BLUE MOON

BLUE MOON
DAUN MINT


__ADS_3

"Kolam Lele?" tanya Khansa penasaran.


Merasa sudah terlepas bicara, maka Carl pun akhirnya menceritakan dengan jujur tentang kejadian lebah dan kolam lele.


"Oh Ya Tuhan, kalian hebat sekali. Lomba lari dengan lebah, dan menang," pujinya dengan sambil tertawa.


Pujian Khansa pun disambut dengan tepuk tangan dari Gery. Leon langsung saja menoleh kepada asisten nomor satunya itu, memberi tatapan seakaan baru saja menyampaikan ancaman via udara, yang menyampaikan perkatan, "awas kalau sampai orang luar tahu."


Gery pun menundukan kepalanya, sambil sedikit terbatuk. Jelas mana bisa Tuannya itu kehilangan muka di depan kolega bisnisnya karena segerombolan lebah.


Leon berdiri, berjalan menuju dapur, mengendurkan dasinya dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Kemudian, mengambil minuman kaleng dari kulkas dan meminumnya. Tangan Khansa pun langsung menarik minuman kaleng itu dari bibir Leon.


"Sudah aku bilang berapa kali, untuk jangan minum soda sepulang kerja!" Khansa memperingatkan suaminya itu lagi.


"Hissh ..." gumam Leon seraya bersandar di kulkas.


Khansa mengambilkan air mineral dingin lalu menuangkan ke gelas, "Minum ini saja," ujarnya.


Semenjak Leon sudah sembuh, terkadang pria itu suka lupa diri, jadi pemakan segala, karena merasa sudah sehat.


"Siap, Nyonya," jawab Leon sambil tersenyum dan menyesap air dingin itu.


Leon meneguk tiap tegukan air dingin itu seraya memandangi tubuh Khansa yang terlihat semakin sintal setelah melahirkan. Dia merasa semakin tidak bisa lepas dari keindahan tubuh istrinya itu, juga tidak bisa lepas dari paras cantiknya.


Tidak sadar jika Leon sedang memandanginya, khansa malah dengan elegannya mengelus rambutnya sendiri yang nampak bervolume indah, lembut dan sangat wangi.


Leon melangkah mendekati istrinya itu, setelah menikah dan memiliki Raynar, respon Khansa terhadap sentuhannha sudah lebih baik daripada ketika dulu awal menikah.


Leon berbisik kepada istrinya itu, "Malam ini kita biarkan Raynar bersama dengan Carl, menurutmu bagaimana?"


"Maksudmu?" tanya Khansa.


"Itu lho, hitung-hitung perpisahan, agar Raynar selalu ingat wajah pamannya," jawab Leon.

__ADS_1


Ide nakal untuk menggoda istrinya itu pun langsung terbesit. Tubuh Khansa langsung tersentak ketika telapak tangan Leon mengusap pinggang Khansa dengan sensual dari arah belakang.


Adrenalin Leon serasa berpacu, meski sudah menikah dan memiliki seorang anak. Namun, dia selalu merasa gugup di setiap kali mau menyentuh istrinya itu.


Khansa menahan napas ketika Leon mulai mencium-ciumi bahunya, sambil menempelkan dada bidangnya di punggung khansa. Leon pun mulai mengatur napasnya yang kini memburu saat Khansa memasukan jari tangannya ke sela-sela jemari Leon.


Dengan cepat Leon membalikan tubuh Khansa, dan mengurungnya dengan kedua lengan kuatnya itu.


Khansa pun tersenyum seraya memegang pinggang kuat Leon, "Apa ingin di sini?" ujarnya sembari menarik dasi Leon hingga terlepas.


"Nyonya Sebastian, apa kau sedang menggodaku?" bisik Leon dengan suara magnetis menggoda.


"Leon ..." panggil Khansa dengan suara menggoda.


"Karena Nyonya yang meminta ini, jadi jangan salahkan aku," ujar Leon.


Kini Khansa menatap Leon dengan tatapan was-was jantungnya berdegup kencang, ketika Leon mendorongnya ke dinding lalu menaikan dua tangan Khansa ke atas kepala dengan satu tangannya.


"Khansa ..." panggil Leon dengan suara beratnya.


Khansa yang tidak tahan ditatap seintens itu oleh Leon langsung saja berkata, "Apa kau benar-benar mau melakukannya di sini?"


"Apa?" Leon malah semakin mendekatkan wajahnya kepada Khansa.


Leon langsung saja memtautkan bibirnya di atas bibir Khansa. Dia memejamkan mata sambol Men***um bibir istrinya yang terasa lembut, nikmat dan memabukan.


Leon menggigit bibir bawah Khansa sehingga istrinya itu membuka mulut dan membuatnya bebas menelusupkan lidahnya ke dalam mulut Khansa.


Tautan bibir mereka semakin intens, Khansa pun memahami apa yang di inginkan oleh suaminya ini, Leon melepaskan tautan bibir mereka, dan memandangi istrinya itu dengan takjub.


"Ini di dapur lho," ujar Khansa memperingatkan namun, dengan tatapan sayu dan pasrah.


Tatapan pasrah inilah yang membuat Leon semakin mwnginginkan istrinya itu saat ini juga. Leon menundukan wajahnya dan, menyerukan hidungnya di tengkuk Khansa. Dia mengecupi leher Khansa, dan secara reflek, istrinya itu memringkan lehernya agar memberi akses penuh bagi Leon untuk mencecapi tengkuk lehernya itu.

__ADS_1


Merasa sudah tidak tahan lagi, Leon langsung menarik Khansa masuk ke ruangan penyimpanan bahan makanan, dan langsung mengunci pintunya, "Nah, di sini akan aman."


Leon pun kembali menyerang tengkuk leher Khansa, beberapa kali menjilati leher istrinya itu, menghisapnya dan menggigitnya kecil sampai Khansa mengeluarkan suara yang sudah ingin dia dengar sedari tadi.


Leon pun langsung saja meloloskan dress selutut yang Khansa pakai, kemudian dia langsung membuka kemejanya, lalu mengambil kedua tangan Khansa dan meletakan di pinggang kuatnya itu seraya berkata, "Milikmu."


Khansa pun tersenyum, lalu memgikuti ritme gerakan dari suaminya yang bermula dari pelan lalu bertempo cepat. Khansa memegangi kedua lengan Suaminya ketika dia memompanya dengan semakin cepat.


Mereka berdua pun semakin mendekati kepada pelepasan, yang membuat keduanya saling berpelukan ketika apa yang ada di dalam mereka akhirnya terlepas.


"Arrggh ..." gumam keduanya saling berbisik, Leon sedikit lebih lama menciumi bahu istrinya itu lagi.


Di luar dapur, Carl masih menggendong Raynar, "Kemana pergi Mama dan papamu hah?"


"Tidak sopan sekali meninggalkan kita seperti ini," ujarnya lagi.


"Bagaimana jika Paman menculikmu, kita bepetualang mencari malaikat paman. Menurutmu itu akan mengasyikan bukan?"


Raynar hanya menatapi Carl dengan kedua matanya yang bulat berbola mata hitam itu.


"Apakah dia masih belun tidur?" terdengar suara Khansa berkata.


Carl mwnoleh lalu segera memberikan Raynar kepada Khansa, Carl langsung terbatuk-batuk ketika tidak sengaja melihat cecapan merah di tengkuk leher kakak iparnya itu tanda kepemilikan dari Leon atas diri Khansa.


"Aku akan membawanya ke kamar, saatnya untuk tidur," ujar Khansa.


Leon pun tiba, dengan rambut yang sedikit acak-acakan. Carl langsung saja merasa mata lajangnya itu baru saja ternodai.


Dia pun berkata, "Apa baru saja bercinta di dapur?" ujar Carl seraya mengambil beberapa helai daun Mint dari rambut Kakaknya itu.


"Ah ternyata ada yang menempel," jawab Leon dengan sambil sedikit tertawa.


"Haissh ..." ujar Carl sambil berlalu pergi ke kamarnya.

__ADS_1


Dia pun merebahkan tubuh tingginya itu di ranjang besar kamarnya, "Malaikatku, tunggu aku, ok!" gumamnya dengan nada yang sedikit menyedihkan.


Di belahan bumi yang lain, nampak Ariana sedang memilih kado untuk Flavia sebagai hadiah pertemuan pertama mereka di esok hari.


__ADS_2