BLUE MOON

BLUE MOON
BERLUTUT


__ADS_3

"Hei! Apa kau sedang berancana mengakku ke surga Hah!?" ujar Cedric dengan nada marah bercampur panik.


Lily mengabaikan Cedric, adrenalinnya sudah meningkat berlipat-lipat. Dia terus menekan pedal gas dengan kencang. Kedua mata Cedric terbelalak melihat jika gadis cantik yang sedang menyetir mobilnya itu seperti tidak takut mati.


"Apa karena sedari pagi aku telah membuatnya kesal," pikir Cedric dalam rasa paniknya.


"Matilah ini ... matilah aku," pikir Cedric lagi ketika melihat kedua mobil itu tidak ada yang mau mengalah.


Dengan dorongan hati yang impulsif dan berpikir bisa saja malam ini merkea mati muda, Cedric langsung saja berkata tanpa berpikir panjang, "Lily, aku mencintaimu."


Mendengar perkataan tuan mudanya itu, Lily langsung saja mengerem sampai ban mobil berdecit. Mobil mereka berhenti, sementara mobil lawan semakin bergerak maju, "Apa katama tadi?" tanya Lily sedikit linglung meski matanya menatap mobil yang semakin mendekat ke arah mereka.


Cedric sudah tidak dapat mencerna pertanyaan Lily, matanya semakin terbelalak melihat kecepatan mobil itu. Tapi, ketika sudah mendekat malah mobil lawan yang membanting setir berbelok, karena melihat mobil Flavia berhenti, diam tidak bergerak melaju seakaan siap untuk di tabrak. Lawan masih takut mati, dan memilih berbelok.


"Hah! Hosh ... hosh," Cedric langsung bisa bernapas lega ketika melihat mobil lawan menghindar lalu langsung melaju pergi begitu saja.


Lily pun mengembalikan kesadarannya, menganggap jika tadi dia salah mendengar. Sementara, di kursi belakang Cedric masih terkapar lega sekaligus terkejut.


"Ya Tuhan hampir saja," pikirnya sambil bersandar merentangkan lemas kedua tangannya.


Melihat para begajulan itu sudah pergi, maka Lily pun kembali melajukan mobilnya dengan stabil. Keduanya terdiam dalam hening. Yang satu berpikir apakah tadi si wanita mendengar perkataanya. Sementara, Yang satu berpikir apakah tadi ada selah mendengar.


Sesampainya di rumah utama Lin, mereka berdua keluar dari mobil dengan kecanggungan yang sama. Mereka saling menatap, sama-sama merasa ingin mengkonfirmasi tentang hal ambigu tadi. Tapi, akhirnya memutuskan tidak membicarakan tentang hal itu.


"Sebaiknya Tuan beristirahat," imbuh Lily.


"Ah iya," jawab Cedric sambil mengelus -elus tengkuk lehernya.


Lily pun segera pergi ke paviliunnya, dia membuka pintu, mengganti sepatunya dengan sandal rumah lalu langsung masuk ke kamar.

__ADS_1


Kakinya terasa sangat pegal, dia langsung merebahkan diri di ranjang empuknya, "Tadi itu dia mengatakan ..." pikir Lily seraya memegangi dadanya yang berdegup dengan kencang.


Meski Lily telah belajar menutup mata hati dan telinganya selama ini, agar tidak jatuh cinta kepada tuan muda Lin. Namun, tetap saja hatinya bergetar ketika mendengar Cedric mengucapkan kalimat keramat itu. Esok adalah akhir pekan, jadi tugas Liky sebagai asisten sedikit mengendur karena Jadwal Cedric tidaklah sepadat ketika di hari kerja.


Keesokan paginya rumah utama Lin di hebohkan, karena ini pertama kalinya asisten He menghukum Lily dengan sangat keras.


"Ada apa?" tanya Cedric kepada pelayan yang sedang berbisik-bisik.


"Nona Lily, sedang di hukum di halaman belakang," jawab mereka.


Cedric segera saja berjalan dengan berlari kecil ke halaman belakang rumahnya. Dia tercengang ketika melihat Lily sedang berlutut di rumput taman rumah. Cedric mendongak ke langit, matahari bersinar sangat terang ceria panas.


Vedric langsung saja mendekat dan berdiri menghalangi sinar matahari yang menghujani Lily, "Ada apa ini?" tanya Cedric kepada asisten He yang berdiri tidam jauh dari mereka.


Asisten He pun mendekat lalu menjawab,"Semalam gadis ini telah membahayakan nyawa tuan muda."


Cedric mengernyitkan alisnya sambil mengingat kejadian semalam, dan memang merasa jika semalam memang sangat berbahaya. Tapi karena ini adalah Lilynya, jadi mana rela jika di hukum seperti ini.


Bahkan terkadang Jia Li menjadi ajang rebutan kedua kakak kembarnya, Jia Mee dan Li Mei. Cedric masuk dengan tergesa, melihat sepertinya ada hal serius maka Eryk memberikan Jia Lie kepada kakak kembarnya.


"Bawa adik bermain dulu," ujarnya seraya melepaskan pelukannya dari Jia Li.


Ketika adik-adiknya telah pergi barulah Cedric berbicara, "Apakah itu karena perintah Papa?"


"Perintah apa?" tanya Eryk dengan sedikit bingung.


"Menghukum Lily?" tanya Cedric lagi.


"Ah itu ..." pikir Eryk.

__ADS_1


Dengan tersenyum Eryk pun berkata, "Tentang bagaimana cara Lily di didik dan disiplinkan aku telah sepenuhnya memberi hak penuh kepada asisten He," jelas Eryk menjelaskan jika dia sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan hukuman yang sedang di berikan kepada Lily.


Mendengar penjelasan Papanya, Cedric pun segera pergi ke halaman belakang, ternyata yang harus di bujuk adalah asisten He, bukan Papanya. Pada saat ini Cedric berpapasan dengan mamanya. Tapi malah tidak menyapa.


Flavia masuk ke ruang keluarga lalu bertanya, "Ada apa?"


"Tentang Lily," jawab Eryk singkat.


"Ada apa dengan Lily?" tanya Flavia lagi.


"Asisten He sedang menghukumnya berlutut di halaman belakang," jawab Eryk lagi.


Flavia menoleh ke jendela ruang keluarga yang tinggi dan besar itu, lalu dia memukul bahu suaminya itu, "Malam ini tidak dapat jatah!" ujar marahnya seraya meninggalkan suaminya itu.


"Oh ya ampun sayang, itu bukan aku," teriak Eryk membela dirinya seraya mengukuti langkah istrinya itu.


Di halaman belakang, terlihat jika Cedric sedang berdebat dengan asisten He, "Maafkan aku Tuan, ini dilakukan agar lain kali Lily dapat mengingat jika keselamatan Tuan adalah prioritas pertama dalam tugasnya," jelas Asisten He.


Flavia pun ikut membantu putranya itu mendebat asisten He. Hari ini begitu panas, jika terjemur terlalu lama di sinar matahari maka sungguh itu akan merusak kulit.


Jika soal disiplin asisten He sangat kuat, karena itu bisa menjadi assiten nomor satu Eryk Lin. Flavia melemparkan tatapan dingin kepada suaminya, barulah dia ikut bicara.


"Bukankah ini sudah akan satu jam?" tanya Eryk.


"Jika begitu sudahi saja hukumannya, dia sudah memahami kesalahannya di mana," ujar Eryk.


Mendengar jika Tuannya sudah berbicara seperti itu, maka asisten He pun menyudahi hukumannya. Salah satu pelayan, memampah Lily untuk bangun. Melihat itu Cedric langsung saja dengan cepat memapah Lily.


Namun, hal tak terduga terjadi, Lily malah mendorong tubuhnya seraya berkata "Tuan tidak perlu repot, aku bisa berjalan sendiri."

__ADS_1


Cedric pun lamgsung melepaskan rangkulannya, lalu menoleh kepada Papa dan Mamanya. Dia pun melangkah pergi dengan langkah kaki yang cepat. Lily merebahkan dirinya di sofa yang ada di paviliunnya, tak berapa lama seorang pelayan datang membawakan dua gelas jus jeruk kesukaan Lily.


"Tuan muda bilang ini harus segera di habiskan," imbuh si pelayan itu.


__ADS_2