BLUE MOON

BLUE MOON
BAYI KECIL KITA


__ADS_3

#bab 69


Khansa sedang membaca jurnal medis miliknya. Dia meletakan jurnal itu di atas nakas, "Apa berhasil?" tanya Khansa.


"Tentu saja," jawab bangga Leon.


"Kita tunggu saja Carl yang menghubungi, aku sudah memberikan pesan kepadanya, nengatakan aku sudah di Villa Anggrek," ujar Leon.


Khansa pun menyibak selimutnya dan berkata, "Ayo kita menunggu di bawah."


"Janjinya?" tanya Leon menagih.


"Raynar belum tidur," jawab Khansa.


"Hmm ..." gumam Leon yang tiba-tiba saja merasa merindukan Carl, adiknya itu.


Masuk ke ruang keluarga, Leon langsung mengambil Raynar dari pangkuan Papanya, kemudian dia berusaha menidurkannya.


"Tidurlah sayang," bisik Leon di daun telinga Raynar.


Raynar malah tertawa terbahak-bahak, karena merasa kegelian, merasa telinganya sedang di tiup-tiup oleh Papanya itu.


"Hissh ... kenapa malah tertawa, Papa bilang tidur ... ayo tidur," ujar Leon lagi seraya menciumi perut Raynar.


Khansa langsung saja mengambil Raynar dari pelukan Leon, "Dia masih belum mengantuk," ujarnya.


Wajah Leon pun terlihat sedikit sendu, merasa baru kali ini memiliki saingan yang sangat berat, semua perhatian tersedot oleh mahluk kecil yang imut, menggemaskan itu.


Ponsel Leon pun berdering, "Carl," ujar Leon.


Leon langsung saja menjawab video call dari adiknya itu, "Raynar?" ucap Carl.


Leon langsung saja menunjukan wajah Raynar yang sedang digendong oleh Khansa.


"Tampan ... apa merindukan Paman?" tanya Carl dengan senyuman sumringah di wajahnya.


Raynar pun tertawa-tawa seraya menyentuh layar ponsel Leon, jari-jari kecilnya meraup-raup.layar datar ponsel Papanya itu.


Leon pun langsung menjauhkan ponselnya dan menggerakannya kepada Papa, Mama , Nenek sebastian yang melambai-lambaikan tangannya kepada Carl.


Leon, Lalu mengembalikan kepada wajahnya, "Di mana malaikatmu itu?" tanya Leon.


"Tunggu sebentar, kau berikan ponselmu kepada Khansa," ujarnya.


"Ini," ujar Leon kepada Khansa.


Landak kecilnya Leon itu pun mengambil ponsel dari tangan Leon, tak sabar ingin melihat malaikatnya Carl secara langsung dari Video Call.

__ADS_1


"Zdravstvujtye" sapa Khansa. ini adalah kata formal untuk mengatakan "halo" dalam bahasa Rusia.


"Ty mozhesh govorit' na russkom," sapa balik Ariana, yang langsung menanyakan apakah Khansa mengerti bahasa Russia.


"Ne takoy kontroliruyushchiy," jawab Khansa yang mengakui tidak mahir berbahasa Russia.


"Nu togda davay pogovorim na mezhdunarodnom yazyke, angliyskom" ujar Ariana yang meminta berbicara menggunakan bahasa internasional saja, bahasa inggris.


"Ok," jawab Khansa.


Dengan cepat mereka pun langsung terlihat akrab. Ariana memiliki kesan pertama yang bagus, karena Khansa mau menyapanya dalam bahasa Rusia, Negara asalnya. Sementara itu Ethan yang duduk sambil memangku Raynar, sedang terlena, senyum-senyum sendiri.


Melihat landak kecilnya itu seperti akan menjadi teman baik dengan Ariana, dan mengingat tentang janji Khansa. Leon pun melihat Raynar lagi, lalu menepuk-nepuk bokong putranya itu dengan lembut-lwmbut agar dia cepat tertidur.


Dengan sambil tersenyum, Khansa bertanya, "Apa mau berkenalan dengan keluarga ya lain?" tanya Khansa.


"Keluarga," ujar Ariana dalam hati.


Sebagai agen rahasia, dia hampir-hampir tidak bisa menemui keluarganya. Bahkan jika menjenguk, dia hanya melihatnya dari kejauhan saja.


Ketika memutuskan menjadi agen rahasia, dia sudah menerima resikonya. Jauh dari keluarga, bahkan ariana bisa bertahun-tahun tidak memberikan kabar kepada keluarganya itu.


Bagi keluarga Ariana, tanda jika Ariana masih hidup adalah, tidak adanya perwakilan negara yang datang ke rumah ibunya, untuk memberitahukan tentang hal kematian Ariana.


Khansa pun mulai menperkenalkan satu persatu, "Ini adalah Mama ... Em Mama mertua lebih tepatnya."


"Yang terakhir adalah Nenek Sebastian, kesayangan kami semua," ujar Khansa sambil menyiumi wajah keriput Nenek Sebastian.


"Ini adalah Raynar dan suamiku, kakak dari Carl," ujar Khansa lagi.


Tiba-tiba air mata Ariana terjatuh di pipi, melihat pemandangan keluarga besar Sebastian.


Carl langsung saja mengambil ponselnya, "Sudah dulu ya, signal buruk di sini," ujar Carl sembarang.


"Mengapa menangis?" tanya Carl.


Ariana menghapus air matanya lalu dengan spontan menjawab," Aku ingin bayi."


"Apa ...? tanya Carl terperanjat.


Dalam hati Ariana ingin menjawab, ingin keluarga, tapi karena terbayang wajah tampan lucu Raynar, jadilah dia malah menyebut menginginkan bayi.


"Jika ... jika itu yang kau inginkan maka kita harus menikah dulu," jawab Carl bersemu merah.


Ariana langsung terdiam, menyadari jika dia tadi salah bicara, dan membuat Carl menjadi salah paham. Ariana berdiri dan segera berlari meninggalkan Carl.


"Hei, permintaanmu tidak bisa di cabut. Nanti aku akan memberikanmu bayi," ujar Carl dengan sedikit berteriak.

__ADS_1


"Oh ya ampun ... apa tadi itu. Meminta bayi dari seorang pria, dari Carl Sebastian," ujar Ariana sambil memukul-mukul pelan kepalanya.


"Waktu itu, aku pasti terlalu banyak menelan air di sungai," ujarnya lagi.


Carl pun berjalan masuk ke kamarnya, merebahkan diri di ranjangnya, lalu tersenyum sambil berguling-guling ketika mengingat perkataan Ariana tadi.


"Bayiku dan bayinya ..." ujar Carl lagi sambil menggigiti ujung bantal.


Di rumah sakit, flavia akhirnya terbangun, dia membuka kedua matanya. Lalu melihat Eryk sedang duduk dengan elegannya di sofa sambil membolak-balik berkas pekerjaannya.


"Eryk," panggil Flavia.


Mendengar suara Flavia memanggilnya, Eryk langsung saja melemparkan berkas yang sedang dia baca sedari tadi.


Eryk membantu Flavia yang terlihat ingin duduk, Dia langsung memegang tangan Eryk dan bertanya, "Ariana ... Ariana?"


"Tenanglah, Ariana ada di Mansion Mo," jawab Eryk.


"Cedric?" tanya Flavia lagi.


"Ada bersama Klan naga hitam di Villa kita," jawab Eryk yang mulai ingin membiasakan pada Flavia apa-apa yang dia miliki adalah milik Flavia juga.


Flavia pun merasa lega, "Apa masih ada yang di rasa sakit?" tanya Eryk.


"Tidak ... hanya saja sedikit pusing," jawab Flavia.


"Apa dia tidak merengek, menangis?" tanya Flavia yang khawatir dengan bayi kecilnya itu.


"Dia sudah bukan bayi lagi, sudah tidak cengeng lagi," ujar Eryk.


"Tetap saja dia adalah bayi kecilku untuk selamamya," jawab Flavia.


"Meski nanti jika dia sudah menikah?" tanya Eryk.


"Iya, meski dia sudah menikah. Dia akan selalu menjadi bayi kecilku," jawab Flavia sambil mencubit lengan Eryk.


"Iya ... iya dia akan selalu menjadi bayi kecil kita," ujar Eryk sambil tertawa lagi.


Keduanya pun tertawa, lalu beberapa detik kemudia terdiam. Ini pertama kalinya mereka berdua berlaku seperti pasangan yang sedang saling menggoda.


"A... aa.. a," ujar Flavia sambil memegangi kepalanya.


"Kenapa?" tanya Eryk.


Karena ingin menghilangkan malu, maka Flavia berpura-pura terserang pusing, "tidak apa-apa, aku akan beristirahat. Nanti juga hilang," ujarnya seraya menarik selimutnya lagi.


Eryk pun berdehem untuk menghilangkan kecanggungan, dia berdiri dan kembali ke sofa, mengambil kembali berkas-berkas pekerjaannya, membacanya kembali dan tanpa disadari dia memegang berkas itu dengan terbalik.

__ADS_1


__ADS_2