
Flavia menyambut naga kecilnya itu sambil menggendong Jia Li yang berumur 4 tahun. Cedric langsung menurunan Li Mei dan Jia Mee.
"Wuah ... wajahmu semakin mirip dengan Papa," ujar Cedric seraya menggendong adiknya itu.
Flavia melihat ke arah Jiang Jingmi, "Nona jiang," sapa Flavia.
"Bibi," panggil jingmi.
Jingmi masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Lin. Namun, lama tinggal di luar negri. Kali ini jingmi kembali ke Beijing karena diminta oleh keluarganya untuk kembali pulang.
"Ayo Kita ke taman, cicipi kue dan secangkir teh saja sambil menunggunya," ajak Flavia kepada Jingmi.
Lily berlutut di depan si kembar seraya berkata, "Saatnya les piano," ujarnya seraya melihat jam tangannya.
Cedric masih berdiri diam menggendong Jia Li seraya mendengarkan kedua adik kembarnya itu bernegosiasi dengan lily.
"Kak, apakah tidak bisa libur. Kak cedric kami baru kembali," kata negosiasi mereka.
"Tidak boleh sayang, guru kalian telah datang. Hak istimewa mengundurkan jam belajar telah diberikan, dan sekarang sudah berakhir," jawab tegas Lily.
Cedric menaikan satu alisnya seraya berkata, "Setelah selesai, nanti kita bermain bersama."
Mendengar kakaknya sudah berbicara seperti itu, kedua adiknya itu pun patuh. Lalu pergi menuntun tangan Lily untuk pergi ke ruang belajar.
Cedric menatapi kepergian mereka tanpa berkedip. Lalu pergi menyusul Mamanya ke taman. Tuan dan Nyonya Jiang tak lama kemudian tiba di rumah utama Lin.
Kepala pelayan mengantarkan mereka ke taman, jingmi langsung saja memeluk Mama dan Papanya itu. Mereka senang akhirnya Jingmi bersedia kembali pulang.
"Ternyata Tuan muda Lin benar-benar bisa membawa pulang putri kami ini," ujar Nyonya Jiang.
Selama ini jika mereka meminta Jingmi untuk kembali pulang, maka akan selalu ditolak. Tapi begitu Cedric yang mengatakan jika dia harus pulang, maka dia langsung saja setuju.
Flavia pun tersenyum mendengar cerita Nyonya Jiang, lalu melihat Lily datang, dan berdiri di sisi Cedric lalu menundukan kepalanya, menyapa hormat kepada Nyonya dan Tuan Jiang.
"Ada apa?" tanya Cedric dingin.
"Ini saatnya memberikan cemilan kepada Nona kecil," jawab Lily.
__ADS_1
Cedric melihat kepada Mamanya itu, "Berikan Jia Li kepada Lily," ujar Flavia.
Cedric pun berdiri lalu memberikan Jia Li ke pelukan Lily, gerakannya sesaat twrhenti karena jemari tangannya bersentuhan dengan jemari tangan Lily.
Lily pun melangkah mundur lalu pergi meninggalkan taman. Nyonya Jiang menangkap pemandangan ini, lalu berkata, "Apakah itu asisten Tuan muda Lin?"
"Ya," jawab Cedric sambil memandangai kepergian Lily tuk kedua kalinya di hari pertama dia menginjakan kaki di rumah utama ini lagi.
Selama 3.5 tahun dia memutuskan tidak kembali, mencoba mengahapus jejak-jejak gadis itu dihatinya. Dari kejauhan terlihat Eryk telah tiba, "Maaf jika aku tidak menyambut kalian dengan baik."
"Kau pasti sangat sibuk," jawab Tuan Jiang.
Mereka berbincang beberapa saat, lalu berpamitan. Setelahnya Eryk langsung memanggil Cedric ke ruangannya. Dia langsung memberikan beberapa berkas pekerjaan kepada putranya itu, "Papa ingin kau bertanggung jawab pada beberapa perusahaan cabang Grup Lin."
"Lily akan menjadi asistenmu, Papa harap kau bisa menjalin kerjasama yang baik dengannya," ujarnya lagi.
Cedric mengambil berkas-berkas itu, "Baik Pa, aku akan mempelajarinya di kamarku," ujarnya seraya berdiri dan bergegas keluar dari ruangan kerja Papanya itu.
Eryk bersandar, dalam hati dia sedang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Pada saat ini Flavia pun masuk ke ruang kerja suaminya itu.
"Apa kau tidak ingin aku pensiun dini, dan membantumu menjaga ketiga putri kita?" tanya Eryk seraya menarik Flavia agar duduk di pangkuannya.
Meski sudah memiliki empat anak. Namun berkat buku yang Carl berikan kepadanya, membuat kisah ranjang mereka selalu terasa panas.
Cedric tengah duduk di ranjangnya sambil membaca-baca berkas yang tadi Papanya berikan, "Kota Mohe," ujarnya.
Grup Lin memiliki usaha wisata di kota salju itu. Kota Mohe merupakan wilayah perkotaan di ujung utara negara China yang sangat unik, pasalnya di kota ini diselimuti musim dingin abadi sepanjang tahun.
Merasa lelah, Cedric meletakan berkas-berkas itu di atas nakas. Sementara Lily sedang melakukan serah terima pekerjaan kepada kepala pengasuh tiga nona muda Lin.
Lily menjelaskan dengan detail apa yang disukai dan apa yang tidak disukai oleh Li Mei, Jia Mee dan Jia Li. Esok hari Lily sudah akan mendampingi Cedric bekerja. Pagi-pagi sekali Lily sudah rapi mengenakan seragamnya. Setelan blazer berwarna hijau muda dengan rok sepan selutut dan sepatu hak tinggi berwarna hitam. Lily mwnguncir tinggi-tinggi rambut panjang hitamnya itu sehingga jika dia berjalam dengan cepat akan terlihat gelombang gerak yamg indah dari rambutnya itu.
Lily sedang sibuk membujuk kedua nona muda Lin, "Kak Lily mengapa harus bekerja ikut Kak Cedric, Papa memiliki banyak sekretaris, tapi mengapa harus Kak Lily?" tanya mereka berdua.
"Karena Papa yang memutuskan," jawab Cedric.
Kedua nona muda Lin itu pun menoleh, "Kakak ..." panggil mereka.
__ADS_1
"Mengapa tidak menolak mau nya Papa?" tanya mereka penasaran.
Cedric memandang Lily, lalu dia menjawab, "Jika tidak patuh maka Papa akan mengirim Kak Lily ke tempat yabf jauh," jawab Cedric menakut-nakuti adik kembarnya itu.
"Apa ... tidak jangan, tidak boleh. Tidak mau," jawab mereka seraya memeluki Lily mereka.
"Jika begitu jangan ganggu kami bekerja ok!" ujar Cedric seraya mengusap lembut puncak kepala adik-adiknya itu.
"Eum ..." ujar mereka mengangguk patuh.
Cedric melihat Lily dari atas kepala sampai ujung kaki, lalu melangkah masuk ke mobil mereka. Di dalam mobil, Lily mulai membacakan jadwal-jadwal kerja Cedric.
Dengan sambil menatapi pemandangan di jalan, Cedric mendengarkan dengan baik suara Lily ketika menjelaskan semua jadwal kerjanya.
Sesampainya di Grup Lin, beberapa staff manajerial menyambut kadatangan Cedric. Lily dengan pembawaan yang terlihat tenang dan kalem langsung saja mengatur segala keperluan Cedric dengan baik. Ketika tiba, setelah Cedric masuk ke ruangannya, dia langsung membuatkan kopi dan membawa cemilan untuk Cedric.
"Satu cangkir kopi putih, dengan sedikit gula dan cemilan biskuit kacang kedelai," ujar Lily.
"Eum ..." jawab Cedric sambil membaca laporan-laporan.
"Untuk makan siang, apa ada makanan khusus yang ingin di makan?" tanya Lily lagi.
Cedric menatap Lily lalu sedikit menyeringai, "Karena kau mengingatkan aku jadi menginginkan sesuatu."
"Katakan saja," ujar Lily.
Ketika Lily menyebutkan makan siang tiba-tiba Cedric terkenang dengan menu Tahu Mapo kesukaannya. Hidangan ini terbuat dari tahu yang dipotong dadu, dibumbui dan dimasak dengan saus pedas.
"Aku ingin Tahu Mapo dan teh tarik," jawab Cedric.
Tepat jam 11 siang, Lily masuk ke ruangan Cedric dan untuk menanyakan apakah ada menu tambahan.
"Aku ingin makan mie dingin," jawabnya.
"Baik," jawab Lily dan melakukan Reservasi di Restroan Mie Dingin langganan keluarga Lin.
Tak berapa lama Telpon direct Lily berbunyi, "Aku berubah pikiran. Aku ingin makan siang dengan menu Steak Sapi," Ucap Cedric lagi.
__ADS_1