BLUE MOON

BLUE MOON
MENANGIS PANIK


__ADS_3

Carl dan Asisten he, terdiam menatapi Eryk, “Katakan ada apa?” tanya Eryk dengan tatapan mata bagai busur panah kepada keduanya.


Beberapa detik asisten He merasakan hatinya menciut melihat Eryk yang seperti itu, “Dia --- dia sepertinya sedang dalam keadaan bahaya,” jawab asisten He.


“Sial …” ujar Carl yang berpikir jika orang yang mengejar flavia adalah orang yang sama dengan yang menginginkan jurnal medis yang sekarang ada di tangan Flavia.


Eryk menoleh kepada Carl, lalu berkata ,”Apa kau mengetahui sesuatu tentang hal ini?” tanya Eryk.


“Aku akan menjelaskan di dalam,” jawab Carl.


Mereka bertiga pun masuk ke dalam rumah, dan Carl pun mulai bercerita, mereka berdua mulai mendengarkan . Eryk langsung berdiri ketika mendengar jika kemungkinan besar jurnal medisnya ada pada Flavia.


“Maksudmu, flaviaku adalah seorang yang jenius dalam hal pengobatan,” ujar Eryk.


Dia memang tahu jika Flavia adalah seorang dokter, tapi mendengar cerita sejarah jurnal medis milik orang tua Khansa, maka dia beranggapan jika falvia adalah jenius dalam medis.


“Tapi dari mana dia mendapatkan jurnal itu?” tanya Eryk.


“Malaikatku, pasti malaikatku,” ujar Carl.


“Malaikatmu …?” ujar Eryk.


“Ariana … apakah Ariana adalah nama malaikatmu?” tanya Eryk.


“Ya … itu Namanya, darimana kau tahu?” tanya Carl.


“Aku pernah bertemu dengannya,” jawab Eryk.


“Apa, kapan, di mana?” tanya Carl dengan langsung saja berdiri dari duduknya.


“beberapa hari yang lalu,” jawab Eryk.


“Apa … kau sudah bertemu dengannya, kau melihatnya,” ujar Carl sambil menguncang-guncang tubuh Eryk karena dia merasa iri.


“Hissh …” ujar Eryk seraya sedikit mendorong tubuh Carl.


Assiten He pun langsung berdiri, “Eheem …” ujarnya untuk menghentikan percakapan kedua kawan baik itu.

__ADS_1


“Tuan Lin, jangan ijinkan cedric keluar rumah untuk saat ini, Aku akan mengirimkan beberapa pengawal terbaik kami,” ujar asisten He lagi.


Melihat asisten He, bergegas pergi, Eryk pun langsung saja mengejarnya,  “Kau mau ke mana?” tanyanya.


“Mencari Nona muda,” jawab Asisten He.


“Aku ikut,” ujar Eryk.


“Aku juga ikut,” ujar Carl juga.


Asisten He menatap nanar kepada dua pria di depannya ini, merasa jika nanti sepertinya akan merepotkan dirinya. Untuk Eryk masih bisa di katakan memahami cara bertarung, tapi Carl sepertinya tidak bisa bertarung.


Tapi pada akhirnya asisten He, mengijinkan mereka untuk mengikutinya.  Asisten He melajukan mobilnya dengan cepat. Sementara Cedric akan di jaga oleh pengawal klan naga hitam.


Carl duduk di belakang, jalan menuju ke hutan berkelok-kelok, sungguh itu membuat Carl merasa mual. Sepanjang perjalanan dia menahan agar tidak muntah di dalam mobil.  Asisten He pun menepikan mobilnya ketika sampai di titik perkiraan keberadaan Nona mudanya.


Baru saja turun, tiba-tiba Carl memuntahkan seluruh isi perutnya, Asisten He berdiri sambil memijit-mijit pelipis matanya, “Membawa bayi dalam peperangan, ini pasti akan merepotkan,” katanya dalam hati.


Eryk menepuk-nepuk punggung kawan baiknya itu, menenangkan seperti sedang menenangkan Cedric. Asisten He, menatapi sambil bersedekap lalu berkata, “Tuan-Tuan.”


Carl mengelap bekas muntahan di sudut mulutnya, Eryk pun menggulung lengan kemejanya lalu berkata, “Aku siap.”


Sementara itu, Ariana dan Flavia tersudut,jika  kembali kea rah tadi bisa saja mereka bertemu komplotan itu lagi,jika melompat, itu adalah jarak yang lumayan tinggi, “Kita harus bagaimana?” tanya flavia.


Mereka berdua menoleh ketika mendengar ada langkah orang datang, Ariana berdiri di depan Flavia dan sudah memulai memasang persiapan untuk meninju dan menendang. Kedua pria itu menundukan kepalanya, lalu menunjukan tato naga hitan di lengan mereka.


Flavia langsung maju ke depan, “Mereka orangku,” ujar Flavia.


Ariana menarik Flavia lagi,ketika melihat ada beberapa orang datang lagi, “Apa itu orangmu juga?” tanyanya.


Flavia menggelengkan kepalanya, pengawal flavia pun berdiri di depan dia dan Ariana. Mulai melindungi Nona muda mereka.  Mereka pun mulai saling bertinju dan menendang, Ariana juga ikut sibuk melindungi flavia yang hanya bisa berdiri dengan rasa panik.


Bertaung sengit, akhirnya pengawal klan naga hitam pun berhasil melumpuhkan semua komplotan itu, “Nona, sudah tidak apa-apa sekarang.” Ujarnya.


Tiba-tiba mereka semua terkejut karena terdengar suara tembakan, pengawal itu tertembak lalu tubuhnya malah menjadi mendorong Flavia jatuh dari atas tebing itu ke sungai, “Oh ya Tuhan,” ujar Ariana yang dengan cepat ikut melompat ke sungai.


Asisten He dan yang lainnya tiba, tepat ketika pengawal itu tertembak, asisten He segera saja menghambisi komplotan itu, sementara Eryk dan Carl ikut melompat ke sungai deras itu.

__ADS_1


Flavia memegangi pengawal yang sedang terluka itu, karena pria itu tidak sadarkan diri. Flavia melihat Ariana, lalu melepaskan pengawal itu agar Ariana memeganginya karena dia sudah tidak sanggup bertahan lagi.


Ariana menangkap tubuh pengawal itu, sementara Flavia sudah merasa kelelahan dan mulai kehilangan kesadaran. Eryk yang melihatnya langsung saja mempercepat gerakan menggapai Flavia yang sudah terlihat mulai tenggelam.


Eryk pun menyelam untuk mengambil tubuh flavia, sementara Carl membantu Ariana untuk membawa si pengawal ke pinggir sungai.  Sebagai ahli medis, Carl langsung memberikan bantuan pertama yang bisa dia lakukan.


Sementara Eryk masih berjuang membawa Flavia ke pinggir sungai.  Wajah Eryk nampak panik melihat Flavia yang terpejam, dia malah sedikit menangis panik, seakaan kemampuan dia sebagai dokter ahli lenyap begitu saja, lupa apa yang harus dia lakukan.


 


Carl yang melihatya dari jauh, langsung saja menghampiri Eryk dan Flavia, “Kau jaga dia di sini,” ujarnya kepada Ariana.


Ariana juga ingin melihat keadaan Flavia. Namun, patuh denga napa yan di katakana oleh Carl. Dia menunggui dan menjaga pengawal klan naga hitam. Carl menarik Eryk dan dia pun bersimpuh di dekat Flavia.


Dia langsung memberi pertolongan pertama yang bisa dia lakukan juga,  napas Eryk tersengal tak karuan, melihat flavia terbaring seperti itu. Pemandangan yang sama di tiap kali dia melihat tubuh tak bernyawa di kamar bedah forensiknya. Karena itu dia pun merasa panik, dan menjadi linglung.


Asisten he segera turun dengan anak buahnya, lalu dengan segera menghampiri Flavia. Sementara yang satunya menghampiri Ariana, begitu melihat bala bantuan datang, Ariana langsung saja menghampiri flavia.


Asisten he langsung dengan cepat menggendong Flavia, “Ka mau bawa dia kemana?” tanya Eryk menghalangi.


“Tuan ini bukan saatnya berdebat,” jawab Asisten He dengan tegas.


Eryk pun segera memberikan jalan kepada asisten He, Dengan tangkas dan kuat dia menggendong Flavia seakaan sedang menggendong sebuah boneka yang ringan.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


DUKUNG NOVEL ini dengan :


- Vote


-Like


-Komen


- Tap favorit yang tanda hati ya


- Poin, hadiah.

__ADS_1


 


 


__ADS_2