BLUE MOON

BLUE MOON
MENENDANG


__ADS_3

Bab 62


“Kabari kami jika kau membutuhkan bantuan, maka aku akan segera mengirim kakakmu untuk segera datang,” janji Khansa.


“Ok,” jawab Carl sembari mengedipkan matanya kepada Khansa lalu mengambil Raynar dari pelukan Paman Indra.


“Jangan membuat kerusuhan selama Paman Carl Pergi ya,” ujarnya sembari mencium-cium Raynar.


“Tunggu Paman pulang, nanti kita buat kerusuhan bersama untuk papamu, Ok,”  bisik Carl.


Raynar pun tertawa-tawa renyah, Carl pun ikut tertawa yang melihat respon keponakannya itu, “Sepertinya dia setuju dengan ideku,” pikirnya.


Carl mencium Raynar sekali lagi, lalu memberikannya kepada Khansa. Dan bergegas menemui Leon untuk berpamitan juga, “Bye-bye,” ujar Carl sembari melambaikan tangan dan supir pun melajukan mobilnya.


Khansa melambaikan tangan Raynar untuk membalas lambaian tangan Carl, lalu menciumi wajah putranya itu dan membawanya masuk ke rumah.


Leon tengah dalam pertemuan dengan rekan bisnis, mendengar adiknya itu datang berkunjung, dia pun langsung menyudahinya, dan meninggalkan pertemuan itu untuk diurus oleh Gerry.


Carl tengah berdiri, menatap pemandangan di luar  gedung tinggi milik Leon ini. Dia menoleh ketika mendengar suara langkah masuk. Mereka terdiam sesaat, saling memandang lalu mereka tertawa dan sama-sama memberikan kepalan tangan tanda tos.


Melihat wajah Leon mirip dengan Raynar, belum juga pergi, Carl pun sudah merasa rindu dengan kesayangannya itu, bayi kecil keluarga Sebastian.  Kakaknya itu langsung saja berkata,  “Jangan pergi meninggalkan Mama dan Papa terlalu lama.”


“Hei, aku pergi ingin melakukan misi,” jawab  Carl santai.


“Misi?” tanya Leon terkejut, teringat dengan misi mereka waktu itu.


“Tenanglah ini bukan misi berbahaya, ini misi menjemput calon menantu untuk mama dan Papa,” jawab Carl sambil sedikit tertawa.


“Mailaikatmu?” tanya Leon yang sama penasarannya dengan Khansa tentang malaikat yang sering Carl sebut-sebut.

__ADS_1


“Emm … iya,” jawab Carl dengan wajah bersemu merah.


“Jika begitu aku mendoakan agar kau bisa segera membawakan seoarang tante untuk Raynar,” ujar Leon lagi.


“Ayo aku akan mentraktirmu makan siang,” ajak Leon.


Leon membawa Carl makan di Zuri hotel Palembang, ketika sedang asyik bercanda menceritakan masa kecil masing-masing, Gery datang dengan membawa berkas dan memberikannya kepada Leon. Dengan tersenyum dia mengambilnya dan memberikan berkas itu kepada Carl.


“Ini adalah saham bagianmu?” ujar Leon.


Carl mengernyitkan alisnya, lalu membukanya. Terdiam sesaat lalu berkata, “Ini untuk aku?”


“Ya, kau juga adalah seorang Sebastian,” jawab Leon.


Carl pun tertawa, lalu berkata, “Bisnis bukanlah jiwaku,” ujarnya sembari menyodorkan berkas saham itu.


“lagipula jika aku kesusahan uang, kau pasti akan membantuku bukan?” kata Carl yakin.


Gery pun melangkah pergi membawa berkas itu lagi, memberikan waktu bagi kakak beradik itu sebelum berpisah lagi. Leon berkata, “Jika perlu bantuan maka hubungi kami,” ujar Leon.


“Di sana nanti aku akan bertemu dengan temanku, dia juga seoarang ahli medis,” ujar Carl seraya memasukan kuah pempek ke mulutnya.


“Ahli forensik, tepatnya,” kata Carl lagi.


Mendengar jika adiknya hanya akan menemui rekan sejawatnya, Leon pun merasa sedikit tenang. Karena misi kali ini bukanlah misi berbahaya. Bertemu dengan rekan sejawat, pastilah yang dibahas hanya seputrar medis saja, pikir Leon.


Carl melirik jam tangannya lalu berkata, “Baiklah saatnya berpergian, kalian baik-baik di sini menungguku oke,” ujar Carl.


Leon meminjamkan pesawat jetnya untuk Carl, sebelum berpisah mereka saling berpelukan. Dia sedikit menepuk-nepuk bahu adiknya itu. lalu baru melepaskannya pergi. Supir yang Leon sediakan juga langsung membawa Carl pergi ke bandara untuk lepas landas.

__ADS_1


Hati Leon sedikit resah, lalu memutuskan pulang ke rumah. Sesampainya di sana, dia langsung saja masuk ke kamar utama. Melihat jika Khansa dan Raynar tengah tertidur , Leon pun malah ikut naik ke ranjang dan tidur di sisi istrinya itu, dengan sambil menarik tubuh khansa agar mendekat kepadanya.


Tapi bukannya tidur, Leon malah meciumi tengkuk Khansa, napasnya meniup-niup lembut daun telinga dan tengkuk leher istrinya itu sehingga membuatnya terbangun.


Khansa pun terkejut mendapati tangan kekar sedang melingkar di pinggul rampingnya itu, Khansa menoleh dan memandangi wajah Leon yang sedang tersenyum kepadanya, “Kau sudah pulang?” tanyanya dengan heran kepada suaminya itu.


“Rindu,” jawab Leon sembari mendekatkan keningnya kepada kening Khansa. Jemari Khansa menelusup ke rambut suaminya itu, *******-***** kecil seiring dengan cecapan bibir Leon ke daun telinganya. Khansa mulai melenguh dan makin mendekatkan diri pada leon, ingin di sentuh lebih jauh, tapi Leon malah langsung menghentikan gerakannya dan melepaskan diri dari Khansa.


“Ada Raynar,” ujar Leon sambil terengah, dia menempelkan keningnya lagi di kening Khansa dan kemudian menggesekan hidung mancungnya ke hidung Khansa.


Khansa pun hanya bisa menganngguk dian dan menuruti ucapan suaminya itu, pada akhirnya Leon hanya memeluki Khansa saja sepanjang menemani Raynar tertidur. Perlahan Khansa melepaskan pelukan tangan Leon, mengira jika dia sudah tertidur . Tapi kemudian leon secara tiba-tiba meraih tengkuk Khansa lagi dan meraup bibir Khansa kedalam ciumannya.


Khansa tersentak, matanya langsung terpejam seraya berpikir, “Bukankah dia tadi yang bilang jangan,” pikirnya.


Bibir Leon semakin bergerak di atasnya, mecumbu dengan rasa haus yang kentara. Tangan Leon menelusup ke rambut Khansa dan meremasnya, ketika Khansa membuka mulut dan membalasnya, membuat lidah Leon masuk kedalam mulut istrinya itu memeperdalam tautan bibir mereka.


Leon memiringkan kepalanya, memperdalam ciuman mereka, bibir mereka saling terpaut, saling menggigit, bertukar saliva sampai oksigen diantara keduanya menipis barulah Leon melepaskan ciumannya dengan lembut.


Napas keduanya terengah karena ciuman yang cukup panas dan tiba-tiba ini, Leon menatap Khansa yang lagi-lagi menatap wajahnya dengan sayu. Baru saja Leon ingin mendaratkan cecapan bibirnya lagi, Raynar merengek sambil memannggil, “Mama.”


Dengan respon cepat, Khansa mendorong dan menendang Leon sampai jatuh dari ranjang mereka, Khansa langsung berbalik kepada Raynar, dan menepuk-nepuk punggung putranya itu dengan lembut, “Mama di sini sayang,” ujarnya.


“Oh ya ampun,” ujar Leon sambil berdiri, lalu mengusap-usap tengkuknya.


Semenjak ada Raynar, Leon menjadi tidak leluasa di tiap kali ingin merengkuh tubuh Khansa, karena inilah Leon menjadi lihai membaca kesempatan jika sekiranya dia bisa merengkuh istrinya itu, maka pada saat itu juga dia akan melakukannya. Seperti misalnya kemarin, dia melakukannya di gudang penyimpanan makanan milik mereka.


Biasanya ada Carl yang dijadikan tumbal untuk memegang Raynar sebentar, sekarang pemeran pengganti itu telah pergi terbang jauh. Jadilah sekarang dia merasa sedang berada di medan pertempuran sendirian berebut perhatian Khansa dari Raynar.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2