BLUE MOON

BLUE MOON
IDE


__ADS_3

Flavia dan Eryk berjalan bersampingan, ini semakin membuat kehebohan menyeruak ramai. Dokter Lin mereka yang dingin itu tengah menggandeng seorang anak kecil serta berjalan bersama seorang wanita yang cantiknya setara dengan dokter Lin.


Bahkan mereka kembali berbisik-biskk ketika melihat Flavia menggendong seorang bayi.


[Apakah yang di gendong wanita itu adalah anak dokter Lin juga?]


[Bukankah dokter Lin masih lajang]


[Ya, waktu itu pertunangan dengan Nona Gu bukankah gagal, jadi siapa wanita itu]


[Hiks ... sudah tidak ada harapan bagi kita untuk menarik perhatian dokter Lin, lihat saja yang berjalan di sampingnya itu. Terlihat seperti malaikat yang turun ke bumi]


Pemandangan saat ini memang memperlihatkan sebuah potret keluarga kecil bahagia. Mereka pun sampai di kamar rawat inap kakek sayur dan Xing'er.


Flavia mendekati Xing'er, lalu berkata dengan lembut, "Aku membawa bayimu untuk menjengukmu."


Xing'er yang merasakan jika bayinya dalam pelukannya lagi, langsung saja menangis. Flavia langsung saja memeluk dan menenangkan. Tanpa di sangka Eryk pun menangis ketika melihat ini.


Cedric naik ke ranjang pasien yang di tempati Kakek sayur sambil berkata, "Kakek tenanglah, papa dan kakekku telah menghukum penjahatnya. Kakek dan kakak Xing'er tidak akan diganggu lagi nanti."


Kakek sayur pun terharu sambil menepuk-nepuk tangan mungil Cedric. Eryk keluar dari kamar itu ketika melihat Xing'er ingin memberi asi kepada bayinya.


Flavia langsung saja mentupi kedua mata Eryk, seraya mendorongnya keluar. Eryk menarik tangan Flavia, lalu malah mencium punggung tangannya.


Tubuh Flavia terasa seperti tersetrum ringan, wajahnya pun bersemu merah, karena pada saat ini dia teringat dengan ciuman memabukan dari Eryk kala itu.


"Tuan Lin, ini di rumah sakit. Jadi tidak bisakah kau sedikit mejaga sikapmu!?" ujar Flvia.


"Kau adalah calon istriku, kenapa harus malu." Jawabnya.


"Oh ya Tuhan apakah pria ini baru saja kerasukan?" pikirnya.


"Nanti aku akan kembali, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan dulu." jawab Eryk.


Hari ini dia akan menjadi tutor bagi dokter-dokter muda yang sedang belajar ilmu forensik.


Cedric berkata kepada Kakek sayur, "Apa jika ade bayi tinggal bersamaku, kakek akan mengijinkan?"


"Maksudmu?" tanya kakek sayur sembari melirik ke arah Flavia.


"Jika dibolehkan aku ingin xing'er tinggal di mansion Mo, Cedric sangat menyayangi si bayi." Jawab Flavia.


Kakek sayur melihat ke arah Xing'er, lalu Flavia segera saja berkata. "Tenang saja, kami juga akan membawa Xing'er."


Kakek sayur mengambil napas panjang lalu berkata,"Jika putriku bersedia, maka aku persilahkan."

__ADS_1


Flavia pun bertanya pada Xing'er, "Apa kau bersedia?"


Merasa jika flavia adalah pahlawannya, maka dia pun mengangguk setuju. Cedric bersorak senang seraya memeluk kakek sayur dan mencium pipinya. Dan, berkata "Terima kasih."


Seorang perawat masuk, dan menundukan kepalanya, memberi hormat, saatnya Xing'er dan kakek sayur di periksa. Cedric memperhatikan lalu bertanya, "Kakak cantik, apa kau tahu di mana Papa aku?"


"Papa?" tanya ulang perawat itu.


"Dokter Eryk," kakek sayur menjelaskan maksud Cedric.


"Oh ... itu ..." ujar si perawat sedikit salah tingkah.


"Dokter Lin sedang mengajar," jawab perawat itu sambil menggantikan infusan Xing'er.


"Di mana?" tanya Cedric lagi.


"Jika mau aku bisa mengantar ke sana," usul si perawat itu.


"Mau ... aku mau," jawab Cedric.


Perawat itu menoleh ke arah Flavia, "Jika begitu antarkan kami ke sana." Ujarnya.


Perawat itu pun mengantarkan Eryk dan Flavia menuju aula rumah sakit. Flavia masuk ke dalam aula dengan menggandeng Cedric.


Melihat putrnya berdiri dan melambaikan tangan mungilnya itu, Eryk menghentikan sejenak penjelasnnya. Lalu berbisik kepada asistennya agar membawa Flavia dan putranya itu duduk di kursi paling depan.


Wajah Flavia pun bersemu merah sambil berpikir, "seharusnya dia tidak perlu sampai sebegininya."


Melihat jika putranya dan juga Flavia yang sudah duduk di barisan depan dia pun memulai perkuliahaanya itu lagi. Sepanjang pembahasan materi, Flavia juga ikut menyimak dan terpana melihat jika Eryk begitu lugas memaparkan materi dengan bahasa yang mudah di pahami.


Perkuliahan pun selesai, Eryk langsung saja menghampiri Flavia dan Cedric. Dokter-dokter muda yang baru saja memulai karirnya dan bermimpi memiliki Tuan muda Lin sebagai calon suami, langsung saja sayap mereka seperti terpatahkan sebelum bertarung, sudah kalah bersaing lebih dulu, ketika mendengar Cedric memanggil kata 'papa' pada Eryk.


Mereka pun berbisik lagi, "sudahlah lupakan saja, kita cari dokter lain yang masih lajang"


"Apa papa sudah selesai?" tanya Cedric.


"Iya, sekarang Papa banyak waktu senggang," jawab Eryk.


"Hore," sorak Cedric senang.


Di koridor rumah sakit, tiba-tiba Cedric melepaskan tangan Eryk yang sedang menggandengnya. Lalu berlari sembari memanggil "Papa Felix."


Eryk menatapi tangannya, yang serasa hampa seperti sedang menggenggam udara. Lalu dia melihat ke arah Flavia, "Papa Cedric hanya aku bukan?" bisiknya pelan.


"Itu adalah kebiasaannya sedari kecil," jawab santai Flavia.

__ADS_1


"Hisssh ..." protes Eryk.


Felix menggendong Cedric, lalu mengacak-acak rambutnya. Hati Eryk semakin cemburu saja melihatnya.


"Mana hadiah untuk aku?" tanya Cedric.


"Tentu saja ada," jawab Felix.


"Tara ..." Felix mengeluarkan sebuah ponsel, yang di dalamnya ada permainan yang khusus dia rancang untuk Cedric.


"Permainan ini hanya kau saja yang memilikinya di dunia," jelas Felix.


"Satu-satunya?" tanya Cedric.


"Ya, satu-satunya," jawab Felix.


"Waw, terbaik," puji Cedric di depan Eryk.


Melihat putranya memuji papa lain dengan nada senang, dia pun langsung mendekat.


"Ayo! saatnya kita pulang," ujar Eryk.


"Tapi Pa," jawab cedric.


Flavia langsung saja berkata, "kau dan adik bayi pulang bersama Papa ya?"


Cedric dan Eryk langsung memandang ke arah Flavia, "Mama?" tanya polos putranya itu.


"Mama ada keperluan sebentar dengan Papa Felix," jawab Flavia.


Mata Eryk mendelik ketika mendengar Flavia juga memanggil dengan sebutan Papa Felix.


"Kami pergi dulu ok!" ujar flavia sembari menarik tangan Felix, bergegas pergi meninggalkan rumah sakit.


Eryk dan Cerdic hanya bisa menatapi kepergian Flavia, lalu Eryk berkata, "Apa Mama menyukai Papa Felix?"


Lagi-lagi Cedric menaikan kedua bahunya, tanda jika dia tidak tahu. "Hish," gumam lemas Eryk.


"Ayo! Kita jemput adik bayi," ajak Eryk.


"Kami akan menjemputmu esok, dokter bilang kalian sudah boleh pulang," jelas eryk.


Eryk pun memgambil si bayi dari ranjang Xing'er, lalu pamit dan mengantarkan Cedric dan si bayi kembali ke Mansion Mo.


Di sana, Cedric lagi-lagi menyebut pria lain dengan sapaan Papa, asisten He menyambut ketika Eryk mengantar naga kecil mereka.

__ADS_1


"Papa He, adik bayi dan mamanya akan tinggal bersama kita," kata Cedric.


Tiba-tiba saja terbesit ide bagus di otak Eryk, "Aha ... kujodohkan saja Xing'er dengan asisten He ini," ujarnya sambil senyum-senyum sendiri.


__ADS_2