BLUE MOON

BLUE MOON
FLAVIA TIDAK MENOLAKNYA


__ADS_3

Fang Yi membawa ibunya kembali ke apartemen, selama sesi terapi Eryk menempatkan Fang Yi dan Nyonya Fang di apartemen miliknya. Setelah mendengarkan rekaman sesi terapi dan mencatat semua analisa dan kesimpulan, Dokter Yun menghubungi Eryk.


"Datanglah, aku sudah mendapatkan informasi yang kau mau," ujar Dokter Yun.


Eryk segera meninggalkan semua pekerjaannya, "Batalkan rapat hari ini!" Perintah Eryk pada asisten He.


"Kunci mobil!" pinta Eryk pada asisten nomor satunya itu.


Eryk bergegas ke mobilnya, lalu melajukan dengan cepat. Semakin cepat misteri ini terkuak, maka semakin cepat pula dia akan menikah dengan Flavia.


Sesampainya di klinik Dokter Yun, Eryk langsung saja menerabas masuk ke ruangan kerja kawan baiknya, "Jadi apa yang kita dapatkan?" tanya Eryk dengan nada tidak sabaran.


Dokter Yun sedang menyesap kopinya, melihat kawan baiknya itu terengah-engah dia pun tertawa lalu berkata, "Duduk dulu."


"Jadi bagaimana?" tanya Eryk dengan tidak sabaran.


Dokter Yun meletakan gelas kopinya, lalu mengambil berkas diatas mejanya, "Ini kesimpulannku," ujarnya seraya memberikan berkas itu ke tangan Eryk.


"Ini rekamannya," ujarnya lagi seraya memberikannya juga.


Eryk mulai membaca berkas-berkas laporan dokter Yun. Semua kesimpulan Dokter Yun terbaca jelas dan pada intinya. Nyonya Fang menyukai Paman Lin yamg pintar, tampan dan berprestasi. Namun, Paman Lin menyukai Nyonya Lin.


Sedangkan Nyonya Lin menyukai tuan muda kedua di Keluarga Lin yang pintar namun, sedikit nakal dan berandalan.


Asmara yang melibatkan orang ketiga tentu akan memicu situasi rumit. Terlebih, jika kisah cinta segitiga itu terjadi pada mereka berkuasa dan memiliki pengaruh.


Cinta bisa salah karena datangnya yang tidak tepat. Selain itu, banyak dari kita yang tidak berdaya untuk mengendalikan rasa cinta, apalagi cinta sesaat. Tanpa sadar, perilaku seperti ini bisa menyeret seseorang kepada situasi yang rumit. Dan, itulah yang terjadi pada dua tuan muda Lin.


Paman Lin iri dengan adiknya, berpikir dia lebih unggul tapi mengapa Nyonya Lin malah lebih memilih adiknya yang berandalan itu. Bahkan bertunangan dan menikah.


Paman Lin enggan dijodohkan, karena itu mengajak Nyonya Fang untuk berkencan. Memanfaatkan perasaan wanita itu untuk menghentikan segala macam dorongan perjodohan unik yang ada di keluarga Lin. Sebagai putra tertua keluarga Lin, maka soal jodoh Paman Lin tidak bisa menentukan semau hatinya. Namun, dia berontak tidak ingin menikah dengan wanita lain selain Nyonya Lin. Dan menjadikan Nyonya Fang sebagai alibinya.

__ADS_1


Ketika Nyonya Lin mengandung Eryk, lalu melahirkan tak berapa lama setelah itu, Tuan muda kedua Lin mengalami celaka dan kehilangan nyawanya. Lalu Paman Lin menghukum Nyonya Lin dengan memberikan racun yang merusak pita suaranya.


Nyonya Fang pun mengatakan itu ketika di alam bawah sadarnya, pada saat di interogasi. Nyonya Fang juga bercerita, dia hamil karena Paman Lin, lalu malah diminta menggurkannya.


Nyonya Fang tidak bersedia, dan memilih melarikan diri. Namun, apa daya kekuasaan keluarga Lin begitu besar. Dengan mudahnya dia menangkap Nyonya Fang lalu meminta dokter untuk mengugurkan kandungannya.


Dengan tertatih-tatih, waktu itu Nyonya Fang berhasil melarikan diri dan masuk ke mobil pria asing. Dan, karena rasa simpati yang tinggi, dia pun mau membawa Nyonya Fang ke tempat yang jauh. Kebetulan pada saat itu pria yang menolong Nyonya Fang, memang berencana pergi ke distrik atau daerah yang jauh.


"Jadi Fang Yi adalah sepupuku," pikir Eryk.


Eryk langsung saja berdiri sambil mengusap kasar wajahnya, keluarga yang selama ini dia lihat harmonis ternyata menyimpan api dalam sekam, ada duri dalam daging.


"Apa yang akan kau lakukan tentang ini?" tanya Dokter Yun.


"Entahlah ... entahlah," jawab Eryk yang masih merasa shock.


Baginya Paman Lin sudah seperti pengganti figur Ayah yang hilang dalam dirinya. Dia pun menghela napas lalu berkata, "Mengorbankan satu orang akan lebih baik, meski tidak akan mengembalikan yang telah hilang. Setidaknya mereka mendapatkan keadilan."


Eryk berkata lagi, "Aku serahkan perawatan Nyonya Fang kepadamu!"


"Ok," jawab Dokter Yun.


Eryk pun segera melajukan mobilnya kembali ke rumah utama Lin, dalam perjalanan dia menugaskan asisten He untuk melalukan tes DNA antara Fang Yi dan Paman Lin.


Hatinya masih bergejolak tidak karuan, sesampainya di rumah utama Eryk langsung saja mencari Flavia. Menemukan, dia langsung saja memeluknya dengan erat, "Hei ... kau kenapa?" tanya Flavia.


"Aku sangat marah, sangat-sangat marah. Jadi biarkan aku memelukmu agar kemarahanku mereda,"jawab Eryk dengan suara sendu.


Flavia yang merasa ada hal yang sedikit aneh pada nada suara pria yang sedang memeluknya ini, dia pun membiarkan Eryk memeluknya.


"Mama," panggil Cedric.

__ADS_1


"Kenapa hanya Mama yang dipeluk," protes Cedric yang sedang melihat papapnya itu hanya memeluk mamanya saja.


Flavia pun segera melepaskan pelukan Eryk lalu merentangkan tanganya untuk Cedric. Dia menggendongnya lalu Eryk memeluk mereka.


"Jika saja Papa di sini, pasti akan sangat senang melihat Cedric-ku," pikir Eryk.


Eryk mengambil Cedric dari pelukan Flavia lalu berkata, "Bermainlah sendiri saja dulu," ada hal yang harus papa bicarakan dengan Mama."


Cedric pun patuh, Eryk pun menarik tangan Flavia masuk ke kamarnya, "Ini ada apa sebenarnya?"


Eryk membawa Flavia duduk di ranjang besarnya itu, lalu dia bersimpuh di hadapannya dan berkata, "Apa masih mau menikah denganku, meski jika di dalam keluargaku ada seorang pembunuh?" tanya serius Eryk sambil menatapi kedua mata Flavia.


"Apa kau sudah menemukan apa yang kau cari?" tanya lembut Flavia.


Eryk mengangguk, lalu


Meletakan kepalanya di pangkuan Flavia. Merasa jika suasana hati tuan muda Lin sedang tidak baik, maka dia pun mengusap-usap.lembut kepala Eryk, seraya berkata, "Pilihan hidup seseorang tidak ada hubungannya denganmu ataupun keluarga lainnya. Setiap orang bertanggung jawab atas pilihan hidupnya sendiri."


"Jadi tentang apa yang kau katakan tadi, itu sama sekali tidak ada hubungannya denganmu. Kau tidak perlu bertanggung jawab atas pilihan hidup orang lain," hibur Flavia lagi.


Kata-kata Flavia bagaikan aliran air jernih yang menyejukan hatinya, tubuhnya yang sedari tadi tegang karena menahan amarah, seketika saja menjadi lebih rileks karena tangan ajaib dan perkataan ajaib dari Flavia.


Eryk mendongakan kepalanya, menatap Flavia lalu berkata, "Jika begitu aku harap kau bisa bersabar jika nanti akan ada huru hara besar dalam keluarga Lin."


Flavia tersenyum dan mengangguk, melihat wajah manis merona merah yang sedang tersenyum kepadanya, merasa terbius dia langsung saja merebahkan Flavia, lalu dengan impulsivnya dia mentautkan bibirnya di bibir ranum merah Flavia.


Mencecapinya beberapa saat, merasa Flavia tidak menolaknya. Dia pun semakin mencium bibir Flavia dalam-dalam.


Eryk melepaskan tautan bibirnya ketika merasa Flavia sudah sedikit kesulitan bernapas. Kedua wajah mereka pun merona memerah, saling bertatapan.


"Apa jadi pergi untuk makan malam diluar?" tanya Flavia memecah keheningan mesra mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2