BLUE MOON

BLUE MOON
DUA AHLI BERDISKUSI


__ADS_3

Eryk pun mengikuti langkah Cedric yang membawanya ke dapur seraya menggulung lengan kemejanya, “Mama …” panggil manja Cedric.


“Ah … sayang,” ujar Flavia seraya berheni mencuci sayur.


“Papa bilang mau membantu Mama memasak,” ujar Cedric.


“Iya kan Pa?” tanya Cedric seraya mengedipkan matanya.


“Emm, uhuk … uhuk,” Eryk terbatuk melihat tingkah putranya itu.


Lalu dia berkata, “Ya aku akan membantu, biarkan aku memotong-motong sayuran ini,” ujar Eryk seraya mengambil pisau dan mulai memotong-motong.


“Ah iya,” ujar Flavia dengan wajah bersemu merah. 


Cedric dan Lily sama-sama saling mengedipkan mata dan mengangkat satu jempol mereka, Dalam hati mereka sama-sama berkata, “Berhasil.”


Malam ini semua makan  malam masakan Eryk dan Flavia, tidak ada yang menyangka jika ternyata Tuan muda mereka adalah Koki yang handal. Memiliki Mysophobia membuat Eryk selama ini lebih banyak memilih memasak makanannya sendiri, meski masih mau memakan masakan orang lain juga.  Flavia pun sempat dibuat kagum dengan kecepatan tangan Eryk ketika memorong lobak, wortel, bawang Bombay.


Cedric dan Lily memasukan makanan itu ke mulut mereka, lalu keduanya tersenyum sambil mengangguk-angguk dan berkata, “Ini Lezat, sangat-sangat lezat.”


“Wuah Papa dan Mama benar-benar cocok, koki yang sangat hebat,” puji Cedric.


“Memakan tiap hari seperti ini, pasti akan membuat tubuh kami jadi lebih cepat tinggi,” ujar Lily sambil tertawa juga.  Eryk dan Flavia pun saling bertatapan seraya tersenyum juga memikirkan betapa kompaknya putra mereka dengan Lily.


 


Makan malam selesai, Eryk kembali masuk ke ruang kerjanya mempelajari beberapa kasus pasien-pasien yang dia tangani. Jelang tengah malam Flavia merasa haus, melihat teko air di atas nakas kosong maka Flavia pun pergi ke dapur, merasa ingin minum jus jeruk. 


Pada saat ini, Eryk juga merasa haus dan menginginkan meminum jus jeruk juga, dia pun melangkah ke dapur juga. Keduanya berpapasan dan sedikit kikuk, Flavia menghindar ke kiri, Eryk malah bersamaan menghindar ke kiri, dia kearah kanan, Eryk juga melangkah kearah kanan.


Eryk tertawa kecil lalu berkata, “Ah kau duluan saja,” ujarnya sambil diam berdiri di tempat.  Flavia pun masuk ke dapur , mengambil gelas dan jus jeruk, menuangnya lalu terdiam ketika melihat Eryk menyodorkan gelas kosong di depannya.


Dengan wajah memerah Flavia malah memandangi pria yang baru saja menyodorkan gelas kepadanya. Eryk memberikan kode mata agar Flavia menuangkan jus jeruk yang sedang dia pegang, “Ah ini … kau mau ini,” ujar Flavia sambil sedikit tersenyum.


Eryk mengangguk, Flavia pun menuangkan jus jeruk tersebut. Mereka berdua sama-sama menyesapnya dalam hening sesaaat. Eryk mencoba membuka pembicaraan, “Bagaimana klinikmu?”

__ADS_1


“Baik, sangat baik. Klinik berkembang dengan cepat,” jawab Flavia.


“Wuah, ikut senang mendengarnya,” jawab Eryk.


“Kau sendiri, bagaimana dengan pekerjaanmu?” tanya Flavia.


“Berjalan lancar,  hanya saja sedikit pusing dengan kasus yang sedang aku tangani,” jawab Eryk.


“Mengapa?” tanya Flavia.


“Penyakit jantung langka yang menyebabkan peradangan dinding pembuluh darah,” Jawab Eryk.


“Penyakit jantung sendiri sudah bisa mengganggu sirkulasi darah dan oksigen yang dibutuhkan oleh semua sel, jaringan, dan organ tubuh,” ujar Eryk.


“Penyakit langka ini umumnya menyerang wanita Asia berumur di bawah 40 tahun, dengan jumlah kasus sekitar dua hingga tiga kasus per satu juta populasi manusia setiap tahunnya,” cerita Eryk lagi.


“Bolehkah aku membaca berkas kasusnya?” tanya Flavia.


“Ya tentu saja,” jawab Eryk seraya melangkah ke ruang kerjanya dan Flavia pun mengikutinya.


“Hmm… di sini juga terlihat adanya kemunculan pembuluh darah sirkular pada bagian retina mata. Ini memang  sebuah gejala penyakit jantung yang langka,” gumam pelan Flavia namun, masih bisa di dengar oleh daun telinga Eryk.


“Kelainan pembuluh darah pada retina pada penderitanya terjadi akibat respons penyempitan pembuluh darah arteri pada leher, ini benar-benar penyakit jantung yang langka,” ujar Flavia memberikan pendapatnya.


“Apa pada pasien ini tidak ada denyut nadi pada pergelangan tangan penderita?” tanya Flavia.


“Iya,” jawab Eryk.


“Penyempitan pembuluh darah pada leher, lengan, dan pergelangan tangan juga menyebabkan denyut nadi tidak terdeteksi sehingga penderita terkesan tidak mempunyai denyut nadi,” ujar Flavia memberikan pendapatnya.


“Betul sekali,” jawab Eryk sambil menaikan satu alisnya.


“Apa sudah memeriksa sistem kekebalan tubuhnya?” tanya Flavia.


Flavia mengangkat kepalanya dari menatap berkas kertas yang sedang dia baca lalu menoleh kepada Eryk yang sedang menatapinya, wajah mereka terasa sangat dekat, dengan perlahan Eryk merangkul pinggung ramping Flavia seraya bertanya “Apa … tadi bagaimana?”

__ADS_1


Flavia menelan salivanya ketika menatapi alis Eryk yang lebat hitam seperti pohon willow.  Hidung mancung dan bibir yang seksi, “Aah itu … eum. Autoimun,” jawabnya.


“Autoimun?” gumam pelan Eryk.


“Iya, Jadi, sistem imun yang berupa sel darah putih kemungkinan menyerang pembuluh darah aorta dan cabang-cabangnya. Hasilnya peradangan akan terjadi dan menyebabkan kerusakan pada aorta, yaitu pembuluh nadi besar yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh, dan pembuluh darah lain yang berhubungan dengan aorta,” Jelas Flavia.


“Ditambah jika adanya kemungkinan lainnya, seperti ada virus atau infeksi, mulai dari infeksi spirochetes, Mycobacterium tuberculosis, hingga mikroorganisme streptokokus,” tambah kata Eryk.


“Hmm … ya bisa juga kemungkinan begitu,” jawab Flavia mengangguk.


“Kita juga harus mempertimbangkan, tentang  penyakit jantung yang juga menurun dalam keluarga, sehingga ada kemungkinan faktor genetik juga memiliki pengaruh terhadap perkembangan penyakit,” ujar Eryk lagi.


“Tepat sekali,” ujar Flavia.


“Jika begitu aku harus memperhatikan lebih detail, Sakit pada bagian tubuh, terutama tangan dan kaki. Berapa kali pingsan karena pusing, seberapa sering sakit kepala, Apa memiliki masalah ingatan dan kemampuan berpikir. Apa megalami napas pendek,” ujar Eryk


“Perhatikan juga Perbedaan tekanan darah pada kedua lengan, Penurunan denyut nadi apakah anemia, perhatikan jumlah sel darah merah rendah, dan yang tak kalah penting juga apakah masih terdengar bunyi pada arteri saat pengecekan menggunakan stetoskop,” ujar Flavia menambahkan.


Ketika selesai berdiskusi flavia pun tersadar jika tangan Eryk merangkul pinggul rampingnya, “Ah ya ampun,” ujar Flavia dalam hati sambil berdiri.


Eryk pun ikut berdiri lalu berkata, “Emm … terima kasih atas semua pendapatmu. Itu sangat membantu,” ujar Eryk.


“Iya, senang bisa membantu … Emmm aku kembali ke kamar,” ujar Flavia.


Eryk mengangguk, lalu dengan impulsivnya dia berlari mengejar Flavia dan meraih tangannya lalu berkata, “Maukah makan malam denganku di luar?” tanyannya.


“Apa?” tanya Flavia sedikit terkejut.


“Itu … anggap saja sebagai ucapan terima kasihku karena sudah membantu ku mempelajari kasus pasienku,” jawab Eryk.


Berpikir sejenak lalu flavia menjawab, “Ok.”


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2