BLUE MOON

BLUE MOON
NASI GORENG BERJUTA RASANYA


__ADS_3

Bab 76


Rumah aman berbeda dari rumah tinggal pada umumnya. Dalam pengelolaan rumah aman diterapkan standar tinggi, berbeda dengan rumah tinggal pada umumnya,


Tidak hanya standar bangunan yang dicek, tetapi unsur pengamanan lain terhadap rumah aman harus dipertimbangkan pula. Standar tersebut bukan hanya berlaku terhadap bangunan dan kelengkapan dari rumah aman tersebut, tetapi juga meliputi tenaga pengamanannya, pengemudi atau transporter yang terampil, serta mempertimbangkan lokasi yang mudah dituju apabila dalam kondisi darurat,


Tiga poin penting terkait rumah aman yaitu keamanan, kenyamanan, dan kerahasiaan. Bila keberadaan rumah aman tersebut telah diketahui pihak luar, maka tempat tinggal tersebut tidak layak lagi dijadikan rumah aman.


Ini adalah pertama kalinya Carl merasakan tinggal di rumah Aman, meski tidak semewah apartemen yang dia tinggali saat ini. Namun, rasanya lebih indah tinggal di rumah aman ini.


“Jadi kamar kita di mana?” tanya Carl kepada Ariana.


“Kau di sebelah sana, dan aku di sebelah sini,” ujar Ariana menunjuk ke arah kanan untuk kamar Carl dan arah kiri untuk letak kamarnya.


“Eh, ini mengapa kamar kita berjauhan?” tanya sekaligus protes Carl.


Ariana mengernyitkan alisnya, lalu berkata, “Tidak ada aturan jika kamar kita harus berdekatan,” jawab Ariana sambil berlalu pergi ke kamarnya.


“Eh, tapi …” ujar Carl yang akhirnya menyeret kakinya dengan rasa malas untuk pergi ke kamarnya.


“Hisssh …” gumamnya sambil menelungkupkan badannya di ranjangnya itu.


Carl baru saja merasa angan-angannya bisa berdekatan dengan Ariana langsung memudar, Tapi teringat perjalanan cinta Kakaknya dan Khansa, maka dia pun bersemangat kembali. “Ya … mereka bertemu semenjak kecil, dan akhirnya menikah juga,” pikir Carl.


Carl langsung saja berdiri dan menyemangati dirinya sendiri, “Siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapatkan.”


“Baiklah segala sesuatu memang sulit di awal. Namun, akan mudah di akhir,” ujar Carl dengan bersemangat lagi.


Carl membuka tirai jendela kamarnya, lalu dia memperhatikan ada beberapa pria yang baru saja datang. Berjas hitam, kacamata hitam, penampilan dingin, anggota satuan itu yang baru saja datang adalah orang-orang pilihan yang lolos seleksi superketat dan latihan tanpa henti.


Carl melihat Ariana menghampiri salah satu dari mereka, lalu dengan impulsifnya dia keluar dan tanpa sadar tidak memakai sandal rumah. Dia membuka pintu lalu menghampiri Ariana dan pria itu.


Dengan polosnya Carl bertanya, “Apa yang sedang kalian bicarakan?”

__ADS_1


Ariana dan pria itu menoleh kepada Carl yang sedang berdiri memandangi mereka sambil bersedekap, “Tuan Carl?” tanya pria itu.


“Carl Sebastian,” ujarnya menyebutkan nama panjangnya.


“Marshall,” ujar pria itu seraya memberikan jabat tangannya.


Ariana menoleh pada Marshall dan berkatan, “Untuk saat ini hanya ini saja informasi yang aku tahu,” ujarnya sambil memberikan berkas yang Eryk Lin berikan kepada dia sebelumnya.


“Jika begitu aku akan menyelidikinya untukmu,” ujar Marshall.


“Jika keadaan sudah aman untukmu, maka kau bisa bertugas seperti dulu lagi,” ujar Marshall lagi.


Setelah Marshall pergi, Ariana menoleh kepada Carl dan berkata, “Kau sebaikanya segera kembali ke asalmu saja, jika tidak ingin terlibat lebih dalam lagi.”


Mendengar perkataan Ariana, carl hanya tertawa. Dia mencari-cari dan mendatangi malaikatnya ini karena memiliki tujuan untuk masuk ke dalam kehidupan Ariana, jadi jelas dia tidak akan mau pulang. Apalagi dia sudah berjanji kepada Raynar untuk memberikannya seorang tante yang bekerja sebagai agen rahasia.


“Sepertinya, aku akan lebih aman jika berada di sini, bersamamu,” ujar Carl lagi.


“Tuan Carl Sebastian, dari Oracle Farmasi. Aku rasa kau akan mendapatkan perlindungan yang sama seperti di sini, jika keluargamu turun tangan,” ujar Ariana.


“Oh ya Tuhan, Tuan Sebastian. Kau pikir aku bekerja sebagai apa, mencari tahu hal seperti ini bukan sesuatu yang sulit untuku,” ujar Ariana lagi.


“Ah iya, aku terkadang sedikit lupa dengan identitasmu, karena kau sangat cantik, seharusnya kau bekerja sebagai model saja,” puji Carl.


Wajah Ariana memerah, mendengar pujian dari tuan muda kedua Sebastian ini, dia pun memilih untuk masuk ke dalam rumah. Carl mengikutinya dari belakang, persis seperti gaya lebah yang mengejarnya waktu itu, mengejar dan tidak mau melepaskan.


Langkah carl terhenti ketika Ariana masuk ke kamarnya, dia hanya bisa berdiri di depan pintu kamar Ariana. Tapi ini adalah Carl. Seorang yang pandai, Cerdas, banyak akal. Dia pun pergi ke dapur, melihat apakah ada sesuatu yang bisa di masak.


“Nasi goreng,” ujarnya dengan senang.


Ada yang bilang, jika ingin mengambil hati seseorang maka mulailah dari masakah, dari mulut nanti turun ke hati. Jadi Carl bertaruh ingin mencoba pepatah itu.


Carl mulai menyiapkan dua piring nasi putih, empat siung bawang putih cincang, dua sendok makan minyak dan setengah buah Bombay. Dia juga menyiapkan kecap asin, saus tiram, mimnyak wijen. Juga lada bubuk dan kaldu bubuk.

__ADS_1


Carl mulai dengan memotong-motong wortel lalu mengocok dua buah telur. Setelahnya dia memasukan minyak dan menumis bawang putih sampai harum, memasukan wortel lalu telurnya dan mengacak-acaknya dengan tumisan bawang putih tadi.


Semua sudah tercampur lalu dia memasukan nasi dan mengaduknya rata, dan memasukan bumbu-bumbu lainnya dan mengaduknya lagi sampai rata, Carl menggunakan api besar ketika memasak nasi goreng ini, agar memiliki rasa yang khas.


Carl mengambil sebuah tomat, lalu megupas kulitnya dengan tidak terputus. Dia membentuk kulit tomat itu berbentuk bunga mawar. “Nah, sudah jadi,” ujarnya sambil meletakan sepiring nasi goreng di atas nampan.


Carl mengetuk-ngetuk pintu kamar Ariana, dia memasang wajah tersenyum sambil memegang nampan. Ariana membuka pintu, satu alisnya naik ke atas, karena melihat Carl tersenyum sambil memegang nampan, masih memakai celemek berwarna pink.


“Ini untukmu,” ujar Carl sembari menyodorkan nampannya.


Ariana, langsung mencium bau harum dari masakan nasi goreng itu, demi menghargai kerja keras Carl yang sudah memasakannya maka dia mengambil nampan itu dari tangan Carl dan mengucapkan terima kasih.


Pintu kamar pun di tutup, Dan, Carl pun sedikit melompat-lompat pelan, sambil berucap, “yes … yes."


Dia pun pergi ke dapur, duduk di meja makan dan mulai menyantap sepiring nasi goengnya, jika kakaknya memiliki istilah tepung terigu penuh cinta, maka Carl memiliki istilah, nasi goreng berjuta rasanya.


Dia menamakan seperti itu, karena di setiap suapan nasi goreng ini, bisa membuat dia tersenyum,-senyum ketika mengunyahnya.


Di kamar, Ariana mencicipi sesuap, “Emm … ini enak juga,” puji Ariana, lalu memasukan lagi sesuap demi sesuap nasi goreng buatan Carl itu.


“Ternyata dia pandai memasak.” Puji Ariana lagi.


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


DUKUNG NOVEL ini dengan :


- Vote


-Like


-Komen


- Tap favorit yang tanda hati ya

__ADS_1


- Poin, hadiah.


 


__ADS_2