
"Baik," jawab Lily.
Setelah Lily membatalkan pemesanan di Restoran Mie Dingin, dan sudah melakukan pemesanan di restoran yang baru. Cedric menelponnya kembali.
"Lily, aku berubah pikiran lagi. Sepertinya aku ingin makan siangku di kantor saja. Aku ingin makan Topokki Okaasan," pinta Cedric.
Rambut Lily sudah berdiri sedari tadi karena dia merasa kesal sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri, meladeni kemauan tuan mudanya yang terus berubah-berubah. Dan, sekarang Tuan mudanya malah meminta Topokki Okaasan.
"Ya Tuhan kantor ini ada di selatan, sementara makanan yang dia mau ada di Utara "
Lily serasa ingin meledakan Tuan Mudanya ini dengan satu tatapan seandaianya saja dia bisa melakukannya.
Melihat sebentar lagi memasuki jam makan siang, Lily segera berlari menuju Restoran Topokki Okaasan.
Setelah mendapatkan seprosi Topokki di tangannya. Cedric menenelpon ponsel Lily, "Aku juga ingin minum Teh Krisan Hangzhou!" pinta Cedric.
"Baik Tuan Muda," jawab Lily sambil menghentak-hentakan kakinya.
"Ya Tuhan teh krisan Hangzhou ada di daerah barat,"Sejak kapan pria ini berubah jadi sinting seperti ini," imbuh Lily mengutuki kesal kepada tuan mudanya itu.
Dulu selama masa libur sekolah, ketika semasa kecil Lily suka datang bermain ke kota ini bersama Kepala pelayan Vilaa, menemani membeli kebutuhan untuk di Villa Keluarga Lin, karena itulah Lily hafal tempat-tempat makan yang Cedric sebutkan tadi.
"Wanita ini benar-benar ingin mengujikukah kah?" pikir Cedric yang berharap Lily mendatanginya dengan marah-marah, tapi malah mengiyakan semua permintaannya.
Lily dengan tergopoh-gopoh membawakan menu-menu makanan yang di pinta oleh Cedric seraya menggerutu,"Lain kali aku akan memakai sepatu olah raga saja."
Dia masuk ke ruangan Cedric, lalu meletakan nampan berisi makanan itu di meja, "Makanan sudah siap."
Cedric dengan santainya berkata, "Terlalu lama, aku sudah makan mie instant."
"Apa!" gumam kesal Lily dalam hati.
"Lalu ini harus diapakan?" tanya Lily seraya menahan rasa jengkel dihatinya.
"Kau yang habiskan!" perintah Cedric.
__ADS_1
"Ya Tuhan, ini banyak sekali?" Pikir Lily seraya menatapi menu-menu makanan yang tadi dia sudah beli.
"Tunggu apalagi, habiskan!" Perintah cedric lagi.
Lily patuh duduk, merasa ini semua adalah makanan kesukaannya maka Lily mulai melahapnya dengan bersemangat. Cedric sedikit melirik, lalu dari sudut bibirnya tetarik satu garis lurus senyuman.
Sedari dulu, Cedric selalu suka melihat ketika Lily melahap makanannya. Kerena itu dia memintanya untuk membelikan banyak makanan.
Lily segera membereskan sisa-sisa makanannya, dan bersiap kembali bekerja. Cedric menutup berkas laporan yang baru saja dia baca. Lily menjelaskan jadwal berikutnya, "Malam ini ada undangan hari jadi, hari pernikahan Tuan dan Nyonya Lu.
Cedric berdiri lalu berkata, "ikut aku."
Sebagai pendatang di dunia bisnis, tentu saja Cedric wajib menghadiri pertemuan bisnis seperti ini. Lily mengikuti langkah Tuan mudanya itu.
Lily melajukan mobilnya, "Ke butik J!" perintah Cedric.
Mereka pun tiba dan masuk ke butik J, dengan lugas Cedric langsung saja berkata kepada manajer butik, "Carikan yang cocok untuknya!" perintahnya seraya menarik Lily ke depan.
"Baik Tuan Lin," jawab Manajer butik.
Cedric ingin wanita yang menemaninya pergi ke perjamuan tentulah harus elegan dan cantik, perjamuan ini diluar jama kerja. Jadi mana boleh masih memakai seragam kantor. Khawatir ada rumor buruk yang mengatakan jika Grup Lin menggaji kecil pekerjanya, sehingga tidak bisa membeli gaun malam.
Cedric menunggu duduk di sofa, sambil mengecek pekerjaannya lagi, mengecek email. Dia mendongakan wajahnya ketika melihat ada sepasang kaki mungil indah berdiri di depannya.
"Apa sudah bisa pergi?" tanya Lily.
Tenggorokan Cedric sedikit tercekat, dia pun berdiri seraya mengangguk. Lily mengikuti langkah tuannya itu masuk ke dalam mobil. Dia pun melajukan kembali mobil itu menuju lokasi pesta.
Ketika sampai, di sana sudah penuh orang. Semua tamu undangan berasal dari berbagai kalangan industri bisnis. Lily selalu berada di Cedric. Setiap kali ada tamu yang ingin menyapa Cedric atau yang ingin di sapanya, maka Lily akan selalu membisikan, Ini adalah Tuan ... Ini adalah tuan ... Direktur Grup ...
Cedric mendengarkan Lily dengan seksama, dan dengan lancar menyebutkan nama Direktur yang dia sapa atau pun yang menyapanya.
Lily melihat pelayan membawakan minuman di nampan, dengan gerakan lembut dia memanggil pelayan itu, lalu mengambil jus jeruk. Merasa haus, kebetulan matanya menangkap penampakan segar jus berwarna kuning itu lalu menyesapnya seteguk.
Pada saat ini, dengan naturalnya cedric malah mengambil gelas itu dari tangan Lily. Lalu meminumnya begitu saja di tempat bibir Lily yang tadi menyesap isi dalam gelas itu.
__ADS_1
"Eh itu ..." ujar Lily dengan sedikit bingung.
Setelah gelas kosong, barulah Cedric memberikan gelas itu kepada Lily. Cedric melanjutkan perbincangan ramah tamahnya. Lily dengan cepat meletakan gelas kosong itu di meja yang ada di dekatnya.
Setelah merasa cukup menyapa, Cedric pun bergegas meninggalkan perjamuan. Lily memakai sabuk pengaman, lalu mulai melajukan mobilnya.
Cedric duduk di belakang, seraya bersandar. Merasa hari ini benar-benar melelahkan. Siapa sangka tengah malam ini cedric akan merasakan sensasi melaju di aspal balapan.
Ada sebuah mobil yang iseng menantang mobil yang sedang Lily lajukan. Merasa kesal karena diledek beberapa kali oleh mobil itu, seperti dipermaikan. Lily yang sedari pagi sudah matia-matian menahan marah kepada Cedric, menjadi tersulut hati.
"Akan aku tunjukan bagaimana jika seorang wanita melajukan mobil sport." Gumam pelan Lily.
Cedric di kursi belakang yang sedang bersandar memejamkan mata, terbangun karena merasa laju mobil semakin kencang, "Ada apa?" tanyanya.
Lily tidak menjawab tetap berkonsentrasi melajukan mobilbnya dengan kencang, tapi tetap stabil. Cedric melihat ke arah mobil yang sedang mengajak ugal-ugalan.
"Hei! Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Cedric sembari mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Terkadang memang ada beberapa orang yang patut diberi pelajaran, dan mereka adalah salah satunya," jawab Lily sembari berbelok dengan tajam, sampai membuat Cedric terpental ke belakang.
"Astaga ... sejak kapan dia berubah menjadi menyeramkan seperti ini," pikir Cedric.
Selama mereka terpisah hertahun-tahun, asisten He Grup Lin membekali Lily dengan ilmu pengetahuan umum, sementara asisten He Klan naga hitam mengajari ilmu bela diri. Dan Flavia mengajari dengan sedikit dasar pengenalan racun-racun.
"Saatnya memberi kalian pelajaran," gumam Lily dalam hati.
Lily melewati mobil lawannya, lalu tiba-tiba memutar balik dengan cepat, sampai-sampai ban mobilnya berdecit. Dia anggap ini juga seperti menuangkan kemarahan yang sedari pagi sudah ditahannya, kebetulan Tuhan sedang berbaik hati memberikan bantalan pelampiasan.
Lily mulai melajukan mobilnya, Cedric semakin panik, "Hei, kau mau apa?" tanya Cedric yang melihat asisten nomor satunya itu akan menabrakan mobil mereka dengan mobil lawan.
bagi Lily ini hanya hal kecil, Jika dia dengan berani pernah memasukan racun venom ke dalam tubuhnya, hanya untuk menguji cara kerja obat anti venom ketika menetralisir venom yang ada di tubuhnya. Karena kenekatannya ini dia sampai mendapat julukan Pink Venom dari Klan naga hitam, si cantik yang mematikan.
Maka jika hanya seperti ini saja tentu lebih berani. Dia Bertaruh dalam hati jika lawan yang akan membanting setir lebih dulu untuk menghindar.
"Hei, apa kau sudah gila?" tanya Cedric lagi dengan panik.
__ADS_1