BLUE MOON

BLUE MOON
RAYNAR SEBASTIAN


__ADS_3

Flavia menyelaraskan napasnya, lalu barulah masuk ke dalam mansion. Merasa sudah melewatkan makan malam dengan putranya, maka malam ini dia akan tidur bersama Cedric.


Flavia membersihkan diri dan berganti piyama, lalu baru masuk ke kamar Putranya. Dia bersimpuh di sisi ranjang Cedric, "Mengpa jadi semakin mirip dengannya,, ujar Flavia sambil memegang tengkuk lehernya, teringat cecapan lidah Eryk ketika memghisap tengkuk lehernya tadi.


"Astaga ..." ujar Flavia sambil menepuk-nepuk pelan kepalanya.


Melihat putranya itu tertidur dengan nyenyak, Flavia pun tergoda untuk memejamkan matanya. Dia pun membuka selimut, lalu masuk ke dalamnya Memeluk putranya. Dan, menepuk-nepuk lembut punggung Cedric.


Keesokan paginya, Cedric tak henti-hentinya melompat gembira. Xing'er dan bayinya telah tiba di Mansion Mo.


Si bayi di gendong oleh asisten He, sementara Xing'er dituntun oleh kakek sayur, "Papa He,mau lihat adik bayi," ujar Cedric.


"Kak Flavia," panggil Xing'er


"Aku di sini," ujarnya sembari memberikan tangannya untuk di genggam Xing'er


Dengan nada sedikit ketakutan Xing'er bertanya, "Apa mereka sudah pergi jauh ... orang yang mau mengambil putraku?" tanyanya.


Gerakan asisten He terhenti ketika mendengar pertanyaan Xing'er, lalu menatap kedua mata bulat si bayi yang hitam pekat. Sangat jelas ketika besar nanti dia pasti akan mewarisi wajah tampan tuan muda Wu.


"Tenang saja dia akan aman bersama kita di sini," jawab langsung asisten He.


"Ah jika begitu aku bisa tenang sekarang," ujar Xing'er memberikan tangannya, asisten He pun langsung menangkap tangan Xing'er. Dan, langsung saja di gemggam dengan kuat.


"Terima kasih," ujar Xing'er lagi.


Tuan Mo pun menyambut mereka, sejenak berbincang, lalu dia bertanya, "Mengapa tidak ikut tinggal bersama Xing'er di sini?"


"Tidak terima kasih, menitipkan cucu dan cicit di sini, sudah membuatku berhutang budi terlalu banyak, dan entah kapan bisa menebusnya," jawab Kakek sayur.


"Jangan terlalu sungkan, Cedricku sangat menyukai si bayi," jawab Tuan Mo


"Begini saja, untuk mengurangi rasa tidak enak di hati. Maka hari ini, pada saat ini juga, aku menjadikan bayi ini sebagai asisten Cedricku di masa mendatang. Setelah cukup umur kami akan melatihnya dengan keahlian-keahlian khusus," ujar Tuan Mo.


Kakek Sayur pun tersenyum dan berkata, "Ya ... begitu saja, begitu saja sudah adalah pilihan terbaik."


"Apakah sudah memiliki nama?" tanya Tuan Mo.


Semua saling bwrpandangan, merasa karena kesibukan masing-masing mereka pun sampai melupakan perihal nama si bayi.


"Kami masih bingung memberi nama,"jawab Kakek Sayur.

__ADS_1


Bayi itu masih ada di pelukan Asisten He, lalu Tuan Mo berkata, "Jika begitu, bagaimana jika meminta asisten He untuk mwmberi nama pada si bayi," ujar Tuan Mo yang merasa jika asisten nomor satunya itu berhak memberikan nama kepada calon muridnya.


Wajah asisten He bersemu merah, ini adalah pertama kalinya dia merasa melankolis, hanya karena di minta memberikan sebuah nama pada bayi kecil.


Bayi itu memandangi wajah asisten He dengan kedua bola mata hitamnya yang pekat, seakaan menunggu dan berkata, "Ayo! Berikan aku nama."


Terdiam sesaat, lalu keluar sebuah nama dari mulut asisten He, "Gladius ... kita beri nama Gladius saja."


"Apa ada artinya?" tanya Cedric.


"Pedang," jawab Asisten He.


"Kelak nanti dia akan menjadi pedang yang menjagamu juga menjaga mamanya," jelas asisten He.


"Wuah ... keren sekali namanya," puji Cedric sambil tersenyum dengan binar bangga.


Saatnya Kakek sayur pergi kembali pulang ke rumahnya yang ada di pinggiran kota, "Jangan menyusahkan keluarga Tuan Mo," nasehat kakek sayur kepada cucunya itu.


Xing'er pun di bawa ke kamarnya, di sana sudah ada Cedric dan Asisten He yang sudah lebih dulu ada di dalam.


"Apa dia sudah tertidur?" tanya Xing'er.


"Sudah, sepertinya dia tertidur karena merasa kekenyangan," jawab asisten he sedikit tersenyum.


Flavia menerima sebuah panggilan di ponselnya, itu adalah sebuah nomor tidak di kenal, "Halo apakah ini Nona Flavia?" tanya sapa suara di balik panggilan itu.


"Iya, aku Flavia," jawabnya.


"Ah jika begitu, senang sekali. Aku mendapatkan nomormu dari Felix," ujar wanita itu lagi.


"Apa aku mengenalmu?" tanya Flavia.


"Tidak, kau tidak mengenalku," jawabnya.


"Tapi pasti kau sudah membaca jurnal medis dari Tuan Long bukan?" jawabnya lagi.


"Tuan Austin Long maksudmu?" tanya Flavia lagi.


"Bukankah dia adalah gurumu?" tanya wanita itu lagi.


"Iya," jawab Flavia.

__ADS_1


"Jika begitu boleh aku bertemu denganmu," pintanya lagi dalam bahasa asing.


"Sebutkan tempat," ujar Flavia.


"Oh ya, siapa namamu?" tanya Flavia.


"Ariana," jawabnya.


"Baiklah Nona Ariana, kita akan bertemu secepatnya." janji Flavia.


Setelah menutup sambungan telpon itu, Ariana twrsenyum. Sebagai seorang agen rahasia, tentu saja dia mengenal Austin Long. Master racun yang di perebutkan badan intelegen berbagai negara. Namun, memilih tetap menjadi orang biasa.


Waktu itu, ketika dia menemukan jurnal medis. Dia tidak menyerahkan itu sebagai barang bukti. Merasa jika itu seperti berisi sesuatu yang penting, maka dari itu dia memberikan jurnal itu kepada Austin Long, si master racun.


Mengetahui dari sumbernya jika Tuan Austin Long memberikan jurnal itu untuk murid satu-satunya, maka merasa sedang berada di satu tempat, dia pun tidak mau mwnyia-nyiakan untuk bisa bertemu dengan murid dari idaman nomor satu para badan intelegen itu.


Flavia membuka pesan lagi dari Ariana, yang memberi tahu lokasi tenpat mwreka bertemu nanti. Mengingat sejarah jurnal medis dan pria waktu itu, maka ariana memperkirakan jika pasti akan ada ornag-orang yang mencari jurnal itu. Jadi dia harus memperingatkan Flavia lebih dulu.


Sementara itu di indonesia, keluarga Sebastian masih merasa suka cita menyambut tuan muda kecil mereka yang menuruni ketampanan dan kecantikan dari kedua orang tuanya.


"Paman Carl, apa tidak ingin tinggal lebih lama di sini?" tanya Khansa sambil menunjukan wajah putranya itu.


"Raynar... berhenti menatapi paman seperti itu lho," ujar Carl dengan nada gemas.


"Paman pergi sebntar saja ok, nanti kembali lagi, kita bermain bola bersama paman gerry," janji Carl.


"Apa kau harus pergi sekarang?" tanya Leon.


"Aku menghilangkan jurnal orang tua Khansa, jadi aku harus mencarinya sampai dapat, jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah," jelas Carl.


"Sini, biarkan aku menghendongnya," pinta Carl seraya mengambil Raynar dari pelukan Khansa.


"Apa kau tahu, dulu kau pernah mwmbuat Paman dan papamu sangat-sangat kesusahan?" Ujarnya sambil menciumi pipi Raynar.


"Raynar Sebastian, kau adalah mahluk kecil yang berhasil membuat paman melompat ke air kotor berwarna coklat," ujarnya lagi seraya menciumi perut Ray.


Leon mendendang kaki Carl, insiden melompat ke kolam lele tidak ada yang tahu selain mereka berdua, jadi untuk apa di umbar-umbar.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


JANGAN LUPA VOTE, LIKE,KOMENTAR YA. MASUKAN JUGA KE LIST FAVORIT BACAAN KALIAN YA.

__ADS_1


LOVE YOU ALL


ARIGATO.


__ADS_2