sudah menindihnya lebih dulu. Dia menjempit tubuh Flavia dengan kedua paha kuatnnya itu, lalu mengambll kedua tangan Flavia, mengangkatnya ke atas dan mengikatnya  dengan dasi ke ukiran besi ranjang besar itu.


Setelah berhasil mengikat tangan dan kaki, Eryk pun bangun dari atas tubuh Flavia. Hatinya benar-benar kacau, “Kau adalah Flavia Gu sekaligus Flavia si buruk rupa?” ujar Eryk sambil mengusap-usap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


Flavia berusaha ingin melepaskan dasi yang tengah mengikat tangannya itu, tapi malah sedikit menyibak handuk yang melilit di tubuhnya itu.  Eryk langsung memunggungi Flavia, karena langsung teringat kejadian di malam itu.


Degup jantungnya semakin kencang ketika mengetahui kenyataan jika dua wanita yang dia cari selama ini adalah satu wanita yang sama. Eryk tertawa sambil bertelak pinggang, tidak percaya jika dia benar-benar dikelabui oleh wanita.


‘Bayi itu’ pkir Eryk tersentak.


Eryk segera mengambil ponselnya lalu menghubungi Asisteh He, “Di mana?” tanyanya.


Asisten He sedikit ragu menjawab, diam beberapa saat lalu berkata., “Maaf Tuan, aku sedang di toilet,” jawabnya.


Ketika sampai di tempat penginapan, perut asisten He terasa tidak beres, dia berkali-kali pergi ke toilet. Karena itulah insiden salah masuk kamar ini terjadi.


Eryk terdiam sebentar lalu berkata “Aku ingin kau melakukan tes DNA untuk Cedric!” perintahnya sembari melihat ke arah Flavia.


“Bawakan kunci cadangan kamarku!” perintah Eryk lagi.


“Kau tidak bisa pergi kemana-mana sampai semuanya jelas!” ujar marah Eryk kepada Flavia.


Asisten He membuka pintu kamar, “Tuan,” ujarnya seraya menyerahkan kunci itu.


Mendengar nada serius dari Tuannya itu, maka asisten He segera mengerjakan apa yang diminta oleh bosnya itu. Eryk mengunci Flavia di kamar , sementara dia pergi ke kamar Cedric.


Cedric tampak sedang menangis, supir yang mengantarnya terlihat sedang menghiburnya. Tangis Cedric terhenti ketika melihat sosok Eryk yang tengah beridri di depan pintu. Melihat itu, langsung saja Cedric berlari menghampiri Eryk.


Eryk bersimpuh sambil merentangkan tangannya, dan memeluk Erat Cedric yang masih menangis itu, sambil mengusap lembut puncak kepala bocah tengil itu.


“kenapa menangis?” tanya Eryk lembut.


“Mama …” jawab Cedric sambil terisak.


“Mama belum datang ke sini,” ujarnya lagi.


“Mama mungkin sedang sibuk, tapi pasti akan datang,” hibur Eryk.


“Bagaimana jika malam ini kita tidur bersama,” usul Eryk.

__ADS_1


“Mau tidak?” tanya Eryk penuh harap.


Cerdric mengusap air matanya sambil mengangguk, Eryk pun menggendong Cedric seraya menciumi wajah mungilnya itu. Sementara itu di kamar Flavia terus berusaha membuka ikatan dasinya. Namun, simpul ikatan itu begitu kuat.


Eryk mengikat itu dengan sangat kuat, mencari lima tahun dan sekarang ada di depan mata jadi mana mungkin akan melepaskan dengan mudah. Flavia akhirnya terdiam pasrah, memandangi langit-langit kamar penginapan ini.


‘Ketahuan’ ujar Flavia dalam hati.


“Bagaimana ini?” gumamnya pelan setengah ingin menangis.


Di kamar Cedric terlihat berbagai macam camilan, Eryk memangku cedric seraya membacakan kisah dongeng.


Merasa jika Cedric tidak bergerak, maka Eryk memindahkannya ke ranjang, menyelimutinya. Lalu meminta seorang penjaga untuk  berjaga di kamar itu.


Eryk kembali ke kamar, lalu mendapati Flavia sudah terpulas. Eryk duduk di sisi ranjang. Menyelimut tubuh Flavia dengan selimut. Memandanginya lekat-lekat, lalu mengusap wajah wanita itu dengan lembut.


‘Mengapa kau harus menghindariku selama ini?’ tanya Eryk dalam hati.


“Karena sudah menemukan maka tidak akan melepaskan” ujar pelan Eryk.


“Kau , Cedric aku menginginkan semuanya,” gumam pelan Eryk seraya menundukan kepalanya dan mencium kening Flavia.


Merasa ada yang mencium, flavia pun membuka matanya, melihat itu adalah wajah Eryk maka Flavia pun langsung berkata, “Lepaskan aku,”


“Tidak bisa!” jawab Eryk.


“Tuan Lin, kita tidak ada hubungan apa-apa,” ujar Flavia.


Eryk berdiri sambil bersedekap, “Ada Cedric dan kau masih bilang kita tidak memiliki hubungan apa-apa.”


‘Cedric … dia tahu soal Cedric’ pikir Flavia.


“Kau ini  benar-benar sangat kejam,” ujar Eryk dengan mengeraskan rahangnya, mencoba meredam amarah di dalam hatinya. 


 

__ADS_1


__ADS_2