BLUE MOON

BLUE MOON
HANYA BOLEH AKU


__ADS_3

Eryk tidur dengan sedikit meringkuk, kakinya yang panjang itu tengah di tekuk sedikit. Ini adalah ranjang Cedric jadi sudah jelas tidak menampung tiggi badannya.


Tengah malam Eryk terbangun, terkejut melihat si bayi tidak berada di ranjang. Eryk segera saja bangkit berdiri lalu pergi ke luar dari kamar putranya itu.


"Di mana kamar Nona Flavia?" tanya Cedric pada kepala pelayan yang ditemui secara kebetulan.


Melihat ini adalah Papa dari si naga kecil, kepala pelayan itu pun langsung mengantarkan Eryk ke depan pintu kamar Nona muda mereka.


Eryk mengetuk pelan, sekali dua kali tidak ada jawaban. Dia pun memberanikan diri untuk membuka pintu kamar itu dengan perlahan. Terlihat lampu di dalam masih terang benderang.


Eryk dapat melihat dengab jelas, Flavia sedang tidur bersama si bayi. Dia pun melangkah pelan lalu memandangi keduanya. Tiba-tiba saja, Eryk menangis. Memikirkan betapa menyedihkan dirinya karena tidak bisa membersamai Cedric ketika masih bayi.


Saat-saat Flavia harus menidurkan Cedric seperti pemandangan yang dia lihat sekarang. Eryk berjalan perlahan lalu duduk di sisi Flavia. Dia membelai lembut wajah Flavia, lalu menundukan kepalanya dan mengecup kening Flavia dengan lembut.


"Kita akan segera menikah," bisik Eryk pelan ke daun telinga Flavia.


Eryk segera melangkah pergi, lalu kembali ke kamar Cedric. Tidur sambil memeluki putranya itu. Dalam hati berjanji tidak akan membiarkan putranya itu sendirian lagi, nanti dia akan selalu hadir di setiap moment penting putranya.


Pagi-pagi sekali asisten He telah datang membawakan pakaian untuk Tuannya itu. Dan, pagi-pagi sekali Eryk sudah mengahadap menemui Tuan Mo.


Tanpa berbasa-basi Eryk langsung saja meminta ijin untuk bisa menikahi Flavia. Tuan Mo, dengan tenang menyesap teh herbalnya. Dia meletakan gelas teh itu di atas meja.


"Apakah kau merasa layak untuknya?" tanya serius Tuan Mo.


"Layak tidak layak, hanya aku yang bisa menjadi Papa bagi Cedric. Dan suami dari Flavia. Tidak ada pria lain yang layak, dan tidak akan pernah ada." Jawab lugas Eryk penuh percaya diri.


"Buktikan kepadaku!" Ujar Tuan Mo.


Tuan Mo pun berdiri, lalu memgambil napas panjang dan mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Flavia waktu itu. Juga ketika masa-masa kehamilannya dan kelahiran Cedric.


"Jadi apa kau paham maksud apa yang aku ceritakan?" tanya serius Tuan Mo lagi.


Eryk terdiam sesaat, dia memahami jika saja malam itu dia tidak memutuskan untuk merengkuh Flavia. Maka wanita itu tidak perlu mengalami hal-hal yang menyakitkan.


Eryk berdiri sambil menundukan kepalanya, lalu berkata, "Seumur hidup ini aku akan menghabiskan seluruh nyawaku untuk menebus kesalahanku kepadanya," janji Eryk.

__ADS_1


"Buktikan kepadaku!" ujar Tuan Mo.


"Ini adalah janjiku, maka aku akan membuktikannya kepada Tuan." Kata Eryk seraya menundukan kepalanya lalu melangkah pergi.


Eryk melangkah ke kamar Flavia, wanita itu baru saja selesai mandi. Aroma tubuh Flavia yang tercium seperi es krim vanilla itu langsung saja menyeruak ke penciuman Eryk. Dia Terasa seperti terlempar ke malam di waktu dia merengkuh Flavia.


"Astaga ... Tuan Lin ... k-kau mau apa?" tanya Flavia tergugup.


Eryk berjalan ke arah Flavia. Menarik pinggul ramping wanita itu. Lalu Dia membelai rambut Flavia yang tergerai dengan indah dengan ujung rambut yang sedikit mengikal, aroma tubuh Flavia yang seperti wangi vanilla ice cream itu terasa begitu manis di penciuman Eryk.


“Maafkan aku!” pinta Eryk.


Telapak tangan Eryk kemudian membelai wajah mungil yang bersemu merah itu. Kemudian Eryk mengusap tengkuk Flavia sembari tersenyum dan berkata, “Priamu hanya aku, dan hanya boleh aku.”


"Apa!?" Kata Flavia dengan sangat bingung.


Eryk sesaat terdiam dan benar-benar menatap wajah cantik Flavia yang begitu dirindukannya. Lalu dengan impulsivnya dia memejamkan matanya lalu menempelkan bibirnya ke bibir lembab Flavia.


Perasaan bahagia yang selama ini Eryk rindukan menyeruak begitu saja ketika bibirnya bergerak di atas bibir Flavia. M*ngulum bibir wanita itu dan bahkan sedikit menggigit kecil bibir bagian  bawah wanita yang pernah mempermainkan hatinya itu.


Bertemu dengan lidah Flavia membuat k*luman ciuman Eryk semakin dalam.  Dia merasakan nikmat menc*umi bibir Flavia, seolah seperti sedang menyalurkan kerinduan yang terpendam selama ini.


Flavia benar-benar dibuat tidak bisa bernapas oleh Eryk. Merasa puas mencecapi bibir Flavia. Dia pun melepaskan pelukannya dari pinggul ramping Flavia.


"Aku pergi, kalian tinggal saja dulu di sini untuk beberapa waktu," ujar Eryk lalu bergegas pergi melangkah dari kamar Flavia.


Eryk meningalkan Flavia dalam kelimbungannya, dia pun terduduk di ranjang besarnya. Seluruh tubuhnya tadi terasa terbuai karena ciuman memabukan dari Eryk.


Flavia mengusap lembut bibirnya itu, dan masih tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


Mobil yang membawa Eryk melaju dengan cepat, sesampainya di grup Lin. Dia langsung saja meminta asisten He, mengumpulkan beberapa pengacara.


Hal pertama yang ingin dia lakukan adalah menghukum keluarga Gu, dalam pertemuan itu Eryk berkata, "Apa yang menjadi milik keluarga Gu, maka berikan semua kepada Flavia Gu!"


"Terserah mau pakai cara apa," tambah kata Eryk lagi.

__ADS_1


"Baik Tuan," jawab beberapa pengacara tersebut.


Setelah pengacara itu pergi, Eryk meminta asisten He mengumpulkan semua tentang hal keluarga Lin yang lain. Termasuk harta kekayaan mereka dan juga bisnis-bisnis mereka.


"Lakukan dalam mode senyap," perintah jelas Eryk.


Tuan Mo memberikan syarat kepada Eryk, agar menyelesaikan permasalahan yang telah lama tertunda ini. Eryk menangkap pesan Tuan Mo dengan sangat jelas. Karena itu langsung bertindak.


Di Mansion Mo, wajah Cedric nampak kecewa karena tidak melihat papanya untuk makan pagi bersama dengan mereka. Flavia memahami hati gundah putranya itu, lalu berkata, "Apa mau ikut ke rumah sakit? Kita ajak adik bayi menemui ibunya," hibur Flavia kepada putranya itu.


"Apa papa juga akan ada di rumah sakit?" tanya Cedric.


"Ya, tentu saja,Papa Felix juga nanti akan ke sana" jawab Flavia.


"Ok Ma, aku ikut," jawab Cedric dengan senyuman tampannya.


Ibu dan anak itu pun pergi menuju ke rumah sakit. Sebelumnya Flavia mengirimkan pesan kepada Cedric agar meluangkan sedikit waktu untuk putra mereka.


Tentu dengan senang hati Eryk akan meluangkan waktu. Dia bahkan menunggu ibu dan anak itu di depan lobi rumah sakit.


"Papa," panggil Cedric yang begitu turun dari mobil sudah melihat papanya menunggu kadatangan mereka.


Eryk pun langsung bersimpuh dan melebarkan tangannya, lalu memeluk dan menggendongnya. Sontak saja para perawat yang memuja Eryk Lin langsung berbisik-bisik.


[Siapa anak itu, mengapa mirip sekali]


[Oh ya Tuhan, apakah itu putra dokter Lin. Lihat saja wajahnya begitu mirip]


Setelah Eryk mengetahui identitas Cedric. Maka memakai kaca mata ketika putranya pergi ke luar rumah, sudah tidak berlaku lagi.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


JANGAN LUPA VOTE, LIKE,KOMENTAR YA. MASUKAN JUGA KE LIST FAVORIT BACAAN KALIAN YA.


LOVE YOI ALL

__ADS_1


ARIGATO.


__ADS_2