BLUE MOON

BLUE MOON
PAPA


__ADS_3

Eryk mengambil satu kemeja dari lemarinya, lalu dia membuka ikatan tangan dan ikatan kaki Flavia.  Dengan hati yang masih marah Eryk melemparkan kemejanya, “Pakai itu.”


“Jika ingin lari silahkan, tapi jangan harap bisa bertemu Cedric lagi!” ancam marah Eryk.


“Cedric hanya miliku,” ujar Flavia tidak mau kalah.


“Sebagian Gen miliku mengalir di darahnya. Jadi dia juga adalah miliku,” jawab Eryk tidak mau kalah.


Flavia segera memakai kemeja yang diberikan kepadanya, lalu menarik handuknya dan melemparkannya kepada Eryk, “Kau merenggut kehidupanku di malam itu, dan sekarang kau ingin berebut Cedrid dengan aku!” ujar marah Flavia.


Eryk terdiam sesaat, malam itu dia merasa benar-benar tidak bisa melawan godaan dari wanita yang tidur di ranjangnya itu. Godaan itu terasa kuat sehingga membangunkan gairahnya dan membuatnya merengkuh  Flavia habis-habisan.


Eryk pun merasa marah terhadap dirinya sendiri, ‘prang’ dia melemparkan sebuah vas bunga ke pintu balkon di kamarnya. Flavia langsung saja memegang jantungnya yang berdegup kencang, sambil menangis dalam diam.


Eryk monoleh kepadanya, lalu berkata “Kenapa kau menangis?”


“Apa kau sedang merajuk?” tanya Eryk lagi.


“Lalu bagaimana dengan hatiku yang telah kau patahkan berkali-kali ini?” sambung tanya Eryk lagi sambil menepuk-nepuk dadanya.


Eryk menahan tangisnya lalu berkata lagi dengan suara mangentisnya yang terdengar sedikit tercekat, “Apa kau pikir melahirkan itu mudah?”


“Tubuhmu rusak ketika melahirkan, seluruh tulang di tubuhmu terasa patah semua lalu di sambung kembali. Da, setelahnya kau harus memberikan asi dalam keadaan seperti itu. Tengah malam memberikan asi, menidurkan, mengganti popok. Apa kau bisa bayangkan bagaimana  hatiku karena tidak ada bersama kalian!?” ujar Eryk dengan nada marah.


“Aku tidak akan mengunci kamar ini, jika ingin pergi maka pergilah. Cedric tetap tinggal bersamaku,” ujar Eryk seraya meningalkan Flavia.


Flavia  berlutut di sisi ranjang, lalu menangis, dia memahami jika dirinya dan Eryk tidak menginginkan hal ini terjadi. Namun, malam itu Flavia berharap Eryk tidak menyentuhnya, lalu malah menambah banyak petaka di dalah kisah kehidupannya.


Eryk kembali ke kamar Cedric, lalu tidur di sisi Cedric sambil memeluknya. Keesokan paginya Eryk mengirimkan sebuah mobil untuk mengantar Flavia pergi, asisten He mengetuk kamar dan bertanya, “Nona mobil sudah siap untuk mengantar Nona.”


Dia tidak mungkin pergi dari sini, meninggalkan Cedric di sini, “Aku akan tinggal,” jawab Flavia.


“Baik Nona,” jawab Asisten He sembari menundukan kepalanya memberi hormat.


Eryk membaca pesan dari asisten He yang mengatakan jika Flavia tetap tinggal, Eryk pun tersenyum lalu menoleh kepada Cedric yang baru saja terbangun, “Mama … mama di mana mama?” tanyanya sembari mencari-cari di kamar.

__ADS_1


“Mama sedang menunggu kita untuk sarapan bersama. Ayo kita mandi dulu,” ujar Eryk.


Ini adalah momen yang sangat fenomena bagi Eryk, pertama kalinya memandikan seorang anak.  ‘Dia adalah putraku’ ujar Eryk dalam hati. Sementara itu assiten He membawa Flavia ke restoran, ruang VIP.


Flavia merasa gugup, dia tidak bisa duduk dengan tenang. Sebentar bangun dan sebentar berdiri. Pintu pun terbuka. Flavia terdiam ketika melihat Eryk menggandeng tangan Cedric yang tidak memakai kacamata hitam  besar yang biasa menyembunyikan wajahnya.


‘sungguh mirip’ ujar Flavia dalam hati.


Cedric yamg melihat mamanya, langsung saja dia berhambur ke pelukan Flavia, “


Mama, kenapa datanganya lama sekali?”


“Untung saja ada Tuan tampan yang menemaniku, Mama harus berterima kasih kepadanya,” ujar Cedric.


Flavia dan Eryk saling berpandangan, Eryk terbatuk beberapa kali memberi tanda jika dia menunggu perkataan terima kasih dari Flavia.  Melihat hal itu, Flavia pun sedikit tertawa lalu megucapkan, “Terima kasih Tuan.”


Mereka bertiga pun duduk semeja layaknya seperti sebuah keluarga kecil, Cedric sudah pandai makan sendiri tidak disuapi. Eryk melihat hal ini dan merasa puas dengan cara Flavia mendidik Cedric.  Setelah selesai makan berasama. Asisten He membawa Cedric untuk berkumpul, bermain dengan teman-temannya.


Tinggalah Eryk dan Flavia di dalam ruang VIP tersebut. Sebuah kertas dkeluarkan dan ditaruh diatas meja makan, “Hasil tes DNA, 100% mengkonfimasi Cedric adalah putraku,” ujar Eryk.


“Apa?” tanya Flavia.


“Yang pertama kau bisa Tetap bersama Cedric, asal kau menikah denganku. Dan, yang kedua kau bisa tidak menikah denganku, tapi tidak bisa bersama Cedric,” ujar Tegas Eryk.


Flavia menatap marah kepada Eryk, matanya sudah mulai memerah. Eryk tidak tahan melihatnya lalu dia berdiri dan malah keluar dari ruangan VIP itu.  Air mata Flavia terjatuh dalam diam. Masuk ke dalam keluar Lin adalah hal yang paling tidak dia inginkan.


Merasa selama lima tahun sudah hidup dalam ketenangan, Flavia sedikit tidak rela jika harus kehilangan momen hidupnya selama ini. Flavia pun berdiri, lalu pergi untuk melihat Cedric bermain. Ketika sudah mendekat dia malah mendengar sesuatu yang tidak mengenakan..


“Aku punya Papa,” jawab Cedric.


“Tapi setiap pagi Papamu tidak mengantarmu ke sekolah, dasar pembohong,” ujar salah satu dari teman sekelas Cedric.


“Aku punya Papa Felix dan juga ada Papa He,” ujar Cedric yang mulai kesal.


“Kenapa kau punya Papa dua, aneh,” ledek teman Cedric yang lain.

__ADS_1


“Aku punya Papa!” teriak Cedric sambil menahan tangis dengan mata yang sudah memerah.


Flavia mengambil napas panjang, lalu melangkah mendekati Cedric, menggandeng tangannya sambil berkata, “Cedricku memiliki Papa yang sangat, sangat, sangat tampan.”


Cedric mendongak dan tersenyum kepada Flavia, “Kau dengar kan, apa Mamakku bilang. Papaku sangatlah tampan,” ujarnya dengan bangga.


“Ayo, kita pergi main ke tempat lain,” ajak Flavia kepada Cedric.


Flavia mengajak Cedric duduk di salah satu bangku taman di bawa pohon rindang lalu bertanya,  “Apa teman-teman di kelas sering menindas putra kesayangan Mama ini?”


Cedric terdiam sesaat dengan tatapan nanar, lalu memaksakan senyuman seraya berkata ,” Tidak Ma.”


Dari raut wajah Cedric maka Flavia memahami jika ini terjadi bukan hanya satu kali saja.  Flavia pun langsung memeluk putranya itu seraya berkata dalam hati ‘Maafkan Mama … maafkan Mama’


Cedric bertanya kaepada Flavia, “Ma apakah papa benar-benar sangat tampan?” tanyanya penasaran.


Flavia tertegun, membayangkan wajah Eryk yang memang benar-benar tampan seperti pria yang baru saja keluar dari lukisan, terlihat sangat sempurna, “Ma,” panggil Cedric lagi membuyarkan lamunan Flavia.


“Ah ya, papa sangat-sangat tampan.” Jawab Flavia.


“Semoga Papa tenang di surga sana, Amiin,” ujar Cedric.


Flavia langsung saja menutup mulut kecil Cedric dan berkata, “Jangan berkata sembarangan ok, jangan sampai terdengar oleh orang,” ujar Flavia yang merasa khawatir jika Eryk mendengar Cedric mengucapkan jika Papanya sudah mati.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2